Sabtu, 09 Desember 2017

Dinasti Buwaihi

 Assalamualaikum sahabat blogger miracle of islam, kembali lagi saya akan membahas tentang dinasti Islam lainnya. Seperti yang kita telah ketahui bahwa dinasti Abbasiyah mengalami kemunduran pada abad ke-10 M tepatnya pada masa khalifah ke-20 Dinasti Abbasiyah yaitu Khalifah Ar-Radhi Billah yang berkuasa pada tahun 940-944 M, dimana pada masa kepempimpinanya kekuatan politik dan militer Adidaya dari dunia islam mulai melemah. Akibat kemunduran dinasti Abbasiyah ini, mulailah muncul dinasti-dinasti kecil akibat pemisahan wilayah yang tergabung dalam dinasti Abbasiyah. Akibat adanya pemisahan wilayah dari dinasti Abbasiyah, wilayah dinasti Abbasiyah semakin mengecil, selain munculnya dinasti kecil, berdiri pula kekhalifahan Fathimiyah yang terletak di Mesir dan kekhalifahan Ummayah yang berada di Andalusia (Spanyol). Karena kondisi inilah kemudian muncul dinasti Buwaihi yang bermazhab syi’ah yang berkuasa di wilayah Persia dan Irak yang masuk kedalam dinasti Abbasiyah dan mengendalikan roda pemerintahan. Pada masa dinasti Buwaihi, khalifah dinasti Abbasiyah hanya sebagai simbol persatuan saja, sedangkan roda pemerintahan dipegang oleh amir al-umara atau Perdana Menteri yang berasal dari dinasti Buwaihi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa khalifah hanya menjadi boneka dan tidak mempunyai kekuasaan untuk memerintah kerajaan. Sedangkan amir al-umara berkuasa penuh atas pemerintahan bahkan menentukan kebijakan yang menguntungkan dinasti Buwaihi. Menurut Professor Syafiq Mughni dalam Ensiklopedia Tematis Dunia Islam ; Khalifah mengatakan “Kegagalan kekhalifahan Abbasiyah untuk merekrut dan membayar militer selama separuh pertama abad ke- 4 H/10 M yang membuat dinasti itu mengendalikan dinasti Abbasiyah”.
Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa Dinasti Buwaihi mulai dikenal dalam sejarah pada awal abad ke-4 H. Pada awalnya, dinasti Buwaihi berasal dari tiga bersaudara yang bernama Ali bin Buwaihi, Al Hasan bin Buwaihi dan Ahmad bin Buwaihi. Ketiganya adalah putra dari orang yang bernama Buwaihi. Perlu diketahui bahwa Buwaihi ini berasal dari keluarga miskin yang tinggal di suatu negeri bernama Dailam, yang kehidupan sehari-harinya bekerja sebagai Nelayan. Ketiga orang anaknya juga mengikuti kehidupan dan pekerjaan sehari-hari ayahnya sebagai nelayan. Akan tetapi dikemudian hari mereka bertiga menjadi tentara. Keluarga Buwaihi terkenal dengan keberaniannya. Watak keberanian ini memang sudah keturunan dari kakek mereka yang bergelar Abu Suja’, yang memiliki arti bapak pemberani.

Anak tertua Buwaihi, yakni Ali bin Buwaihi diangkat menjadi komandan tentara karena keberaniannya dan kecakapannya sebagai seorang pemimpin. Setelah diangkat menjadi komandan tentara , Ali bin Buwaihi membawa kedua adiknya Al-Hasan dan Ahmad pindah dari negeri mereka ke ibu kota Daulah Abbasiyah, Baghdad. Sebelum Dinasti Buwaihi berkuasa di dalam Daulah Abbasiyah, orang-orang Turki lah yang menguasai Daulah Abbasiyah. Penguasa yang terakhir dari orang-orang Turki adalah Mardawij, pada masa inilah ketiga putra Buwaihi datang untuk bekerja di bawah pimpinan Mardawij. Oleh Mardawij mereka diterima dengan baik, karena mereka memiliki kecakapan yang tinggi dan ketiganya diangkat menjadi panglima untuk wilayah-wilayah yang luas, dan kepada mereka diberi gelar sultan.   
‘Ali bin Buwaihi yang merupakan putra Buwaihi tertua  diberi kekuasaan untuk seluruh wilayah Persia, Al-Hasan adik ‘Ali- diberi kekuasan untuk wilayah Ray,  Hamadzan dan Isfahân, sedangkan Ahmad bin Buwaihi  yang paling muda diberikan kekuasaan untuk wilayah Ahwaz dan Kirman. Pemberian kekuasaan ini tentunya memberikan peluang bagi Dinasti Buwaihi untuk mendapatkan kekuasaan lebih dikemudian hari. Terlebih lagi selain dipercaya menjadi penguasa wilayah, mereka juga merangkap menjadi panglima. Ahmad bin Buwaihi yang pada saat  itu ibu kota Baghdad berada dalam kekuasaannya selalu mencari peluang yang baik untuk menduduki Baghdad yang menjadi tempat kedudukan khalifah. Kota ini dikawal ketat oleh sejumlah pengawal yang dipimpin oleh Tauzon, seorang diktator militer yang bergelar Amîr al-Umarâ’. Pada masa khalifah al-Muttaqiy, Ahmad bin Buwaihi pernah diminta oleh khalifah datang ke Baghdad guna melindungi dirinya, karena pada waktu itu terjadi keretakan hubungan antara khalifah dengan Tauzon. Pada tahun 332 H ia berangkat menuju Baghdad, namun sebelum masuk kota itu ia dicegat oleh Tauzon, sehingga ia gagal masuk ke sana.
Pada tahun 334 H Tauzon meninggal dunia, sedangkan wakilnya yang bernama Ibn Syairazad sedang berada di luar kota Baghdad. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Ahmad ibn Buwaihi untuk memasuki Baghdad, kehadirannya diterima baik oleh Khalifah al-Mustakfiy yang ketika itu menghadapi bahaya besar dari orang-orang Turki. Dalam kondisi ini yang terbaik baginya adalah meminta perlindungan kepada Ahmad ibn Buwaihi yang terkenal gagah dan berani dengan cara mengangkatnya sebagai penguasa atas nama khalifah. Sehingga orang-orang Turki yang dianggap berbahaya tidak berpeluang merebut kedudukan khalifah. Sebagai penghargaan terhadap keluarga Buwaihi, khalifah memberikan gelar kepada Ahmad bin Buwaihi dengan Mu’îz al-Daulah, kepada Ali bin Buwaihi dengan Imâd al-Daulah dan kepada Hasan bin Buwaihi dengan Rukn al-Daulah. Mulai saat itu resmilah keluarga Buwaihi sebagai pemegang kekuasaan dalam Daulah Abbasiyah. Selanjutnya kekuasaan dipegang secara turun temurun oleh keluarga ini hingga mereka dijatuhkan oleh Bani Saljuk pada tahun 447 H/ 1055 M.


Selama dinasti Buwaihi berdiri, terdapat sebelas khalifah yang pernah memimpin dinasti Buwaihi, berikut ini nama-nama khalifah dinasti Buwaihi :
1.      Ahmad Ibn Buwaihi (Mu’îz al-Daulah) tahun 334-356 H
2.      Bakhtiar (’Îzz al-Daulah) tahun 356-367 H
3.      Abu Suja’ ’Khusru (‘Adhd al-Daulah) tahun 367-372 H
4.      Abu Kalyajar al-Marzuban (’Sham-sham al-Daulah) tahun 372-376 H
5.      Abu al-Fawaris (’Syaraf al-Daulah) tahun 376-379 H
6.      Abu Nash Fairuz (’Baha’ al-Daulah) tahun 379-403 H
7.      Abu Suja’ (Sultan al-Daulah) tahun 403-411 H
8.      Musyrif al-Daulah tahun 411-416 H
9.      Abu Thahîr (’Jalal al-Daulah) tahun 416-435 H
10.  Abu Kalyajar al-Marzuban (Imad al-Daulah) tahun 435-440 H
11.  Abu Nashr (’Kushr al-Malik al-Rahîm ) tahun 440-447 H


Hancurnya dinasti Buwaihi
Peperangan antara Baha’, Syaraf dan saudara ketiga mereka, Shamsham Al Dawlah, juga pertikaian antar anggota-anggota kerajaan untuk menentukan penerus mereka serta fakta bahwa Buwaihi berkecenderungan Syi’ah sehingga sangat di benci oleh orang-orang Baghdad yang Sunni, menjadi sebab-sebab penting bagi keruntuhan dinasti Buwaihi. Pada tahun 1055, Raja Saljuk yang bernama Thughril Beg memasuki Baghdad dan megakhiri riwayat kekuasaan Buwaihi. Raja yang terakhir dari dinasti ini di Irak yang bernama Al Malik Al RAhim (1048-1055), mengakhiri hidupnya dalam kurungan.

Jumat, 10 November 2017

Dinasti Fatimiyah


Assalamualaikum sahabat blog miracle islam J kembali lagi kita akan membahas salah satu dinasti islam yang pernah berdiri didunia. Kali ini kita akan membahas sejarah lengkap tentang dinasti Fatimiyah. Pasti kalian semua penasaran bukan? Mari kita simak pembahasan dibawah ini.
Perlu kalian ketahui, bahwa dinasti Fatimiyah awalnya merupakan sebuah dinasti kecil yang melepaskan diri dari daulah Abbasiyah di Baghdad. Akan tetapi pada perkembangan selanjutnya, dinasti Fatimiyah menjadi salah satu dinasti terbesar islam yang pernah berdiri di dunia loh. Hal ini dibuktikan bahwa dinasti ini mampu berdiri hingga dua abad lamanya sebelum akhirnya dinasti ini runtuh oleh serangan Salahudin Al-Ayyubi yang merupakan seorang jenderal dan pejuang muslim kurdi dari Tirkit (Irak) dan juga merupakan pendiri dinasti Ayyubiyah.
Nama Fatimiyah yang terletak pada dinasti ini berasal dari nama Fatimah yang merupakan anak dari Nabi Muhammad SAW. Nama Fatimah diambil karena para pengikut dinasti ini, mengikuti silsilah keturunan Fatimah Az-zahra. Dinasti Fatimiyah juga merupakan dinasti beraliran syi'ah yang mengikuti konsep syi'ah keturunan dati Ali bin Abi Thalib dan Fatimah. Selain dikenal dengan nama dinasti Fatimiyah, dinasti ini juga dikenal dengan nama dinasti Ubaidah yang diambil dari nama pendirinya yaitu Abu Muhammad Ubaidillah Al-Mahdi (297 M-332 M). Terbentuknya dinasti Fatimiyah membuat dunia islam berada dibawah 3 penguasa besar, yaitu Dinasti Abbasiyah yang terletak di Baghdad, Dinasti Ummayah yang terletak di Cordova dan Dinasti Fatimiyah yang terletak di Al-Mahdiah.
Abu Muhammad Ubadillah Al-Mahdi merupakan pendiri dinasti Fatimiyah sekaligus khalifah pertama dinasti Fatimiyah. Selama kurang lebih 25 tahun memimpin dinasti Fatimiyah ( 909 M- 934 M) ia membuktikan bahwa dirinya merupakan penguasa cakap dalam memimpin.  Hal ini dibuktikan dengan memperluas wilayah kekuasannya hampir meliputi seluruh wilayah Afrika, mulai dari Maroko yang dikuasai Idrisiyah hingga perbatasan Mesir. Pada tahun 914, dia berhasil menguasai Iskandariyah, dua tahun berikutnya wilayah delta berada dalam kekuasaannya. Kemudian dia mengirimkan seorang gubernur Baru dari suku Kitamah ke Sisilia dan menjalin pertemanan dengan pemberontak Ibn Hafshun di Spanyol. Malta, Sardinia, Corsica, Balearic dan pulau-pulau lainnya pernah merasakan kedahsyatan armada yang diwarisi dari dinasti Aghlabiah. Sekitar 920, ia memindahkan  pusat pemerintahannya ke ibukota baru al Mahdiyah yang didirikan di pesisir Tunisia, sekitar 27,2 kilometer ke arah tenggara kota Kairawan, dan dinamai dengan namanya sendiri.
Setelah Abu Muhammad Ubaidillah Al-Mahdi wafat, kepempimpinan dinasti Fatimiyah diambil alih oleh putrannya yang bernama Abu Al-Qasim Muhammad Al-Qaim yang memerintah pada tahun 934 M - 946 M. Selama Abu Al-Qasim memimpin, yang menjadi fokus kebijakan pemerintahannya adalah perluasan wilayah. Hal ini dibuktikan pada tahun 934 M - 935 M ia mampu menaklukan Genoa dan sepanjan pesisir Calabria. Abu Al-Qasim juga berencana menaklukan Mesir, akan tetapi usahanya tersebut tidak membuahkan hasil. Penaklukkan Mesir baru berhasil dilakukan Abu Tamim Ma’ad al-Mu’iz yang merupakan cucu dari Abu Al-Qasim Muhammad Al-Qaim. Abu Tamim Ma'ad Al-Muiz berkuasa pada tahun 952 M - 975M. Penyerbuan ke Mesir itu didahului dengan penyerbuan pantai Spanyol, yang pada saat itu dipimpin oleh Al-Nashr. Tentara Fatimiyah kemudian maju menuju Atlantik tiga tahun kemudian. Hingga pada tahun 969 M Mesir dapat direbut dari kekhalifahan dinasti Ikhsidiyah.
Pahlawan penting dalam penyerbuan ini adalah Jawhar al-Shiqilli berkebangsaan Sisilia atau Yunani.
Perlu diketahui dinasti Ikhsidiyah  merupakan bagian Dinasti Abbasiyah yang berkuasa di Mesir dan Suriah 323 M - 58 H/935 M - 69 H, yang saat ditaklukkan  oleh Jenderal Fathimiyah Jawhar pada tahun 969 M, ikhsidiyah  berpusat di Fusthat dipimpin oleh Ahmad ibnu Kafur yang lemah (968-969).
Sejak kemenangannya atas ibu kota Fusthat pada tahun 969, Jawhar kemudian mendirikan Masjid Agung al-Azhar pada tahun 972 M, yang dikemudian hari oleh Khalifah Abu Al- Manshur Nizar Al-Aziz dikembangkan menjadi universitas besar. Perlu diketahui bahwa ketika Abu Al- Manshur nizar Al-Aziz memimpin  dinasilti Fatimiyah mencapai masa kejayaannya. Dimana pada saat itu, dinasti Fatimiyah diliputi dengan kedamaian. Bahkan Khalifah Abu al-Manshur Al-Aziz selalu diagungkan di setiap khutbah jum'at. Kemudian Jawhar membuat markas baru dengan nama al-Qahirah. Sejak 973 M., kota ini Kairo modern kemudian menjadi pusat kota dinasti Fatimiyah. Pada tahun yang sama (969 M.), setelah merasa kedudukannya di Mesir kokoh, Jawhar melirik negara tetangganya Suriah dan mengirimkan seorang panglima perang yang berhasil menaklukkan kota Damaskus.
  
Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa puncak kejayaan dinasti Fatimiyah  dicapai pada masa pemerintahan Abu al-Manshur Nizar al-Aziz (975 M- 996 M). Pada saat itu kekuasaan dinasti Fatimiyah terbentang dari Atlantik hingga Laut Merah, Yaman, Mekah, Damaskus, bahkan Mosul. Ia adalah khalifah Fathimiyah yang kelima dan khalifah pertama yang memulai pemerintahan di Mesir. al-Aziz berhasil menempatkan dinasti Fatimiyah sebagai negara Islam terbesar di kawasan Mediterania Timur, bahkan berhasil menenggelamkan pamor penguasa Bagdad. al-Aziz rela menghabiskan dua juta dinar untuk membangun istana yang tidak kalah megah dari istana Abbasiyah. al-Aziz merupakan khalifah  yang paling bijaksana dan murah hati diantara para khalifah Fatimiyah.14
Kemakmuran dan kejayaan dinasti Fatimiyah dapat dilihat  dari keadaan pekerja istana kerajaan pada saat itu berjumlah 12.000 orang pelayan, 10.000 pengurus kuda dan 8.000 pengurus yang lain. Kedamaian pada saat itu tergambar dengan tidak terkuncinya toko perhiasan dan toko money changer,  bahkan khalifah al-Aziz memiliki 20.000 rumah di ibu kota yang dibangun menggunakan batu bata dengan ketinggian lima atau enam lantai.
Setelah Abu al-Manshur Nizar Al-Aziz wafat dan digantikan oleh anaknya yaitu  Abu ‘Ali al-Mansur al-Hakim bi-Amr Allah (996M – 1021 M) yang pada saat menggantikan ayahnya masih berumur belasan tahun. Pada saat penggatian kekuasaan inilah yang menjadi titik awal kegoyahan dinasti Fatimiyah. Pada saat Abu Ali al-Mansur al-Hakim bi-Amr Allah menjadi khalifah, ia berada dibawah pengaruh seorang gubernur yang bernama Barjawan yang menjadi tokoh utama dalam kepempimpinan khalfiah Abu Ali al-Mansur al-Hakim. Akan tetapi dikemudain hari, Barjawan dihukum mati oleh al-Hakim karena penyalahgunaan kekuasaan. Selama menjabat, al-Hakim membuat kebijakan-kebijakan yang menakutkan. Pada saat ia memerintah, ia membunuh beberapa wasir, menghancurkan beberapa gereja, menghancurkan kuburan suci umat Kristen (1009 M.), menetapkan aturan ketat terhadap non-Islam dengan menjadikan Islam eksklusif dari agama lain seperti pakaian dan identitas agama. Aturan-aturan yang merugikan non-Islam diberlakukan sehingga mulailah timbul ketidaksenangan.


Puncak kemunduran dinasti Fatimiyah terjadi pada khalifah Fatimiyah yang keempat belas yaitu al-Adhid, berumur sembilan tahun ketika naik tahta. Pada masa ini kehidupan masyarakat yang sangat sulit, sumber kehidupan tinggal aliran sungai Nil, kelaparan dan wabah penyakit yang sering terjadi, akhirnya berimplikasi pada pajak yang tinggi dan pemerasan untuk memuaskan kebutuhan khalifah dan angkatan bersenjatanya yang rakus. Keadaan semakin parah dan rumit dengan datangnya pasukan perang Salib dan serangan dari Almaric, Raja Yerusalem pada tahun 1167 M telah berdiri di pintu gerbang Kairo. Akhirnya Shalahuddin al-Ayyubi pada tahun 1171 menurunkan khalifah Fatimiyah yang terakhir dari tahtanya.27  Setelah menaklukkan khalifah Fatimiyah terakhir Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi mendirikan Dinasti Ayyubiyah yang berpusat di Kairo Mesir dari tahun 1174 M-1252 M










  Berikut ini adalah nama-nama khalifah yang pernah memimpin dinasti Fatimiyah yang berpusat di Al-Mahdiyah :
  1. Khalifah Ubaidilah Al-Mahdi (909-934), pendiri Dinasti Fatimiyah.
2. Abu al-Qasim Muhammad al-Qa’im bi Amr Allah bin al-Mahdi Ubaidillah (934-
    946).
3.  Isma’il al-Mansur bi-llah (946-952).
4.  Abu Tamim Ma’add al-Mu’iz li-Din Allah (952 M – 975) M. Mesir ditaklukkan
     semasa pemerintahannya.
5.  Abu Mansur Nizar al-‘Aziz bi-llah (975 M – 996 M).
6.  Abu ‘Ali al-Mansur al-Hakim bi-Amr Allah (996M – 1021 M).
7.  Abu’l-Hasan ‘Ali al-Zahir li-I’zaz Din Allah (1021 M – 1036 M).
8.  Abu Tamim Ma’add al-Mustanhir bi-llah (1036 M – 1094 M).
9.  Al-Musta’li bi-Allah (1094 M-1101 M).
10.  Al-Amir bi Ahkam Allah (1101 M – 1130 M)
11.  Abd al-Majid (1130 M – 1149 M).
12.  Al-Wafir (1149 M – 1154 M).
13.  Al-Fa’iz (1154 M – 1160 M).
14.  Al-‘Adid (1160 M – 1171 M)
Pada masa kekhalifahan Al-Adid, dinasti Fatimiyah mengalami kehancuran setelah berdiri kurang lebihh dua abad lamanya.

Selasa, 10 Oktober 2017

Dinasti Hamdaniyah



Assalamualaikum sahabat miracle islam J, berjumpa lagi dengan blog kesayangan kita yang membahas sejarah-sejarah dinasti islam yang pernah berdiri didunia. Kali ini penulis akan membahas salah satu dinasti dari tiga dinasti kecil yang berada di kota Baghdad, yakni Dinasti Hamdaniyah. Seperti yang telah penulis sebutkan, dinasti Hamdaniyah merupakan dinasti kecil yang berdiri di bagian barat kota Baghdad, dua lainnya adalah dinasti Thuluniyah (868-901M) yang berkuasa di Mesir dan dinasti Ikhsidiyah (935-965M) yang berkuasa di Turkistan. Sedangkan dinasti Hamdaniyah sendiri berkuasa di Allepo dan Mosul. Wilayah kekuasaan dinasti Hamdaniyah yang berada di Allepo (Halb) dikenal sebagai daerah yang melindungi kesusatraan Arab dan Ilmu pengetahuan. Hal ini dibuktikan dengan muculnya beberapa tokoh cendekiawan besar seperti Abi al Fath dan Utsman Ibn Jinny yang menggeluti bidang Nahwu, Abu Thayyib al Mutannabi, abu Firas Husain Ibn Nashr ad daulah, Abu A’la al Ma’ari, dan Syaif  ad Daulah sendiri yang mendalami ilmu sastra, serta lahir pula filosof besar, yaitu Al- Farabi. Dinasti Hamdaniyah berdiri pada tahun 972-1152M. Dinasti ini muncul sebagai tandingan dinasti Ikhsidiyah yang berada di Turkistan. Dinasti ini didirikan oleh Hamdan bin Hamdun, yang merupakan seorang Amir dari suku Taghlib dengan gelar Abu Alhaijja. Putranya bernama Husain bin Hamdan yang merupakan panglima dari pemerintahan Abbasiyah. Hamdan bin Hamdun merupakan gubernur Mosul (Irak) yang diangkat pada tahun 905M oleh khalifah Al-Muktafi. Dalam hidupnya Hamdan pernah ditangkap oleh Khalifah dinasti Abbasiyah karena beraliansi dengan kaum khawarij untuk menentang kekhalifahan dinasti Abbasiyah. Akan tetapi Hamdan bin Hamdun diampuni oleh khalifah Abbasiyah karena putrannya menyelamatkannya. Setelah Haija wafat, tahta kerajaan Mosul diberikan kepada kedua putranya yaitu Hasan bin Abu Haijja yang bergelar Nashir ad-Daulah dan Ali bin Abu Haijja yang bergelar Syaif ad-Daulah. Ali bin Abu Haijja inilah yang berhasil menguasai daerah Halb dan Hilms yang merupakan daerah kekuasaan dinasti Ikhsidiyah dan disana ia mendirikan dinasti Hamdaniyah yang berkuasa di Halb.



Para penguasa dinasti Hamdaniyah tercatat bersimpati dengan ideology syi’ah, akan tetapi syi’ah moderat. Jauh sebelum terbentuknya dinasti Hamdaniyah, mereka telah melakukan upaya-upaya pemberontakan dan juga makar kepada kekhalifahan Abbasiyah yang pada saat itu dipimpin oleh khalifah Al-Mu’tamid, akan tetapi usaha mereka terus gagal dan tidak membuahkan hasil. Akhirnya pada saat kekhalifahan Al-Muqtadir, usaha mereka pun membuahkan hasil. Pada masa kekhalifahan Al-Muqtadir, tiga bersaudara keturunan Hamdan berhasil memperoleh jabatan-jabatan penting di dalam pemerintahan Al-Muqtadir, mereka yaitu : Abdullah bin Hamdan yang diangkat menjadi gubernur Mosul, Said bin Hamdan yang diangkat menjadi gubernur Nahwad, dan Ibrahim bin Hamdan yang diangkat menjadi gubernur suku-suku Rabi’ah. Gubernur Mosul yaitu Abdullah bin Hamdan memiliki anak yang memiliki potensi menggantikan dirinya, yaitu Abu Muhammad. Sedangkan anak lainnya Husein bin Abdullah di tempatkan di Halb (Allepo). Keduannya membuat dinasti Hamdaniyah berkembang cukup pesat, Abu Muhammad melakukan perluasan dan pertahanan daerah kekuasaanya dari bangsa Romawi dengan cara mengajukan wilayah utara Syiria menjadi wilayah kekuasaannya kepada penguasa khalifah Ikhsidiyah dengan tujuan mempermudah pengawasan apabila terjadi serangan dari bangsa Romawi. Dinasti Ikhsidiyah menyetujui hal itu dengan syarat dinasti Hamdaniyah tidak boleh melakukan penyerangan ke daerah Damaskus yang merupakan wilayah kekuasaan dynasti Ikhsidiyah. Selain itu dinasti Ikhsidiyah juga membayar upeti yang cukup banyak kepada dinasti Hamdaniyah. Selain itu, Abu Muhammad juga dapat membuat Baghdad tunduk padanya selama kurang lebih satu tahun. Dimana pada saati itu Bagdad berada pada tangan dinasti Buwaih. Abu Muhammad berhasil mengusir dinasti Buwaih dari Baghdad, akan tetapi setelah dinasti Buwaih berhasil memperoleh kekuatannya kembali, mereka pun balik mengusir dinasti Hamdaniyah dari Baghdad. Pada tahun 356M, Abu Muhammad wafat dan dua tahun kemudian , saudaranya Husein bin Abdullah juga wafat pada tahun 358M. Dengan meninggalnya dua pemimpin besar dinasti Hamdaniyah ini, kejayaan dinasti Hamdaniyah mulai redup. Karena para penguasa selanjutnya saling memperebutkan kekuasaan, sehingga menyebabkan lemahnya struktur pemerintahan dan sendi-sendi militenya.



           Terdapat beberapa factor yang menyebabkan dinasti Hamdaniyah mengalami kemunduran.
1.      Pertama, meskipun dinasti ini berkuasa di daerah yang cukup subur dan makmur serta memiliki pusat perdagangan yang strategis, sikap kebaduiannya yang tidak bertanggung jawab dan destruktif tetap ia jalankan sehingga rakyat menderita.
2.       Kedua, bangkitnya kembali Dinasti Bizantium di bawah kekuasaan Macedonia yang bersamaan dengan berdirinya dinasti Hamdaniyah di Suriah menyebabkan dinasti Hamdaniyah tidak bisa menghindari invasi serangan Bizantium yang energik sehingga Aleppo dan Himsh terlepas dari kekuasaannya.
3.       Ketiga, kebijakan ekspansionis Fatimiyah ke Suriah bagian selatan, sampai mengakibatkan terbunuhnya Said ad Daulah yang tengah memegang tampuk kekuasaan Hamdaniyah. Hingga dinasti ini jatuh ke tangan dinasti Fatimiyah



Sabtu, 09 September 2017

Dinasti Thulun

Assalamualaikum sahabat blog miracle islam J, pada kesempatan kali ini kami akan membahas kembali, salah satu dinasti islam yang pernah berdiri. Semoga sahabat blog miracle islam tidak bosan dengan sejarah dinasti-dinasti islam. Karena dengan mengetahui sejarah dinasti-dinasti tersebut, kita dapat menambah wawasan pengetahuan kita tentang islam pada zaman dahulu.


Dinasti Thulun, merupakan dinasti yang memegang kekuasaan di daerah Mesir dan Suriah. Dinasti ini muncul pada saat dinasti Abbasiyah yang terletak di Baghdad masih berdiri. Hal ini tentunya memiliki kesamaan dengan dinastiaAghlabiyah yang terletak di Maroko dan juga dinasti Samaniyah yang terletak di Iran Raya dan Asia tengah yakni bersama-sama berdiri saat dinasti Abbasiyah masih berkuasa. Akan tetapi dinasti Thulun berbeda dengan dinasti-dinasti islam lainnya yang berdiri, dimana dinasti-dinasti tersebut masih mengakui serta tunduk pada kekuasaan dinasti Abbasiyah, akan tetapi dinasti Thulun merupakan dinasti yang berdiri secara independent artinya terlepas dari kekhalifahan dinasti Abbasiyah.
masjid Ahmad bin Thulun (muslimedianews.com)

peta kekuasaan dinasti Thulun (http://islamicprabuwayangkomputer.blogspot.co.id)

Dinasti Thulun berdiri pada tahun 254 H/868 M yang di dirikan oleh Ahmad bin Thulun. Nama Thulun sendiri berasal dari nama ayah pendirinya yakni Thulun yang merupakan seorang budak yang berdarah Mongol. Nama Thulun sendiri memiliki arti “Kemunculan yang sempurna” dalam Bahasa Turki. Awal mulanya Thulun merupakan budak dari Nuh bin Asad, akan tetapi kemudian Thulun di hadiahkan kepada Khalifah Abbasiyah yakni Al-Ma’mun pada tahun 816 M, bersamaan dengan pemuda-pemuda lainnya oleh gubernur Bukhara di Transoxiana. Thulun memiliki seorang anak yaitu Ahmad, Ahmad sendiri diajari bahasa Arab, Alquran dan hukum Islam secara mendalam. Dia mengunjungi perbatasan profinsi Tarsus beberapa kali untuk belajar di bawah seorang sarjana special hingga dia sendiri menjadi ahli dalam studi Islam dan juga seni dalam militer. Karena ketangkasan dan keprofesionalannya dalam militer akhirnya al-Makmun mengangkatnya menjadi Rais al-Hars (kepala pengawal istana). Setelah Thulun wafat, istrinya dikawini oleh Eimir Beibek. Dengan bantuan Emir Baibek, Ahmad bin Thulun diangkat menjadi gubernur di daerah Mesir dan Libya. Setelah beberapa lama menjadi Gubernur, Ahmad pun mulai memperkukuh kedudukannya sebagai penguasa di Mesir. Ahmad pun membeli beberapa orang budak bangsa Dailam dan bangsa Zanji (Negro), secara terang-terangan Ahmad mengutaran maksudnya mendirikan kekuasaan tersendiri yang terlepas dari kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad. Hal ini pun direalisasikan pada saat khutbah Jum’at, yang mana biasannya di ucapkan pujian kepada khalifah Abbasiyah saat khutbah, kemudian diganti menjadi pujian kepada Ahmad bin Thulun sebagai raja Mesir. Tak hanya itu, hasil pajak pun tidak dikirimkan lagi ke Baghdad. Kekayaan Mesir pun hanya di gunakan untuk pembangunan Mesir itu sendiri. Ia juga membangun kota Qota’i di sebelah utara Fustat, sebagai ibukota baru, dengan meniru model kota Samarra yang berada di utara Baghdad . Ia bangun rumah sakit besar. Rumah sakit yang pertama muncul di Mesir dan ia bangun Mesjid Agung yang dikenal dengan nama Jami’ Ibnu Thulun yang pada bagian dalamnya terukir lebih kurang sepertujuh belas dari seluruh ayat-ayat Alquran dengan huruf Arab Kufi. Banyak bangunan-bangunan megah ia dirikan untuk menambah semaraknya kota yang menjadi tandingan bagi kota Samarra itu.
Selain melakukan pembangunan, Ahmad bin Thulun juga melakukan perluasan daerah. Ia menaklukkan Damaskus, Homs, Homat, Aleppo, dan Antiokia (semuanya di Syam dan Syiria). Dengan demikian ia bukan saja membuat Mesir merdeka (berdiri sendiri) tetapi bahkan berkuasa atas tanah Syam, suatu keadaan yang tidak pernah terjadi setelah setelah Mesir ditaklukan Persia pada 340 SM. Untuk memudahkan usaha kontrol atas tanah Syam ia membangun armada laut yang kuat dan pangkalan angkatan laut di Akka (Syam). Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad yang mengetahui lepasnya Mesir dari kekuasaanya, mengirimkan pasukan untuk menaklukkan kembali Mesir. Tetapi usaha tidak berhasil karena kedudukan Ahmad bin Thulun telah kuat, ditambah dengan simpati rakyat Mesir kepadanya. Sebab selama ini mereka membayar pajak yang amat tinggi kepada Baghdad. Setelah kedudukannya kuat di Mesir, tahun 868 memproklamirkan berdirinya Dinasti Thuluniyah. Dengan di proklamirkan berdirinya dinasti Thulun, mesir menjadi Negara merdeka yang tidak menjadi bagian provinsi ataupun bagian dari imperium Romawi setelah 9 Abad lama nya.

Kemajuan Dinasti Thulun
Khalifah pertama dinasti Thulun  yakni,Ahmad bin Thulun mecurahkan perhatian yang sangat besar di bidang perekonomian. Hal ini dapat di lihat dengan pembangunan-pembanguna sebagai berikut :
1.      Memperbaiki tempat ukuran air sungai Nil (nilometer) di pulau Raudah.
2.      Bendungan dan seluruh irigasi ditambah, sehingga areal pertanian menjadi lebih luas.
3.      Terdapat industri senjata, sabun, gula, kain, dan lain-lain.
4.       Jembatan, terusan, dan armada perhubungan darat, sungai, dan laut diperbesar demi meramaikan dan melancarkan lalu lintas perdagangan dalam seluruh wilayah yang dikuasainya.
5.       Pada masjid agung itu disediakan dokter-dokter khusus setiap hari jum’at untuk mengobati orang-orang sakit dengan cuma-cuma.
6.      Membangun banyak Mustasyfa yakni rumah sakit umum untuk menampung para pasien dari segala agama dan aliran dan memperoleh perawatan dengan cuma-cuma sampai sehat.




Melalui kerja keras nya, Ahmad bi Thulun berhasil mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Pada 904 M (270 H) ia wafat dengan meninggalkan nama yang harum sebagai seorang hafiz, negarawan pemberani, pemurah serta dekat dengan ulama dan rakyat. Dengan wafatnya Ahmad bin Thulun, pemegang kekuasaan dnasti Thulun diberikan kepada putranya, yaitu Khumarawaih yang pada saat itu masih berusia 20 tahun. Tak lama setelah diangkat menggantikan ayahnya, Khumarawaih mendapat tantangan berat. Damaskus diserang oleh pasukan gabungan (terdiri dari pasukan al-Muwaffiq, saudara khalifah Baghdad, pasukan Ibnu Kindag, gubernur Mosul dan pasukan Muhammad bin Abi Sibag, gubernur Armenia). Amir Khumarawaih maju memimpin sendiri pasukannya untuk merebut kembali Damaskus pada 907 M (273 H), dan berhasil memaksa al-Muwaffiq dan khalifah Mu’tamid untuk mengakui kedaulatan dinasti Thuluniyah di Mesir dan Syam. Kekuasaan Khumarawaih semakin mantap dan luas setelah musuh-musuh utamanya meninggal (al-Muwaffiq dan Ibnu Kindag pada 912 m (278 H) dan khalifah Mu’tamid pada tahun berikutnya).
Dengan kekayaan yang melimpah, Khumarawaih mendirikan lagi gedung-gedung megah dan taman-taman yang indah. Ia gunakan uang antara lain 900.000 dinar pertahun untuk pembiayaan pasukan dan 23.000 dinar perbulan untuk menyediakan makanan gratis bagi para fakir dan orang-orang lemah melalui dapur-dapur umum. Dalam istananya yang megah terdapat Golden Hall, aula dengan dinding yang berlapis emas dan dihiasi dengan gambar para istrinya dan gambar para penyanyi istana. Istananya terletak di tengah taman yang penuh dengan aneka bunga yang tersusun sedemikian rupa sehingga membentuk ungkapan-ungkapan berbahasa Arab. Sebuah kolam renang berlapis perak di halaman istana, kebun binatang dan istana burung ikut melengkapi semaraknya istana dinasti Thuluniyah.

Kemunduran Dinasti Thulun

Kematian Khumarwaihi pada 895 merupakan titik awal kemunduran Dinasti Thuluniyah ini. Persaingan yang hebat antara unsur-unsur pembesar dinasti telah memecah persatuan dalam dinasti. Amir yang ketiga (Jaish Ibnu Asakir) dilawan oleh sebahagian besar pasukannya dan dapat disingkarkan pada 896. Adiknya yang baru berusia 14 tahun, Harun Khumarwaihi diangkat sebagai amir yang keempat. Kelemahan yang sedemikian rupa mengantarkan dinasti ini berakhir setelah amirnya yang kelima yaitu Syaiban Ibnu Ahmad Ibnu Thulun (hanya memerintah 12 hari) menyerah ke tangan pasukan Bani Abbas yang menyerang Mesir pada 905 dengan demikian berakhirlah riwayat Dinasti Thuluniyah.



Senin, 07 Agustus 2017

Dinasti Safawi


Assalamualaikum sahabat miracle of islam, pada kesempatan kali ini kita akan membahas kembali salah satu dinasti islam yang pernah berdiri di Persia, yakni Dinasti Safawi. Perlu diketahui, Dinasti Safawi merupakan salah satu dari tiga kerajaan Islam yang berkembang cukup cepat setelah adanya kemunduran politik islam yang turun secara drastis akibat runtuhnya ke khalifahan dinasti Abbasiyah di Baghdad, akibat serangan bangsa Mongol. Dinasti ini berdiri pada tahun 1252-1334 M yang diambil dari nama pendirinya yaitu Safi al-Din. Pada awalnya, dinasti safawi berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di kota Ardabil, Azerbajian. Nama safawi itu terus di pertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Setelah gerakan politik tersebut berhasil mendirikan kerajaan, nama Safawi pun masih terus digunakan sebagai Dinasti Safawi.
Bersamaan dengan berdirinya tarekat Safawi, berdiri pula kerajaan Usmani yang terletak di Turki. Pada perkembanganya kerajaan Safawi sering berselisih dengan kerajaan Usmani. Diawal artikel, dijelaskan pada saat Dinasti Abbasiyah runtuh, terdapat tiga kerajaan islam yang berkembang cukup pesat, ketiga kerajaan tersebut adalah kerajaan Turki Usmani, Mughal di India dan Safawi di Persia. Kerajaan Safawi mempunyai perbedaan dari dua kerajaan islamlainya. Kerajaan Safawi menyatakan bahwa kerajaan tersebut menganut islam aliran syi’ah dan syi’ah itu dijadikan sebagai mazhab Negara. Sehingga kerajaan Safawi dianggap sebagai peletak dasar pertama terbentuk Negara Iran.
Safi al-Din (pendiri dinasti safawi) merupakan keturunan Imam syi’ah yang keenam yaitu, “Musa al-Kazim”. Berdirinya tarekat Safawi dilatarbelakangi dengan munculnya orang-orang ingkar dan ahli bid’ah. Sehingga tarekat Safawi bertujuan untuk memerangi orang-orang tersebut. Setelah tarekat ini mengubah bentuk menjadi gerakan keagamaan, tarekat ini menjadi semakin penting. Sebelumnya tarekat ini merupakan pengajian tasawuf murni. Tarekat ini  sangat berpengaruh di Persia, Syria dan Anatolia. Di Negara-negara di luar Ardabil, Safi menempatkan seorang wakil yang memimpin murid-muridnya. Wakil-wakil tersebut diberi gelar Khalifah. Dalam perkembangannya Bangsa Safawi (tarekat Safawiyah) sangat fanatik terhadap ajaran-ajarannya. Hal ini ditandai dengan kuatnya keinginan mereka untuk berkuasa karena dengan berkuasa mereka dapat menjalankan ajaran agama yang telah mereka yakini (ajaran Syi'ah). Karena itu, lama kelamaan murid-murid tarekat Safawiyah menjadi tentara yang teratur, fanatik dalam kepercayaan dan menentang setiap orang yang bermazhab selain Syiah.
Pada masa Juneid (raja kelima dinasti safawi), tarekat ini mulai masuk kedalam dunia politik. Masuknya tarekat Safawi ke dalam dunia politik menimbulkan konflik dengan para penguasa Kara Konyulu atau yang di kenal dengan Domba Hitam yang merupakan salah satu  suku Turki yang berkuasa di wilayah tersebut. Dalam konflik tersebut, Juneid kalah dan diasingkan ke suatu tempat. Di tempat baru ini dia mendapat perlindungan dari penguasa diyar bakr, ak-Koyunlu (domba putih), yang juga merupakah salah satu suku bangsa Turki. Ia tinggal di istana Uzun Hasan, yang ketika itu menguasai sebagian besar Persia.

Selama dipengasingan, Juneid tidak tinggal diam. Ia dapat menghimpun kekuatan untuk kemudian beraliansi secara politik dengan uzun hasan. Ia juga berhasil mempersunting salah seorang saudara perempuan Uzun hasan. Pada tahun 1459M. Juneid mencoba merebut Ardabil tetapi gagal. Pada tahun 1460M, ia mencoba merebut Sircasia tetapi pasukan yang dipimpinnya dihadang oleh tentara Sirwan. Ia sendiri terbunuh dalam pertempuran tersebut. Ketika itu anak Juneid yaitu Haidar  masih kecil dan dalam asuhan uzun hasan. Karena itu kepemimpinan gerakan safawi baru bisa diserahkan kepadanya secara resmi pada tahun 1470M.  Setelah Haidar tumbuh dewasa, Haidar mengawini salah satu anak dari Uzun Hasan. Pernikahan tersebut membuat hubungan Haidar dan Uzun Hasan semakin erat. Dari perkawinan itu lahirlah Ismail yang dikemudian hari menjadi pendiri kerajaan Safawi di Persia.

Pada tahun 1476M, Ak Koyunlu meraih kemenagan perang terhadap Kara Koyunlu, hal ini membuat gerakan militer Safawi yang dipimpin oleh Haidar sebagai ancaman politik oleh Ak Koyunlu untuk meraih kekuasaan selanjutnya. Padahal, sebagaimana telah disebutkan, Safawi adalah sekutu Ak Koyunlu. Ak Koyunlu berusaha melenyapkan kekuatan militer dan kekuasaan  Safawi karena itu, ketika Safawi menyerang  wilayah Sircassia dan pasukan Sirwan. AK koyunlu mengirimkan bantuan militer kepada Sirwan, sehingga pasukan Haidar kalah dan Haidar sendiri terbunuh dalam peperangan itu. Ali, putra dan pengganti Haidar, didesak oleh bala tentaranya untuk menuntut balas atas kematian ayahnya, terutama terhadap AK koyunlu, tetapi Ya’kub pemimpin Ak koyunlu dapat menangkap dan memenjarakan Ali bersama saudaranya Ibrahim dan Ismail serta ibunya, di fars selama empat setengah tahun (1489-1493M). Mereka dibebaskan oleh Rustam, putra mahkota Ak koyunlu, dengan syarat mau membantunya memerangi saudara sepupunya. Setelah saudara sepupu Austam dapat dikalahkan. Ali bersaudara kembali ke Ardabil. Akan tetapi pada tahun 1494M Ali terbunuh dalam peperangan yang dilatarbelakangi oleh Rustam yang berbalik memerangi Ali bersaudara. Kepemimpinan gerakan Safawi, selanjutnya berada di tangan Ismail, yang saat itu masih berusia tujuh tahun, selama lima tahun ismail beserta pasukannya bermarkas di gilan, mempersiapkan kekuatan dan mengadakan hubungan dengan para pengikutnya di Azerbaijan, syria, dan anatolia. Pasukan yang dipersiapkan itu dinamai Qizilbash (baret merah).

Dibawah pimpinan Ismail, pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash menyerang dan mengalahkan Ak koyunlu di sharur, dekat Nakhchivan. Pasukan ini terus berusaha memasuki dan menaklukkan Tabriz, ibu kota AK koyunlu dan berhasil merebut serta mendudukinya. Di kota ini ismail memproklamirkan dirinya sebagai raja dinasti Safawi dengan ini resmilah berdiri sebuah dinasti baru ditanah Persia.

Pemimpin-pemimpin Kerajaan Safawi  sebelum terbentuk Dinasti :
1.      Safi Al-Din (1252-1334 M)
2.      Sadar Al-Din Musa (1334-1399 M)
3.      Khawaja Ali (1399-1427 M)
4.      Ibrahim (1427-1447 M)
5.      Juneid 1447-1460 M)
6.      Haidar 1460-1494 M)
7.      Ali (1494-1501 M)        
Setelah berdirinya Dinasti Safawi :
1.      Ismail (1501-1524 M)
2.      Tahmasp I (1524-1576 M)
3.      Ismail II (1576-1577 M)      
4.      Muhammad Khudabanda (1577-1787 M)
5.      Abbas I (1588-1628 M)
6.      Safi Mirza (1628-1642 M)
7.      Abbas II (1642-1667 M)
8.      Sulaiman (1667-1694 M)
9.      Husen (1694-1722 M)
10.  Tahmasp II (1722-1732 M)
11.  Abbas III (1732-1736 M)
Masa Kejayaan Dinasti Safawi
Kerajaan Safawi mengalami puncak kejayaan pada Masa Abbas I, pada awal kepempimpinannya ia melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

1.      Menghilang dominasi pasukan Qizilbash atas kerajaan Safawi dengan membentuk pasukan baru yang beranggotakan budak-budak yang berasal dari tawanan perang bangsa Georgia, Armenia dan Sircassia.
2.      Mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani dengan cara Abbas I berjanji tidak akan menghina tiga khalifah pertama dalam Islam (Abu Bakar, Umar, Ustman) dalam khotbah Jumatnya.



Langkah tersebut membuat dinasti Safawi menjadi kuat kembali dan memperoleh masa kejayaan nya. Berikut ini salah satu kejayaan dinasti Safawi :
·         Bidang Politik dan Pemerintahan
terwujudnya integritas wilayah Negara yang luas yang dikawal oleh suatu angkatan bersenjata yang tangguh dan diatur oleh suatu pemerintahan yang kuat, serta mampu memainkan peranan dalam percaturan politik internasional.
·         Bidang Ekonomi
Kerajaan Safawi pada masa Syah Abbas mengalami kemajuan dibidang ekonomi, terutama industri dan perdagangan. Stabilitas politik Kerajaan Safawi pada masa Abbas I ternyata telah memacu perkembangan perekonomian Safawi, lebih-lebih setelah kepulauan Hurmuz dikuasai dan pelabuhan Gumrun diubah menjadi Bandar Abbas.
·         Bidang Ilmu Pengetahuan
Menurut Hodhson, ada dua aliran filsafat yang berkembang pada masa Safawi tersebut. Pertama, aliran filsafat “Perifatetik” sebagaimana yang dikemukakan oleh Aristoteles dan Al-Farabi. Kedua filsafat Isyraqi yang dibawa oleh Syaharawadi pada abad ke XII. Kedua aliran ini banyak dikembangkan di perguruan Isfahan dan Syiraj. Di bidang filosof ini muncul beberapa orang filosof diantaranya Muhammad Baqir Damad (W. 1631 M) yang dianggap guru ketiga sesudah Aristoteles dan Al-Farabi, tokoh lainnya misalnya Mulla Shadra yang menurut sejartah ia adalah seorang dialektikus yang paling cakap di zamannya.
Kemunduran Dinasti Safawi
 Setelah Abbas I Wafat, kerajaan Safawi mengalami kemunduran. Faktor-faktor yang mempengaruhi mundurnya kerajaan Safawi antara lain sebagai berikut :
1.      Konflik panjang dengan kerajaan Turki Usmani. Hal ini disebabkan oleh perbedaan mazhab antar kedua kerajaan. Bagi Kerajaan Usmani, berdirinya Kerajaan Safawi yang beraliaran Syi’ah merupakan ancaman langsung terhadap wilayah kekuasaannya. Konflik antara kedua kerajaan tersebut berlangsung lama, meskipun konflik itu pernah berhenti sejenak ketika tercapai perdamaian antara keduanya pada masa Raja Shah Abbas I, namun tak lama kemudian Abbas meneruskan konflik tersebut, dan setelah itu dapat dikatakan tida ada lagi perdamaian antara kedua kerajaan besar Islam itu.[29]
2.      Adanya dekadensi moral yang melanda sebagaian para pemimpin Kerajaan Safawi.
3.      Pasukan Ghulam (budak-budak) yang dibentuk Abbas I tidak memiliki semangat perang yang tinggi seperti Qilzibash (baret merah) hal ini dikarenakan pasukan tersebut tidak disiapkan secara terlatih dan tidak melalui proses pendidikan rohani. Seperti yang di alami oleh pasukan Qilzibash, sementara anggota pasukan Qilzibash yang baru tidak memiliki militansi dan semangat yag sam,a dengan anggota Qilzibash sebelumnya.
4.      Seringnya terjadi konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan dikalangan keluarga istana