Minggu, 10 Juni 2018

Dinasti Delhi Part II



Kesultanan Delhi Part II
Assalamualaiakum sahabat blog miracle of islam, kembali lagi di blog ini yang tiap bulannya akan membahas secara detail dinasti-dinasti islam yang pernah berdiri di dunia. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas kesultanan Delhi yang berdiri di India. Pada postingan sebelumnya, kita telah membahas Dinasti Islam pertama di India yaitu, Dinasti Mamluk. Pada kesempatan kali ini kita kan membahas dinasti Islam kedua di India yaitu, Dinasti  Khalji.  Dinasti Khalji; Akhir Supremasi Turki di India



Dinasti Khalji berasal dari nama Khalj, yang merupakan daerah pegunungan di Afganistan. Perlu diketahui bahwa beberapa abad sebelumnya orang-orang berkebangsaan Turki sudah menetap disana. Mereka sangat berjasa dalam Islamisasi di India. Kita telah mengetahui bawah sebelum berdirinya dinasti Khalji di India, Dinasti Mamluk sudah berdiri lebih awal dan berkuasa. Pada tahun 1287 M, Kaikobad diangkat menggantikan Balban yang merupakan sultan dari dinasti Mamluk, akan tetapi Kaikobad tidak mampu memangku kedudukannya sehingga ia hanya menjadi boneka pejabatnya. Sultan muda ini lebih suka berfoya-foya dan tidak berpengalaman dalam hal administrasi negara sehingga segera kehilangan semua kendali urusan negara. Melihat itu, para pembesar istana pun bersekongkol mengkudetanya lalu menggantikannya dengan putranya, Kaimus (1289 M) yang baru berusia tiga tahun, agar pemerintahan tidak keluar dari garis keturunan Balban.  Kepemimpinan Sultan Kaimus tidak menjanjikan harapan bagi keberlangsungan Dinasti Mamluk, hingga berakhir di tangan klan Khalji dengan tampuk kepemimpinan dipegang oleh Jalaluddin Firuz yang berhasil melepaskan Kesultanan Delhi dari pengaruh bangsawan Turki. Kedudukannya diambil oleh Jalaluddin Firuz yang berhasil menduduki Delhi dan merebut kekuasaan sultan tahun 1290 M, kerajaan Islam pasca budak-budak Turki tersebut digantikan oleh orang-orang Turki Khilji, berdirilah Dinasti Khalji dengan sultan pertamanya Malik Firuz, ia naik tahta dengan gelar Jalal Ad-Din Firuz Khalji (1290-1296).
Beriku raja-raja dinasti Khalji
Jalaluddin Firuz (1290–1296)
Jalaluddin telah berusia 70 tahun ketika mengambil alih kekuasaan Kesultanan Delhi. Dia sebenarnya masih memliki hubungan kekerabatan dengan sultan Balban dan Sultan Kaikobad memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjadi wakilnya. Sampai akhirnya dia berhasil menjadi sultan pada tahun 1290 M. Transisi kekuasaan ini dikenal dengan Revolusi Khalji.

Selama enam tahun masa pemerintahannya, kelonggarannya dalam pengurusan negara menyuburkan arus perampokan dan pemberontakan. Jalaluddin juga gagal melawan invasi Mongol dan gagal merebut benteng Ranthambor dari Rajput. Kegagalan-kegagalan ini menandai bahwasanya dia tidak layak menjadi penguasa. Akhirnya, keponakannya yang juga menantunya bernama ‘Alauddin naik tahta dengan cara membunuhnya.



Alauddın Khaljı (1296–1316)
Alauddin merupakan penguasa ambisius, kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah India, termasuk Deccan yang bahkan penguasa sekaliber Mahmud Ghaznawi, Mu’izzuddin Ghuri dan Balban tidak dapat menembus wilayah tersebut disebabkan kondisi alamnya yang sulit. Oleh karena itu, Alauddin juga dijuluki “sang penakluk Asia”.

Untuk memahami sepenuhnya sistem pemerintahan Alauddin harus melihat kembali pada abad ketiga belas dan mencatat tren sosial-ekonomi yang cukup menonjol. Motif yang menarik adalah kontinuitas lembaga. Tidak hanya dengan memungut pajak menggunakan metode konvensional India (terutama sistem bagi-hasil) yang sebagian besar tidak berubah oleh penguasa baru akan tetapi juga ada agen pemungut pajak, rais (kepala), chaudkris (kepala Parganas yaitu masyarakat desa) dan patwaris (akuntan desa) sebagian besar masih dipertahankan. Penguasa-penguasa baru yang mengambil alih lahan-lahan yang teramat luas kekurangan tenaga kerja dan membutuhkan dana. Pajak pendapatan dipertahankan dalam jumlah yang rendah yaitu seperlima dari penghasilan,  sedangkan pedesaan-pedesaan tidak terganggu.

Pada awal pemerintahannya, sejumlah pemberontakan membuatnya mengambil tindakan segera untuk mencegah masalah lebih lanjut. Pertama, dalam rangka mempertahankan dirinya dia meminta semua informasi penting di ibukota dan provinsi, dan memperkuat departemen Intelejen.  Dia juga menindak gagasan yang mengatakan bahwa ‘kekayaan identik dengan pemberontakan”, dia mengekstrak kekayaan sebanyak mungkin dari rakyatnya. Dia menuntut pajak penuh dari kepala desa sedangkan pajak untuk petani ditingkatkan. Akhirnya, dalam rangka untuk menahan para bangsawan dari persekongkolan untuk melawannya, dia mengeluarkan aturan ketat yang melarang mereka berkumpul atau mengadakan pesta pernikahan tanpa izin kerajaan.

Di bidang militer, Alauddin memiliki prestasi dalam dua kategori: perang melawan invasi Mongol dan penaklukan wilayah-wilayah India yang belum tertundukkan. Sepanjang abad ketiga belas, bangsa Mongol sangat kuat sehingga bahkan seorang penguasa yang kuat seperti Balban harus membuat kebijakan defensif dan menerima garis perbatasan yang tidak terlalu menguntungkan. Alauddin menghadapi dua serangan Mongol di Delhi, termasuk pengepungan kota; tetapi pada dua kesempatan ini, Mongol mundur. Invasi Mongol kemudian diarahkan ke  Punjab dan lembah Gangga yang juga dikalahkan. Oleh karena itu pada akhir dekade pertama pemerintahannya, dia memberikan kepastian perlindungan dari agresi eksternal ke arah kekuasaannya. Kematian Duwa Khan penguasa Chaghatayid dari Transoxania pada tahun 1306 berpengaruh terhadap penurunan tekanan Mongol di India.

Selama dua puluh tahun pemerintahannya, dipenuhi dengan aktivitas militer dan penundukan-penundukan wilayah sekitar. Akuisisi wilayah ini digolongkan menjadi tiga bentuk yaitu pemulihan wilayah, penyerangan dan penaklukan daerah baru dan terakhir  penundukkan daerah tanpa paksaan. Tujuan utama dari ini semua adalah memperoleh upeti sebanyak mungkin sehingga memakmurkan kesultanan Delhi dan mengamankan kedaulatan kesultanan Delhi.

Pada masa Alauddin tradisi Iqta’ yaitu pemberian tanah kepada pejabat negara sebagai pengganti gaji diminimalisir hanya untuk posisi-posisi tertentu seperti pejabat negara yang banyak berjasa bagi kesultanan Delhi.

Alauddin adalah sultan pertama yang benar-benar serius merencanakan reorganisasi sistem pendapatan diantaranya untuk memaksimalkan pendapatan pemerintah, untuk menyamakan beban pajak di setiap sektor penduduk pedesaan, dan untuk meminimalkan bahaya pemberontakan oleh para bangsawan dan ketidakpuasan masyarakat. Dia juga yang memperkenalkan aturan pengukuran tanah.

Sepeninggalan Alauddin, berturut-turut dua sultan bernama Mubarak Khalji dan Khusru menggantikannya. Akan tetapi kesultanan mengalami krisis akibat ketidakmampuan mereka memimpin negara dengan benar.



Kamis, 10 Mei 2018

Dinasti Ayyubiyah Part III


Assalamualaikum sahabat blogger miracle islam J, kembali lagi di blog miracle islam. Seperti biasa, setiap bulannya admin akan memposting sejarah tentang peradaban-peradaban islam yang ada di dunia. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas bagian akhir dari dinasti Ayyubiyah part 3. Yuk mari disimak.

Pada tahun 625 H raja Jerman yakni Frederick II mengiginkan kekuasaan atas Baitul Maqdis. Pada saat itu Sultan al-Kamil sedang memiliki konflik sengit dengan saudaranya yaitu al-Asyraf. Konflik antar Sultan al-Kamil dan al-Asyraf hampir menimbulkan perang saudara. Tentunya akibat dari konflik tersebut membuat Sultan al-Kamil menyadari bahwa posisinya akan terancam oleh Frederick II. Untuk itulah al-Kamil mebuat perjanjian dengan Frederick II, isi perjanjian tersebut adalah :
1.      Melepaskan Baitul Maqdis
2.      Membersihkan jalan bagi kaum Kristen menuju Akkad dan Haifa, dan
3.      Membebaskan seluruh kaum Franka yang ditawan.
Dengan gencatan senjata yang yang dibuatnya bersama Federick II, al-Kamil menyatukan kekuatan untuk menyingkirkan para penguasa daerah-daerah sekitar, al-Kamil berhasil. Tidak ada lagi keluarga Ayyub yang berani menentangnya dan tidak ada pasukan Salib yang memeranginya.

Seperti yang telah kita ketahui bahwa dinasti Ayyubiya telah berdiri dan juga berkuasa selama 90 tahun. Selama 90 tahun itulah, dinasti Ayyubiyah mempunyai sepuluh orang sultan, yaitu:

1.      Salahuddin Yusuf (1174-1193)
2.      Al-Aziz ibn Salahuddin (1193-1198)
3.      Mansur ibn al-Aziz (1198-1199)
4.      Al-Adil I Ahmad ibn Ayyub (1199-1218)
5.      Al-Kamil I (1218-1238)
6.      Al-Adil II (1238-1240)
7.      Malik al-Shalih Najmuddin (1240-1249)
8.      Muazzam Tauransyah ibn Shalih (1249)
9.      Syajarah al-Durr, istri Malik Saleh (1249)
10.  Asyraf ibn Yusuf (1249-1250)[14]

Kemajuan-kemajuan yang disumbangkan oleh dinasti Ayyubiyah :
A.    Bidang Pendidikan dan Arsitektur
Pada bidang pendidikan, para penguasa Ayyubiyyah telah berhasil menjadikan Damaskus sebagai kota pendidikan. Hal ini dibuktikan dengan dibangunnya Madrasah al-Shauhiyyah pada tahun 1239 M. Madrasah al-Shauhiyyah didirikan dengan tujuan sebagai pusat pengajaran empat madzhab hukum dalam sebuah lembaga madrasah. Selama pemerintahannya, masyarakat Hijaz juga bisa merasakan pendidikan di sekolah yang seperti madrasah gagasan Salahuddin. Di samping mendirikan sejumlah sekolah, Salahuddin juga membangun dua rumah sakit di Kairo. Sedangkan dalam bidang arsitektur dapat dilihat pada monumen bangsa Arab, bangunan masjid di Beirut yang mirip gereja, serta istana-istana yang dibangun menyerupai gereja.
B.     Bidang Industri
Pada bidang industry, pada masa dinasti Ayyubiyah terdapat beberapa pabrik gelas, pabrik karpet dan pabri kain. Selain didirikannya pabrik-pabrik, terdapat juga kincir yang dibuat oleh orang Syiria yang lebih canggih dibanding buatan orang Barat. Di samping itu, adanya perang Salib telah membawa dampak positif, keuntungan di bidang industri, perdagangan, dan intelektual, misalnya dengan adanya irigasi.
C.     Bidang perdagangan
Pada bidang perdagangan, dinasti Ayyubiyah menerapkan sistem kerja sama dengan penguasa-penguasa muslim yang berada diberbagai wilayah. Di samping itu, dinasti Ayyubiyah juga menggalakkan perdagangan dengan kota-kota di Laut Tengah, lautan Hindia dan menyempurnakan sistem perpajakan. Hal ini tentunya membawa pengaruh bagi Eropa dan negara-negara yang dikuasainya. Di Eropa terdapat perdagangan arikultur dan industri. Hal ini menimbulkan perdagangan internasional melalui jalur laut, sejak saat itu dunia ekonomi dan perdangan sudah menggunakan sistem kredit bank.
D.    Bidang Militer
Selain memiliki alat-alat perang seperti kuda, pedang, panah, dan sebagainya, Salahuddin juga memiliki burung elang sebagai kepala burung-burung dalam peperangan. Ia juga membina kekuatan militer yang tangguh dan perekonomian yang bekerja sama dengan penguasa muslim di kawasan lain. Ia juga membangun tembok kota sebagai benteng pertahanan di Kairo dan bukit Muqattam. Pasukannya juga diperkuat oleh pasukan Barbar, Turki, dan Afrika.
E.     Bidang Filsafat dan Keilmuan
Bukti konkritnya adalah Adelard Of Bath yang telah diterjemahkan, karya-karya orang Arab tentang astronomi dan geometri, penerjemahan bidang kedokteran. Di bidang kedokteran telah didirikan sebuah rumah sakit bagi orang yang cacat pikiran.

Kemunduran Dinasti Ayyubiyah
Pada tahun 635 H/1238 M Sultan al-Kamil meninggal dunia. Pada saat Sultan al-Kamil meninggal, Dinasti Ayyubiyah mengalami guncangan oleh pertentangan-pertentangan internal kerajaan.
            Pada masa pemerintahan al-Malik al-Salih, paskan salib mengirim lebih dari 100.000 orang pasukan Salib yang dipimpin Louis IX bertolak menuju Dimyath dan berhasil menguasainya. Saat itu, al-Malik al-Salih tengah sakit keras. Istrinya Syajarah al-Durr, mengirim surat kepada anaknya, (Turansyah) agar pulang ke Mesir. Ketika al-Malik al-Salih wafat, Syajarah al-Durr merahasiakan dan menerbitkan sejumlah perintah resmi dengan memalsukan tanda tangan al-Malik. Ia lalu mengumpulkan semua petinggi militer dan pemerintahan untuk segera membaiat Turansyah. Setelah kokoh duduk di kursi kekuasaan, dan berhasil mengusir pasukan Salib, Turansyah memaksa ibunya untuk menyerahkan harta peninggalan al-Malik al-Salih. Turansyah juga mengancam eksistensi kaum Mamalik, ini membuat kaum Mamalik marah besar dan membunuhnya setelah tujuh tahun menjabat. Mereka lalu menunjuk Syajarah al-Durr sebagai pengganti Turansyah. Namun kekuasaan Syajarah hanya berlangsung tiga bulan setelah ia mengudurkan diri secara suka rela. Kaum Mamalik sepakat mengangkat al-Asyraf Musa sebagai pengganti baru. Waktu itu al-Asyraf masih berumur delapan tahun. Oleh karena itu, mereka menunjuk Izzudin Aybak al-Turkumani menjadi wakil al-Asyraf untuk menjalankan urusan pemerintahan. Pada kemudian hari, Izzudin Aybak menikahi Syajarah dan tak lama kemudian Izzudin Aybak menggulingkan al-Asyraf dan merebut kekuasaan pusat. Dengan demikian, berakhirlah era Dinasti Ayyubiyah di Mesir. Tak lama kemudian Dinasti Ayyubiyah di Syam juga tunduk di bawah kekuasaan kaum Mamalik.

Minggu, 08 April 2018

Dinasti Ayyubiyah Part II


Assalamualaikum sahabat blogger miracle islam J, kembali lagi di blog miracle islam. Seperti biasa, setiap bulannya admin akan memposting sejarah tentang peradaban-peradaban islam yang ada di dunia. Pada dua postingan sebelumnya, admin telah membahas sejarah tentang dinasti Ayyubiyah. Pada postingan kali ini, admin akan membahas lebih dalam tentang dinasti Ayyubiyah. Jadi, mari kita simak pembahasannya.

image from : www.slideshare.net


Seperti yang telah kita ketahui pada postingan sebelumnya, bahwa Salahuddin Al-Ayyubi merupakan pendiri sekaligus khalifah pertama yang memerintah dinasti Ayyubiyah. Pada saat Salahuddin Al-Ayyubi menjadi khalifah, terdapat banyak sekali tantangan yang dihadapi Salahuddin. Salah satunya adalah perang Salib yang mengakibatkan ribuan rakyat muslim dibantai secara sadis oleh pasukan salib. Untuk itulah setelah Salahuddin Al-Ayyubi menjadi khalifah, hal pertama yang ia lakukan adalah memusatkan perhatiannya untuk menyerang Yerusalem. Salahuddin pun berangkat bersama pasukannya ke kota Yerussalem.  Saat ia dan pasukannya telah mendekati kota Yerussalem, Salahuddin memerintahkan agar seluruh pasukan Salib yang berada di dalam kota Yerussalem menyerah. Akan tetapi, perintah Salahuddin sama sekali tidak dihiraukan oleh pasukan Salib. Hal ini membuat Salahuddin berjanji untuk membalaskan dendam atas pembantaian ribuan warga muslim. Setelah Salahuddin dan pasukannya melakukan beberapa kali pengepungan di Yerussalem, semangat tempur pasukan salib mulai goyah. Kemudian, pasukan salib pun memohon perdamaian dengan Salahuddin. Permintaan damai pun diterima dengan senang hati oleh Salahuddin. Akhirnya Yerussalem dapat direbut kembali dan warga muslim dan non muslim hidup berdampingan dengan damai.

Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Dengan jatuhnya Yerusalem dalam kekuasaan kaum Muslimin, menimbulkan keprihatinan besar bagi kalangan tokoh-tokoh Kristen. Seluruh penguasa negeri Kristen di Eropa berusaha menggerakkan pasukan Salib lagi guna merenut kembali Yerussalem kedalam kekuassan umat kristen. Kemudian, Ribuan pasukan Kristen berbondong-bondong menuju Tyre untuk berjuang mengembalikan kekuasaan mereka yang hilang. Seluruh kekuatan salib berkumpul di Tyre, mereka segera bergerak mengepung Acre.

Mengetahui hal ini, Salahuddin segera menyusun strategi untuk menghadapi pasukan Salib. Strategi yang ia gunakan adalah strategi bertahan di dalam negeri, meskipun para amir (penasihat) Salahuddin menentang strategi yang ia terapkan. Akan tetapi, sesuai dengan dugaan para amir, Salahuddin mengambil strategi yang kurang tepat. Hal inilah yang membuat Salahuddin terdesak oleh pasukan Salib dan akhirnya Salahuddin mengajukan tawaran damai. Namun berbeda dengan sikap Salahuddin yang mau menerima permintaan damai pasukan kristen, pemimpin pasukan kristen yang tidak mempunyai balas budi ini menolak tawaran Salahuddin dan membantai pasukan muslim secara kejam.

Setelah berhasil meenguasai Acre, pasukan Salib kembali bergerak menuju Ascalon  yang dipimpin oleh Jenderal Richard. Bersama dengan pasukan Salib, Salahuddin sedang mengerahkan pasukannya ke Ascalon. Akan tetapi pasukan Salahudin tiba lebih awal. Ketika Jendral Richard tiba di Ascalon, ia mengetahui bahwa kota Ascalon sudah dikuasai pasukan Salahuddin. Jenderal Richard mengetahui bahwa ia dan pasukannya tidak mampu untu mengepung kota Ascalon lebih lama, Jenderal Richard memutuskan untuk mengirimkan delegasi perdamaian kepada Salahuddin. Atas kemurahan hati Salahuddin, ia pun menyetujui perdamaian tersebut dengan kesepakatan bahwa antara pihak muslim dan pasukan Salib tidak saling menyerang dan menjamin keamanan. Perjanjian damai yang menghasilkan kesepakatan di atas mengakhiri perang Salib ketiga.

Sebelum Salahuddin wafat pada tahun 1193, Salahuddin memberikan bagian dari Dinasti Ayyubiyah kepada berbagai anggota keluarganya. Anaknya yang tertua, Al-Malik Al-Afdal, menguasai Damaskus dan Syam Selatan. Anaknya yang lain, al-Aziz, menguasai Mesir, dan Al-Zahir menguasai Aleppo. Saudara Salahuddin, al-Adil, menguasai Irak dan Diyarbakr. Sementara itu keluarganya yang lain menguasai Hama, Balbek dan Yaman.

Setelah Salahuddin wafat, kendali Dinasti Ayyubiyah dipegang al-Aziz Imaduddin. Akan tetapi Al-Aziz berkonflik dengan saudaranya yaitu Al-Afdal, penguasa Damaskus. Jabatan Al-Afdal lalu diberikan kapada Al-Adil Syaifuddin Mahmud (saudara Salahuddin). Pada saat Al-Aziz wafat pada tahun 595H, kekuasaan Al-Aziz diberikan kepada putranya, Al-Mansur. Mengetahui wafatnya Al-Aziz, Al-Adil segera datang ke Mesir untuk mengalahkan dan melengserkan al-Manshur ibn al-Aziz yang pada saat ia menggatikan ayahnya, masih berusia belia dari kursi kesultanan. Pada tahun 615 H, Sultan al-Adil wafat dan digantikan oleh anaknya, Sultan al-Kamil. Pada masa awal kekuasaan al-Kamil, serangan Salib kelima dilancarkan guna memenuhi seruan Paus Innocent III. Serangan diarahkan ke Mesir. Setelah mengalami pertempuran yang sengit, pasukan Salib bisa menguasai Dimyath. Dengan mengandalkan jumlah, pasukan Salib terus bergerak dan berniat menyerang Kairo pada 619 H. Akan tetapi pasukan muslim dapat mengambil posisi di sungai Nil untuk menutup jalan pasukan Salib. Hal ini diakibatkan kesalahan mereka dalam mengambil rute. Alhasil, pasukan Salib terkepung dan terpaksa mengajukan tawaran damai. Al-Kamil bersedia menerima, tapi dengan syarat mereka harus memberikan jaminan bahwa Dimyath kembali ke tangan umat Islam. Akhirnya kota Dimyath dapat direbut kembali.

Jumat, 09 Maret 2018

Dinasti Delhi Part I


Assalamualaikum sahabat blogger miracle of islam J, kembali lagi di blog kami, yang akan mengupas tuntas sejarah-sejarah peradaban islam didunia. Jika kemarin kami telah membahas dinasti Ayyubiyah, kali ini blog miracle of islam akan membahas salah satu dinasti yang terletak di India. Dinasti itu adalah dinasti Delhi, yang merupakan kerajaan islam pertama di India. Awal permulaan tegaknya islam di India tentunya tidak terlepas dari pengaruh kesultanan Delhi pada tahun 1206M. Nama kesultanan Delhi, diambil berdasarkan nama kota di bagian utara India yang menjadi ibu kota dinasti Delhi, yaitu kota Delhi. Tidak seperti kebanyakan dinasti Islam yang pada umumnya runtuh dengan berakhirnya keturunan para pendirinya, kesultanan Delhi berakhir setelah mengalami lima kali pergantian kepemimpinan lima dinasti. Lima dinasti tersebut adalah Dinasti Mamluk, Dinasti Khalji, Dinasti Tughlaq, Dinasti Sayyid, dan Dinasti Lodi.
1.      Dinasti Mamluk - Pemerintahan Awal Kesultanan Delhi
A.    Quthb al-Din al-Aybak (1206-1210)
Ketika Mu’izzuddin terbunuh, Quthb al-Din al-Aybak berada di Delhi. Kemudian ia menjadi pengganti Mu’izzuddin dalam memerintah India utara yang dipusatkan di Delhi. Mu’izzuddin tidak hanya membebaskannya dari perbudakan tapi juga memberikan kekuasaan kesultanan padanya. Akan tetapi selama empat tahun masa pemerintahannya ditandai dengan perjuangan melawan Yildiz, penguasa Turki di Ghazna dan Qabacha, penguasa Sind dan Multan. Selain itu Aybak juga melawan pemberontakan raja-raja Hindu yang menentang kekuasaan muslim di India. Kematian Aybk yang tiba-tiba pada tahun 1210 M mengakhiri karirnya yang menjanjikan. Meskipun begitu, perannya sebagai letnan di masa kepemerintahan Mu’izuddin Ghuri, juga dalam mempertahankan kekuasaan Islam di India memposisikannya di tempat paling penting dalam sejarah Kesultanan Delhi. Setelah meninggalnya Aybak, Aram shah yang merupakan putra dari Aybak diangkat menjadi Sultan. Akan tetapi akibat ketidakmampuannya dalam menata Negara, mengharuskan para pembesar istana Delhi mengangkat seorang raja bernama Iltumish yang juga mantan budak. Dia adalah menantu Aybak yang pada saat itu menjabat sebagai gubernur Badaun. Kecakapannya dalam dunia perpolitikan dan membesarkan negara menjadikannya sebagai orang yang berpengaruh dan paling berjasa sepanjang kesultanan Delhi.


B.     Sultan Iltumish (1211-1236 M)
Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa sultan Iltutmish naik tahta Delhi, saat kesultanan berada dalam posisi sulit dan tidak stabil akibat ketidakcakapan Aram Shah. Selain itu sikap menentang dari para jendral senior rekan Aybak seperti Qabacha dan Yildiz dan juga perlawanan dari para penguasa Hindu. Akan tetapi, hal yang paling mengancam diantara semuanya adalah kekuatan besar yang tumbuh dari Chinggisid Mongol di Perbatasan Utara-Barat. Bangsa Khalji di Bengal dan Bihar juga menarik dukungan mereka. Namun, semua hal itu tidak membuat sultan Iltumish gentar. Dengan  keberaniannya yang besar, kecerdasannya dalam mengatur strategi dan pemanfaatan waktu membuatnya dapat menghadapi semua kesulitan dan menangani berbagai masalah. Dia mampu mengecam balik sikap permusuhan para jenderal Turki; membungkam perlawanan Hindu; membangun kembali kekuasaannya di provinsi-provinsi timur, juga menyelamatkan kerajaannya dari serangan pasukan Mongol. 
Iltutmish adalah penguasa berdaulat pertama Delhi dan dianggap sebagai pendiri Kesultanan Delhi. Dia dianugrahi penghargaan untuk jasanya menciptakan fondasi negara yang tahan lama, mengorganisir administrasi dan mengembangkan kebijakan politik dasar negarawan. Pada tahun 1229 M, Al-Mustanshir, khalifah Abbasiah di Baghdad, memberikan mandat otoritas kepada Iltutmish. Hal ini membuat Kesultanan Delhi diakui secara legal pun moral di mata penguasa Muslim ortodoks. Iltutmish juga menjaga hubungan baiknya dengan ulama dan mashayikh sehingga ia diterima dan mendapat legitimasi bagi kesultanannya yang baru. Sebelum wafat, Iltumish menunjuk putrinya, Razia sebagai pengganti disebabkan semua anak laki-lakinya tidak punya kemampuan untuk mengatur negara. Wasiat ini ditolak oleh para pembesar istana yang keberatan dengan sultan perempuan. Sehingga, saudaranya Rukunuddin Firuz diangkat sebagai sultan. Asumsi Iltumish terbukti, Rakunuddin tidak mampu memimpin kesultanan. Razia diangkat kembali menjadi seorang penguasa di Delhi. Dia adalah penguasa perempuan pertama dalam sejarah Islam. Pengangkatan ini memicu pemberontakan di mana-mana yang menolak sultan perempuan pada tahun 1240 M, disamping itu Sultanah Razia pun tidak memperoleh restu dari khalifah Abbasiah di Baghdad. Razia jatuh dan digantikan oleh saudara laki-lakinya, Bahram Shah. Sama halnya seperti Rukunuddin, Bahram pun tidak mampu memimpin. Selama kepemimpinan putra dan putri Iltumish yang tak meyakinkan ini, memberikan kesempatan pasukan Mongol menekan perbatasan, sehingga Lahore dan Multan menjadi sasaran penyerangan. Gubernur-gubernur di provinsi juga memiliki kesempatan memperluas otonomi mereka sedangkan para penguasa Hindu, khususnya Rajput, menunjukkan tanda-tanda ketidakpuasan.
Pada tahun 1246 M pemerintahan diambil alih oleh Nasiruddin Mahmud yang yang terkenal dengan kesalehan, kesederhanaannya dan paling baik pribadinya diantara para penguasa abad ke-12 M. Konon, Nasiruddin tidak pernah menerima satu sen pun uang negara sebagai gajinya. Dikarenakan Nasirudin tidak dianugrahi seorang putra, maka ia digantikan oleh Ghiasuddin Balban seorang mantan budak dari Sultan Iltumish.
C.     Ghiatsuddin Balban (1266-1287)
 Salah satu perkembangan penting pada periode pasca-Iltutmish adalah keberadaan sekelompok bangsawan yang dikenal dengan nama Ghulaman Chihilgani yang kesemuanya adalah budak Iltumish. Kira-kira arti dari nama tersebut adalah komandan budak yang membawahi empat puluh budak. Kelompok ini mendominasi lapangan dan memegang komisi kekuasaan selama tiga puluh tahun sehingga keberadaan sultan hanyalah sebagai pimpinan boneka saja. Sosok terkuat dan paling mendominasi diantara kelompok ini adalah Ghiasuddin Balban. Dia telah memperoleh kekuasaan yang cukup besar bahkan sebelum aksesi Sultan Nasiruddin Mahmud, penguasa terakhir dari garis keluarga Iltutmish. Tak lama setelah aksesi Nasiruddin Mahmud, Balban dianggap sebagai na’ib al-mamlakat (raja muda), yang mengakibatkan pengaruh bayangan sebagai wali mengurangi kekuasaan sultan. Selama dua dekade Balban mengemudikan negara sebagai na’ib al-mamlakat, Balban berusaha membendung kekacauan dekade anarki (1236-1246). Setelah menjabat posisi tertinggi kesultanan, Balban meyakini bahwa kelemahan mahkota terletak pada akar semua penyakit negara. Gagasan tentang monarki, pemerintahan dan agama, terungkap dalam pidato-pidatonya kepada putra-putranya dan para bangsawan, yang seringkali disebut sebagai ‘teori politik’ nya. Berbagai elemen pemikirannya, meskipun tidak rumit atau cukup komprehensif untuk dipertimbangkan sebagai sebuah teori, tetap masuk akal.  Balban menampilkan kekuatan besar dan kekejaman dalam menghancurkan rival politik, pemberontak, menghukum gubernur dan kepala daerah yang keras kepala.
Balban terkenal akan kediktatorannya, baginya the blood iron policy untuk keamanan dan penegakan hukum Allah di negerinya. Sepeninggal sultan Balban, beliau digantikan cucunya Kaikobad (1287-1289 M) yang bergelar Mu’izzuddin. Sultan muda ini lebih suka berfoya-foya dan tidak berpengalaman dalam hal administrasi negara sehingga segera kehilangan semua kendali urusan negara. Melihat itu, para pembesar istana pun bersekongkol mengkudetanya lalu menggantikannya dengan putranya, Kaimus (1289 M) yang baru berusia tiga tahun, agar pemerintahan tidak keluar dari garis keturunan Balban.  Kepemimpinan Sultan Kaimus tidak menjanjikan harapan bagi keberlangsungan Dinasti Mamluk, hingga berakhir di tangan klan Khalji dengan tampuk kepemimpinan dipegang oleh Jalaluddin Firuz yang berhasil melepaskan Kesultanan Delhi dari pengaruh bangsawan Turki.

Sabtu, 10 Februari 2018

Dinasti Ayyubiyah Part I

Assalamualaikum sahabat blog miracle islam 😊, kembali lagi dengan kami di blog yang membahas tentang sejarah-sejarah dinasti islam yang pernah berdiri dunia. Mungkin beberapa diantara kalian merasa bahwa buat apa kita belajar sejarah. Akan tetapi ternyata, dengan mempelajari sejarah, kita dapat menata masa depaj kita menjadi lebih baik, seperti yang dikatakan oleh presiden pertama kita, yaitu Ir. Soekarno. Beliau mengatakan JASMERAH yang merupakan singkatan jangan sekali-kali melupakan sejarah.



Nah sahabat blog, kali ini kita akan mengupas tuntas sejarah dinasti islam yang bernama dinasti Ayyubiyah. Sesuai dengan namanya, dinasti ini di dirikan oleh Salahuddin Al-Ayyubi yang merupakan keturunan Kurdi dari Azerbaijan yang melakukan migrasi ke Irak. Salahuddin Al-Ayyubi lahir di Tikrit 532 H/1137 M dan meninggal 589 H/1193 M. Ia juga merupakan seorang sultan yang dikenal adil, toleran, pemurah, zuhud, dan qana’ah. Salahuddin Al-Ayubbi merupakan anak dari Najmuddin Ayyub, yang merupakan gubernur Tikrit yang selanjutnya pindah ke Moshul, lalu ke Damaskus. Setelah itu Najmuddin dan saudaranya Asaduddin Syirkuh menjadi panglima Nuruddin Mahmud atau dikenal dengan Nuruddin Zangi di Mesir. Setelah Asaduddin Syirkuh meninggal, ia digantikan oleh keponakannya yaitu Salahuddin al-Ayyubi. Dengan demikian, ia menjadi menteri untuk Khalifah al-Adid yang menganut Syiah dan dan wakil dari Nuruddin Mahmud yang beraliran Sunni.

Bagi para sobat yang pernah menonton film Kingdom Of Heaven, tentunya tidak akan asing mendengar nama Salahuddin Al-Ayyubi. Akan tetapi mungki bagi beberapa orang islam mungkin akan terasa asing mendengar dinasti Ayyubiyah, karena nama dinasti ini kalah tenar dengan nama sultan atau pendiri pertama mereka, yaitu Salahuddin Al-Ayyubi. Perlu diketahui bahwa, dinasti Ayyubiyah adalah sebuah daulah besar yang berbentuk dinasti atau kerajaan, berkuasa di Timur Tengah antara abad ke-12 sampai abad ke-13. Selain itu, dinasti Ayyubiyah juga dikenal sebagai dinasti penakluk dalam jihad. Mengapa dikatakan demikian? Hal ini dikarenakan dinasti Ayyubiyah sangat berperan dalam upaya mematahkan gempuran musuh dalam perang Salib. Apabila dinasti Ayyubiyah ini tidak berdiri, hampir dapat dipastikan Islam pasti akan tercerabut dari bumi Syam, Jazirah, Mesir dan Afrika Utara. Salahuddin Al-Ayyubi dapat menunjukkan eksistensinya sebagai Sultan sekaligus penakhluk yang cakap hingga dapat mendirikan Dinastinya sendiri. Sehingga kemampuannya dalam memimpin tidak perlu diragukan lagi. Kedudukannya sebagai seorang Sultan menandai bertambahnya tantangan yang harus ia hadapi. Perlu digaris bawahi pula, bahwa keberhasilannya dalam mendirikan dinastinya sendiri tidak terlepas dari peran Dinasti Zangkiyah yang telah mendidik Salahuddin sampai menjadi seorang tokoh pejuang panji Islam di timur tengah.



Semasa hidupnya, Salahuddin Al-Ayyubi memiliki dua ambisi besar. Kedua ambisi itu adalah :
1. Menggantikan Islam Syi'ah yang ada di Mesir, menjadi Islam Sunni
2. Memerangi orang-orang Franka dari perang suci (perang salib)


Berdirinya dinasti Ayyubiyah dibagi menjadi dua periode, yaitu

1. Penaklukan Dinasti Fathimiyah

Periode pertama merupakan penaklukan dinasti Fathimiyah. Penaklukan ini diawali  akibat adanya konflik internal antara khalifah Fatimiyah yang terakhir, Al-Adid, dengan menterinya Sawar. Akhir dari konflik ini yaituSawar, berhasil menjatuhkan kekuasaan Al-Adid. Akan tetapi, dengan jatuhnya khalifah Al-Adid, justru membawa kebencian pihak lain yang juga mengincar kekuasaan. Pihak itu adalah Dirgham. Dirgham bersama pendukungnya berhasil menjatuhkan Sawar. Dengan jatuhnya Sawar, maka Dirgham diangkat menjadi Wazir sedangkan Sawar melarikan diri ke Syiria pada tahun 557 H/1163 M. Disana, Sawar meminta bantuan kepada Nuruddin Zanqi (Nuruddin Mahmud) yang merupakan penguasa Bani Saljuk di Syiria pada waktu itu, untuk merebut kedudukannya kembali. Ia berjanji jika usahanya berhasil, ia akan membayar upeti dan membagi hasil kepada Nuruddin Zanqi. Nuruddin Zanqi pun menerima kesepakatan tersebut. Kemudian Nuruddin memerintahkan panglima perangnya, Asaduddin Syirkuh untuk berangkat ke Mesir dan merebut kekuasaan Dirgham. Dengan bantuan ini Sawar berhasil menjadi wazir. Akan tetapi, setelah kedudukannya kembali, bak kacang lupa kulitnya, Sawar berusaha menghkianati perjanjiannya dengan Nuruddin Zanqi dan mengadakan konspirasi baru dengan Meric dalam upaya mengusir Asaduddin Syirkuh dari Mesir dengan janji yang sama. Usahanya pun berhasil mengusir Syirkuh. Akan tetapi, tindakan Sawar inilah yang membawa kehancuran bagi Dinasti Fatimiyah.
Bermula dari sini tentara salib menjarah Mesir. Nuruddin segera mengirim tentaranya ke Mesir di bawah pimpinan Syirkuh dan Salahuddin. Pada akhirnya, terjadilah pertempuran antara pihak Islam dan Salib untuk merebut Mesir. Pada 564 H/1169 M, Syirkuh dan pasukannya dapat mengalahkan tentara Salib sekaligus dapat menguasai Mesir dan diangkat sebagai wazir. Syirkuh memegang jabatan hanya selama dua bulan karena meninggal dunia dan jabatannya digantikan oleh keponakannya yaitu Salahuddin al-Ayyubi. Salahuddin sebenarnya mulai menguasai Mesir pada tahun 564 H/1169 M, akan tetapi baru dapat menghapuskan kekuasaan Daulah Fatimiyah pada tahun 567 H/1171 M. Dalam masa tiga tahun itu, ia telah menjadi penguasa penuh, namun tetap tunduk kepada Nuruddin Zangi dan tetap mengakui kekhalifahan Daulah Fatimiyah.

2. Perlawanan Terhadap Sultan Ismail Malik Syah

Periode kedua ini juga dikenal sebagai periode orang-orang Syiria (1174-1186). Periode ini dimulai dengan wafatnya Nuruddin Zanqi. Sepeninggalan Nuruddin Zanqi, posisi khalifah digantikan oleh anaknya yang bernama, Sultan Ismail Malik Syah yang pada saat diangkat menggantikan ayahnya masih berusia belia. Karena usianya yang masih belia inilah, membuat amir-amirnya saling berebut pengaruh yang menyebabkan timbulnya krisis politik internal. Kondisi demikian ini memudahkan bagi pasukan Salib untuk menyerang Damaskus dan menundukannya. Setelah beberapa lama tampillah Salahuddin berjuang mengamankan Damaskus dari pendudukan pasukan Salib. Lantaran hasutan Gumusytag, sang sultan belia Malik Syah menaruh kemarahan terhadap sikap Salahuddin ini sehingga menimbulkan konflik antara keduanya. Sultan Malik Syah menghasut masyarakat Alleppo berperang melawan Salahuddin, Kekuatan Malik Syah di Alleppo dikalahkan oleh pasukan Salahuddin. Merasa tidak ada pilihan lain, Sultan Malik Syah meminta bantuan pasukan Salib. Semenjak kemenangan melawan pasukan Salib di Alleppo ini, terbukalah jalan bagi tugas dan perjuangan Salahuddin di masa-masa mendatang sehingga ia berhasil mencapai kedudukan sultan. Semenjak tahun 578 H/1182 M, Kesultanan Saljuk di pusat mengakui kedudukan Salahuddin sebagai Sultan.

Sebagai Sultan yang pertama sekaligus pendiri dinasti, tantangan yang dihadapi Salahuddin pasca menjadi Sultan adalah memusatkan perhatiannya untuk menyerang Yerusalem. Hal ini menjadi fokus pertama Salahuddin bukan tanpa alasan, dimana ribuan rakyat muslim dibantai oleh pasukan Salib-Kristen di Yerusallem. Pada saat Salahuddin mendekati kota Yerusallem, Salahuddin sempat menyampaikan perintah agar seluruh pasukan Salib di Yerussalem menyerah. Akan tetapi, perintah Salahuddin sama sekali tidak dihiraukan oleh pasukan salib. Hal ini membuat Salahuddin berjanji untuk membalas dendam atas pembantaian ribuan warga muslim. Setelah terjadi beberapa kali pengepungan, pasukan salib kehilangan semangat tempurnya dan memohon damai dengan Salahuddin. Karena kemurahan hati sang sultan permintaan damai pun diterima. Akhirnya Yerussalem dapat direbut kembali dan warga muslim dan non muslim hidup berdampingan dengan damai.
Dengan jatuhnya Yerusalem dalam kekuasaan kaum Muslimin, berdampak pada keprihatinan besar kalangan tokoh-tokoh Kristen. Seluruh penguasa negeri Kristen di Eropa berusaha menggerakkan pasukan Salib lagi. Ribuan pasukan Kristen berbondong-bondong menuju Tyre untuk berjuang mengembalikan kekuasaan mereka yang hilang. Seluruh kekuatan salib berkumpul di Tyre, mereka segera bergerak mengepung Acre. Melihat pergerakan tentara salib, tentunya Salahuddin tidak tinggal diam. Salahuddin segera menyusun strategi untuk menghadapi pasukan Salib. Sebagian besar para Amir menyarankan agar tidak menetapkan strategi bertahan di dalam negeri. Akan tetapi Salahuddin justru mengabaikan saran para amir dan mengambil sikap yang kurang tepat. Hal ini membuat Salahuddin terdesak dan kepayahan oleh pasukan Salib dan akhirnya Salahuddin mengajukan tawaran damai. Namun sang raja yang tidak mempunyai balas budi ini menolak tawaran Salahuddin dan membantai pasukan muslim secara kejam.
Setelah berhasil merebut Acre, pasukan Salib bergerak menuju Ascalon dipimpin oleh Richard. Bersama dengan itu, Salahuddin sedang mengarahkan operasi pasukannya dan tiba di Ascalon lebih awal. Ketika tiba di Ascalon, Richard mendapatkan kota ini sudah dikuasai pasukan Salahuddin. Merasa tidak berdaya mengepung kota ini, Richard mengirimkan delegasi perdamaian menghadap Salahuddin, atas kemurahan hati sang sultan tawaran damai tersebut diterima dengan kesepakatan bahwa antara pihak muslim dan pasukan Salib, wilayah kedua belah pihak saling tidak menyerang dan menjamin keamanan. Jadi perjanjian damai yang menghasilkan kesepakatan di atas mengakhiri perang Salib ketiga. Kemudian Salahuddin meninggal pada tahun 1193.
Sebelum wafat, Salahuddin memberikan berbagai bagian dari Dinasti Ayyubiyah kepada berbagai anggota keluarganya. Anaknya yang tertua, al-Malik al-Afdal, menguasai Damaskus dan Syam Selatan. Anaknya yang lain, al-Aziz, menguasai Mesir, dan al-Zahir menguasai Aleppo. Saudara Salahuddin, al-Adil, menguasai Irak dan Diyarbakr. Sementara itu keluarganya yang lain menguasai Hama, Balbek dan Yaman

Rabu, 10 Januari 2018

Dinasti Saljuk

Dinasti Saljuk


www.wikipedia.com

Assalamualaikum sahabat blog miracle islam J kembali lagi kita akan membahas salah satu dinasti islam yang pernah berdiri di dunia ini. Kali ini, penulis akan membahas Dinasti Saljuk. Dinasti Saljuk merupakan salah satu dinasti yang berasal dari bangsa Turki yang berasal dari suku Ghuzz. Nama Saljuk ini sendiri, diambil dari nama nenek moyang mereka, yaitu Saljuk ibn Tukak (Dukak) yang pada awalnya merupakan anggota suku Ghuzz yang bekerja di klinik, akan tetapi dikemudian hari ia diangkat menjadi kepala suku yang dihormati. Seperti yang kita ketahui, bahwa berdirinya dinasti-dinasti setelah dinasti Abbasiyah tidak terlepas dari banyaknya wilayah-wilayah yang pada mulanya berada dalam kekuasaan dinasti Abbasiyah mulai melepaskan diri dari pemerintahan dinasti Abbasiyah , diantara wilayah-wilayah yang melepaskan diri adalah yang berbangsa Persia seperti Thahiriyah di Khurasan, Syafariyah di Fars, Samaniyah di Transoxania, dll. Yang berbangsa Turki seperti Thuluniyah di Mesir, Ikhsyidiyah di Turkistan, Ghaznawiyah di Afganistan dan Dinasti Saljuk. Kita mengetahui bahwa dinasti Abbasiyah periode pertama menyumbangkan banyak kemajuan besar dalam peradaban dunia, hal ini lah yang mendorong para penguasa-penguasa selanjutnya gemar hidup dalam kemewahan yang diikuti oleh para pejabat pemerintahan lainnya. Kondisi inilah yang memberi peluang para tentara profesional asal Turki yang telah diangkat pada masa kekhalifahan al-Mu’tasim untuk mengambil alih tampuk pemerintahan. Usaha ini berhasil, sehingga kekuasaan sesungguhnya berada pada tangan mereka, sementara kekuasaan Bani Abbas di dalam khilafah Abbasiyah yang didirikannya mulai pudar dan ini merupakan awal dari keruntuhan dinasti ini, meskipun setelah itu usianya masih dapat bertahan lebih dari 400 tahun. Menurut Syafiq A. Mugni, terdapat dua versi yang menjelaskan terbentuknya komunitas Turki Saljuk, berikut ini kutipannya :
1.      Raja Turki yang bernama Beighu ingin menguasai wilayah kerajaan Islam, Tukak (Saljuk ibn Tukak) menentangnya dan ia memisahkan diri dengan para pengikutnya serta membentuk suatu komunitas terpisah dari kerajaan.
2.      Saljuk ibn Tukak memisahkan diri dari kerajaan bersama para pengikutnya dan memasuki wilayah Islam dengan mendirikan pemukiman di dekat daerah Jand di mulut sungai Jaihun



Setelah Saljuk bin Tukak meninggal, kepemimpinan Turki Saljuk digantikan oleh Arslan yang memiliki nama asli Israil bin Saljuk yang merupakan putra dari Saljuk bin Tukak. Pada masa kepempimpinannya, Bani Saljuk dapat memperluas wilayah kekuasaanya hingga daerah Nur Bukhara (Nur Ata) dan sekitar Samarkhan. Kemudian kekuasaan bani Saljuk itu diteruskan oleh Mikail. Akan tetapi Mikail berhasil dibunuh oleh penguasa dinasti Ghaznawiyah dipimpin oleh Sultan Mahmud karena kelicikannya. Dengan terbunuhnya Mikail, maka pemerintahan bani Saljuk mengalami kegoyahan.
Pada periode berikutnya Saljuk dipimpin oleh Thugrul Bek. Ia berhasil mengalahkan Mahmud al-Ghaznawi, penguasa Ghaznawiyah pada tahun 429 H / 1036 M dan memaksanya meninggalkan daerah Khurasan, setelah keberhasilan tersebut, Thugrul memproklamirkan berdirinya dinasti Saljuk. Pada tahun 432 H / 1040 M dinasti ini mendapat pengakuan dari khalifah Abbasiyah di Baghdad. Disaat kepemimpinan Thugrul Bek inilah, dinasti Saljuk memasuki Baghdad menggantikan dinasti Buwaihi. Sebelumnya Thugrul berhasil merebut daerah Marwa dan Naisabur dari kekuasaan Ghaznawi, Balkh, Jurjan, Tabaristan, Khawarizm, Ray dan Isfahan.[9] Pada tahun ini juga Thugrul Bek mendapat gelar dari khalifah Abbasiyah dengan Rukh al-Daulah Yamin Amir al-Muminin.

Dalam perkembangannya, Dinasti Saljuk dibagi menjadi 5 imperium, kelima imperium itu adalah :
1.      Saljuk Agung
Daerah kekuasaan Saljuk Agung meliputi Ray, Jabal, Irak, Persia dan Ahwaz. Setelah berhasil mengalahkan dinasti Ghaznawi dan menduduki singgasana kerajaan di Naisabur di bawah pimpinan Thugrul Bek saat itulah dia dianggap sebagai pemimpin Dinasti Saljuk yang sebenarnya dan secara resmi mendapat pengakuan dari kekhalifahan Abbasiyah. . Setelah dipilih sebagai pemimpin imperium Saljuk, Thugril Bek merencanakan dua hal
·         Melakukan konsolidasi kekuatan militer yang dianggap menentang kekuasaan saljuk.
Selama memegang kekuasaan, Thugrul Bek menggalang persatuan yang kuat dengan saudara-saudaranya dengan memberikan kepada mereka wilayah kekuasaan tertentu. Pada tahun 1050 – 1051 M ia berhasil merebut Isfahan dan menghancurkan kekuatan Daylamah di Persia. Kemenangan Thugrul Bek lebih gemilang ketika Hamadan pada tahun 1055 M dapat dikuasai

·         Memperluas kekuasaan
Thugrul Bek herhasil memperluas wilayahnya dengan merebut Jurjan,Thabaristan, Rayy, Qazwin dan Zunian hingga menguasai hampir seluruh wilayah Iran, dan kemudian memindahkan ibukotanya ke Rayy.

2.      Saljuk Irak (1118 – 10924 M)
3.      Saljuk syiria
4.      Saljuk Kirman (1041-1186 M)
5.      Saljuk Rum/Asia Kecil

Kemunduran Dinasti Saljuk
Terdapat dua factor yang yang menyebabkan kemunduran dinasti Saljuk :
1.      Faktor Internal
a.       Lemahnya para penguasa dinasti Saljuk
b.      Perebutan kekuasaan di pemerintahan pusat
c.       Munculnya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri
d.      Lemahnya perekonomian
e.       Munculnya aliran-aliran sesat dan fanatisme keagamaan
2.      Faktor Eksternal
a.       Perang salib

b.      Serangan bangsa Mongol yang mengakibatkan runtuhnya dinasti Abbasiyah

Sabtu, 09 Desember 2017

Dinasti Buwaihi

 Assalamualaikum sahabat blogger miracle of islam, kembali lagi saya akan membahas tentang dinasti Islam lainnya. Seperti yang kita telah ketahui bahwa dinasti Abbasiyah mengalami kemunduran pada abad ke-10 M tepatnya pada masa khalifah ke-20 Dinasti Abbasiyah yaitu Khalifah Ar-Radhi Billah yang berkuasa pada tahun 940-944 M, dimana pada masa kepempimpinanya kekuatan politik dan militer Adidaya dari dunia islam mulai melemah. Akibat kemunduran dinasti Abbasiyah ini, mulailah muncul dinasti-dinasti kecil akibat pemisahan wilayah yang tergabung dalam dinasti Abbasiyah. Akibat adanya pemisahan wilayah dari dinasti Abbasiyah, wilayah dinasti Abbasiyah semakin mengecil, selain munculnya dinasti kecil, berdiri pula kekhalifahan Fathimiyah yang terletak di Mesir dan kekhalifahan Ummayah yang berada di Andalusia (Spanyol). Karena kondisi inilah kemudian muncul dinasti Buwaihi yang bermazhab syi’ah yang berkuasa di wilayah Persia dan Irak yang masuk kedalam dinasti Abbasiyah dan mengendalikan roda pemerintahan. Pada masa dinasti Buwaihi, khalifah dinasti Abbasiyah hanya sebagai simbol persatuan saja, sedangkan roda pemerintahan dipegang oleh amir al-umara atau Perdana Menteri yang berasal dari dinasti Buwaihi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa khalifah hanya menjadi boneka dan tidak mempunyai kekuasaan untuk memerintah kerajaan. Sedangkan amir al-umara berkuasa penuh atas pemerintahan bahkan menentukan kebijakan yang menguntungkan dinasti Buwaihi. Menurut Professor Syafiq Mughni dalam Ensiklopedia Tematis Dunia Islam ; Khalifah mengatakan “Kegagalan kekhalifahan Abbasiyah untuk merekrut dan membayar militer selama separuh pertama abad ke- 4 H/10 M yang membuat dinasti itu mengendalikan dinasti Abbasiyah”.
Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa Dinasti Buwaihi mulai dikenal dalam sejarah pada awal abad ke-4 H. Pada awalnya, dinasti Buwaihi berasal dari tiga bersaudara yang bernama Ali bin Buwaihi, Al Hasan bin Buwaihi dan Ahmad bin Buwaihi. Ketiganya adalah putra dari orang yang bernama Buwaihi. Perlu diketahui bahwa Buwaihi ini berasal dari keluarga miskin yang tinggal di suatu negeri bernama Dailam, yang kehidupan sehari-harinya bekerja sebagai Nelayan. Ketiga orang anaknya juga mengikuti kehidupan dan pekerjaan sehari-hari ayahnya sebagai nelayan. Akan tetapi dikemudian hari mereka bertiga menjadi tentara. Keluarga Buwaihi terkenal dengan keberaniannya. Watak keberanian ini memang sudah keturunan dari kakek mereka yang bergelar Abu Suja’, yang memiliki arti bapak pemberani.

Anak tertua Buwaihi, yakni Ali bin Buwaihi diangkat menjadi komandan tentara karena keberaniannya dan kecakapannya sebagai seorang pemimpin. Setelah diangkat menjadi komandan tentara , Ali bin Buwaihi membawa kedua adiknya Al-Hasan dan Ahmad pindah dari negeri mereka ke ibu kota Daulah Abbasiyah, Baghdad. Sebelum Dinasti Buwaihi berkuasa di dalam Daulah Abbasiyah, orang-orang Turki lah yang menguasai Daulah Abbasiyah. Penguasa yang terakhir dari orang-orang Turki adalah Mardawij, pada masa inilah ketiga putra Buwaihi datang untuk bekerja di bawah pimpinan Mardawij. Oleh Mardawij mereka diterima dengan baik, karena mereka memiliki kecakapan yang tinggi dan ketiganya diangkat menjadi panglima untuk wilayah-wilayah yang luas, dan kepada mereka diberi gelar sultan.   
‘Ali bin Buwaihi yang merupakan putra Buwaihi tertua  diberi kekuasaan untuk seluruh wilayah Persia, Al-Hasan adik ‘Ali- diberi kekuasan untuk wilayah Ray,  Hamadzan dan Isfahân, sedangkan Ahmad bin Buwaihi  yang paling muda diberikan kekuasaan untuk wilayah Ahwaz dan Kirman. Pemberian kekuasaan ini tentunya memberikan peluang bagi Dinasti Buwaihi untuk mendapatkan kekuasaan lebih dikemudian hari. Terlebih lagi selain dipercaya menjadi penguasa wilayah, mereka juga merangkap menjadi panglima. Ahmad bin Buwaihi yang pada saat  itu ibu kota Baghdad berada dalam kekuasaannya selalu mencari peluang yang baik untuk menduduki Baghdad yang menjadi tempat kedudukan khalifah. Kota ini dikawal ketat oleh sejumlah pengawal yang dipimpin oleh Tauzon, seorang diktator militer yang bergelar Amîr al-Umarâ’. Pada masa khalifah al-Muttaqiy, Ahmad bin Buwaihi pernah diminta oleh khalifah datang ke Baghdad guna melindungi dirinya, karena pada waktu itu terjadi keretakan hubungan antara khalifah dengan Tauzon. Pada tahun 332 H ia berangkat menuju Baghdad, namun sebelum masuk kota itu ia dicegat oleh Tauzon, sehingga ia gagal masuk ke sana.
Pada tahun 334 H Tauzon meninggal dunia, sedangkan wakilnya yang bernama Ibn Syairazad sedang berada di luar kota Baghdad. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Ahmad ibn Buwaihi untuk memasuki Baghdad, kehadirannya diterima baik oleh Khalifah al-Mustakfiy yang ketika itu menghadapi bahaya besar dari orang-orang Turki. Dalam kondisi ini yang terbaik baginya adalah meminta perlindungan kepada Ahmad ibn Buwaihi yang terkenal gagah dan berani dengan cara mengangkatnya sebagai penguasa atas nama khalifah. Sehingga orang-orang Turki yang dianggap berbahaya tidak berpeluang merebut kedudukan khalifah. Sebagai penghargaan terhadap keluarga Buwaihi, khalifah memberikan gelar kepada Ahmad bin Buwaihi dengan Mu’îz al-Daulah, kepada Ali bin Buwaihi dengan Imâd al-Daulah dan kepada Hasan bin Buwaihi dengan Rukn al-Daulah. Mulai saat itu resmilah keluarga Buwaihi sebagai pemegang kekuasaan dalam Daulah Abbasiyah. Selanjutnya kekuasaan dipegang secara turun temurun oleh keluarga ini hingga mereka dijatuhkan oleh Bani Saljuk pada tahun 447 H/ 1055 M.


Selama dinasti Buwaihi berdiri, terdapat sebelas khalifah yang pernah memimpin dinasti Buwaihi, berikut ini nama-nama khalifah dinasti Buwaihi :
1.      Ahmad Ibn Buwaihi (Mu’îz al-Daulah) tahun 334-356 H
2.      Bakhtiar (’Îzz al-Daulah) tahun 356-367 H
3.      Abu Suja’ ’Khusru (‘Adhd al-Daulah) tahun 367-372 H
4.      Abu Kalyajar al-Marzuban (’Sham-sham al-Daulah) tahun 372-376 H
5.      Abu al-Fawaris (’Syaraf al-Daulah) tahun 376-379 H
6.      Abu Nash Fairuz (’Baha’ al-Daulah) tahun 379-403 H
7.      Abu Suja’ (Sultan al-Daulah) tahun 403-411 H
8.      Musyrif al-Daulah tahun 411-416 H
9.      Abu Thahîr (’Jalal al-Daulah) tahun 416-435 H
10.  Abu Kalyajar al-Marzuban (Imad al-Daulah) tahun 435-440 H
11.  Abu Nashr (’Kushr al-Malik al-Rahîm ) tahun 440-447 H


Hancurnya dinasti Buwaihi
Peperangan antara Baha’, Syaraf dan saudara ketiga mereka, Shamsham Al Dawlah, juga pertikaian antar anggota-anggota kerajaan untuk menentukan penerus mereka serta fakta bahwa Buwaihi berkecenderungan Syi’ah sehingga sangat di benci oleh orang-orang Baghdad yang Sunni, menjadi sebab-sebab penting bagi keruntuhan dinasti Buwaihi. Pada tahun 1055, Raja Saljuk yang bernama Thughril Beg memasuki Baghdad dan megakhiri riwayat kekuasaan Buwaihi. Raja yang terakhir dari dinasti ini di Irak yang bernama Al Malik Al RAhim (1048-1055), mengakhiri hidupnya dalam kurungan.