Minggu, 08 April 2018

Dinasti Ayyubiyah Part II


Assalamualaikum sahabat blogger miracle islam J, kembali lagi di blog miracle islam. Seperti biasa, setiap bulannya admin akan memposting sejarah tentang peradaban-peradaban islam yang ada di dunia. Pada dua postingan sebelumnya, admin telah membahas sejarah tentang dinasti Ayyubiyah. Pada postingan kali ini, admin akan membahas lebih dalam tentang dinasti Ayyubiyah. Jadi, mari kita simak pembahasannya.

image from : www.slideshare.net


Seperti yang telah kita ketahui pada postingan sebelumnya, bahwa Salahuddin Al-Ayyubi merupakan pendiri sekaligus khalifah pertama yang memerintah dinasti Ayyubiyah. Pada saat Salahuddin Al-Ayyubi menjadi khalifah, terdapat banyak sekali tantangan yang dihadapi Salahuddin. Salah satunya adalah perang Salib yang mengakibatkan ribuan rakyat muslim dibantai secara sadis oleh pasukan salib. Untuk itulah setelah Salahuddin Al-Ayyubi menjadi khalifah, hal pertama yang ia lakukan adalah memusatkan perhatiannya untuk menyerang Yerusalem. Salahuddin pun berangkat bersama pasukannya ke kota Yerussalem.  Saat ia dan pasukannya telah mendekati kota Yerussalem, Salahuddin memerintahkan agar seluruh pasukan Salib yang berada di dalam kota Yerussalem menyerah. Akan tetapi, perintah Salahuddin sama sekali tidak dihiraukan oleh pasukan Salib. Hal ini membuat Salahuddin berjanji untuk membalaskan dendam atas pembantaian ribuan warga muslim. Setelah Salahuddin dan pasukannya melakukan beberapa kali pengepungan di Yerussalem, semangat tempur pasukan salib mulai goyah. Kemudian, pasukan salib pun memohon perdamaian dengan Salahuddin. Permintaan damai pun diterima dengan senang hati oleh Salahuddin. Akhirnya Yerussalem dapat direbut kembali dan warga muslim dan non muslim hidup berdampingan dengan damai.

Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Dengan jatuhnya Yerusalem dalam kekuasaan kaum Muslimin, menimbulkan keprihatinan besar bagi kalangan tokoh-tokoh Kristen. Seluruh penguasa negeri Kristen di Eropa berusaha menggerakkan pasukan Salib lagi guna merenut kembali Yerussalem kedalam kekuassan umat kristen. Kemudian, Ribuan pasukan Kristen berbondong-bondong menuju Tyre untuk berjuang mengembalikan kekuasaan mereka yang hilang. Seluruh kekuatan salib berkumpul di Tyre, mereka segera bergerak mengepung Acre.

Mengetahui hal ini, Salahuddin segera menyusun strategi untuk menghadapi pasukan Salib. Strategi yang ia gunakan adalah strategi bertahan di dalam negeri, meskipun para amir (penasihat) Salahuddin menentang strategi yang ia terapkan. Akan tetapi, sesuai dengan dugaan para amir, Salahuddin mengambil strategi yang kurang tepat. Hal inilah yang membuat Salahuddin terdesak oleh pasukan Salib dan akhirnya Salahuddin mengajukan tawaran damai. Namun berbeda dengan sikap Salahuddin yang mau menerima permintaan damai pasukan kristen, pemimpin pasukan kristen yang tidak mempunyai balas budi ini menolak tawaran Salahuddin dan membantai pasukan muslim secara kejam.

Setelah berhasil meenguasai Acre, pasukan Salib kembali bergerak menuju Ascalon  yang dipimpin oleh Jenderal Richard. Bersama dengan pasukan Salib, Salahuddin sedang mengerahkan pasukannya ke Ascalon. Akan tetapi pasukan Salahudin tiba lebih awal. Ketika Jendral Richard tiba di Ascalon, ia mengetahui bahwa kota Ascalon sudah dikuasai pasukan Salahuddin. Jenderal Richard mengetahui bahwa ia dan pasukannya tidak mampu untu mengepung kota Ascalon lebih lama, Jenderal Richard memutuskan untuk mengirimkan delegasi perdamaian kepada Salahuddin. Atas kemurahan hati Salahuddin, ia pun menyetujui perdamaian tersebut dengan kesepakatan bahwa antara pihak muslim dan pasukan Salib tidak saling menyerang dan menjamin keamanan. Perjanjian damai yang menghasilkan kesepakatan di atas mengakhiri perang Salib ketiga.

Sebelum Salahuddin wafat pada tahun 1193, Salahuddin memberikan bagian dari Dinasti Ayyubiyah kepada berbagai anggota keluarganya. Anaknya yang tertua, Al-Malik Al-Afdal, menguasai Damaskus dan Syam Selatan. Anaknya yang lain, al-Aziz, menguasai Mesir, dan Al-Zahir menguasai Aleppo. Saudara Salahuddin, al-Adil, menguasai Irak dan Diyarbakr. Sementara itu keluarganya yang lain menguasai Hama, Balbek dan Yaman.

Setelah Salahuddin wafat, kendali Dinasti Ayyubiyah dipegang al-Aziz Imaduddin. Akan tetapi Al-Aziz berkonflik dengan saudaranya yaitu Al-Afdal, penguasa Damaskus. Jabatan Al-Afdal lalu diberikan kapada Al-Adil Syaifuddin Mahmud (saudara Salahuddin). Pada saat Al-Aziz wafat pada tahun 595H, kekuasaan Al-Aziz diberikan kepada putranya, Al-Mansur. Mengetahui wafatnya Al-Aziz, Al-Adil segera datang ke Mesir untuk mengalahkan dan melengserkan al-Manshur ibn al-Aziz yang pada saat ia menggatikan ayahnya, masih berusia belia dari kursi kesultanan. Pada tahun 615 H, Sultan al-Adil wafat dan digantikan oleh anaknya, Sultan al-Kamil. Pada masa awal kekuasaan al-Kamil, serangan Salib kelima dilancarkan guna memenuhi seruan Paus Innocent III. Serangan diarahkan ke Mesir. Setelah mengalami pertempuran yang sengit, pasukan Salib bisa menguasai Dimyath. Dengan mengandalkan jumlah, pasukan Salib terus bergerak dan berniat menyerang Kairo pada 619 H. Akan tetapi pasukan muslim dapat mengambil posisi di sungai Nil untuk menutup jalan pasukan Salib. Hal ini diakibatkan kesalahan mereka dalam mengambil rute. Alhasil, pasukan Salib terkepung dan terpaksa mengajukan tawaran damai. Al-Kamil bersedia menerima, tapi dengan syarat mereka harus memberikan jaminan bahwa Dimyath kembali ke tangan umat Islam. Akhirnya kota Dimyath dapat direbut kembali.

Jumat, 09 Maret 2018

Dinasti Delhi Part I


Assalamualaikum sahabat blogger miracle of islam J, kembali lagi di blog kami, yang akan mengupas tuntas sejarah-sejarah peradaban islam didunia. Jika kemarin kami telah membahas dinasti Ayyubiyah, kali ini blog miracle of islam akan membahas salah satu dinasti yang terletak di India. Dinasti itu adalah dinasti Delhi, yang merupakan kerajaan islam pertama di India. Awal permulaan tegaknya islam di India tentunya tidak terlepas dari pengaruh kesultanan Delhi pada tahun 1206M. Nama kesultanan Delhi, diambil berdasarkan nama kota di bagian utara India yang menjadi ibu kota dinasti Delhi, yaitu kota Delhi. Tidak seperti kebanyakan dinasti Islam yang pada umumnya runtuh dengan berakhirnya keturunan para pendirinya, kesultanan Delhi berakhir setelah mengalami lima kali pergantian kepemimpinan lima dinasti. Lima dinasti tersebut adalah Dinasti Mamluk, Dinasti Khalji, Dinasti Tughlaq, Dinasti Sayyid, dan Dinasti Lodi.
1.      Dinasti Mamluk - Pemerintahan Awal Kesultanan Delhi
A.    Quthb al-Din al-Aybak (1206-1210)
Ketika Mu’izzuddin terbunuh, Quthb al-Din al-Aybak berada di Delhi. Kemudian ia menjadi pengganti Mu’izzuddin dalam memerintah India utara yang dipusatkan di Delhi. Mu’izzuddin tidak hanya membebaskannya dari perbudakan tapi juga memberikan kekuasaan kesultanan padanya. Akan tetapi selama empat tahun masa pemerintahannya ditandai dengan perjuangan melawan Yildiz, penguasa Turki di Ghazna dan Qabacha, penguasa Sind dan Multan. Selain itu Aybak juga melawan pemberontakan raja-raja Hindu yang menentang kekuasaan muslim di India. Kematian Aybk yang tiba-tiba pada tahun 1210 M mengakhiri karirnya yang menjanjikan. Meskipun begitu, perannya sebagai letnan di masa kepemerintahan Mu’izuddin Ghuri, juga dalam mempertahankan kekuasaan Islam di India memposisikannya di tempat paling penting dalam sejarah Kesultanan Delhi. Setelah meninggalnya Aybak, Aram shah yang merupakan putra dari Aybak diangkat menjadi Sultan. Akan tetapi akibat ketidakmampuannya dalam menata Negara, mengharuskan para pembesar istana Delhi mengangkat seorang raja bernama Iltumish yang juga mantan budak. Dia adalah menantu Aybak yang pada saat itu menjabat sebagai gubernur Badaun. Kecakapannya dalam dunia perpolitikan dan membesarkan negara menjadikannya sebagai orang yang berpengaruh dan paling berjasa sepanjang kesultanan Delhi.


B.     Sultan Iltumish (1211-1236 M)
Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa sultan Iltutmish naik tahta Delhi, saat kesultanan berada dalam posisi sulit dan tidak stabil akibat ketidakcakapan Aram Shah. Selain itu sikap menentang dari para jendral senior rekan Aybak seperti Qabacha dan Yildiz dan juga perlawanan dari para penguasa Hindu. Akan tetapi, hal yang paling mengancam diantara semuanya adalah kekuatan besar yang tumbuh dari Chinggisid Mongol di Perbatasan Utara-Barat. Bangsa Khalji di Bengal dan Bihar juga menarik dukungan mereka. Namun, semua hal itu tidak membuat sultan Iltumish gentar. Dengan  keberaniannya yang besar, kecerdasannya dalam mengatur strategi dan pemanfaatan waktu membuatnya dapat menghadapi semua kesulitan dan menangani berbagai masalah. Dia mampu mengecam balik sikap permusuhan para jenderal Turki; membungkam perlawanan Hindu; membangun kembali kekuasaannya di provinsi-provinsi timur, juga menyelamatkan kerajaannya dari serangan pasukan Mongol. 
Iltutmish adalah penguasa berdaulat pertama Delhi dan dianggap sebagai pendiri Kesultanan Delhi. Dia dianugrahi penghargaan untuk jasanya menciptakan fondasi negara yang tahan lama, mengorganisir administrasi dan mengembangkan kebijakan politik dasar negarawan. Pada tahun 1229 M, Al-Mustanshir, khalifah Abbasiah di Baghdad, memberikan mandat otoritas kepada Iltutmish. Hal ini membuat Kesultanan Delhi diakui secara legal pun moral di mata penguasa Muslim ortodoks. Iltutmish juga menjaga hubungan baiknya dengan ulama dan mashayikh sehingga ia diterima dan mendapat legitimasi bagi kesultanannya yang baru. Sebelum wafat, Iltumish menunjuk putrinya, Razia sebagai pengganti disebabkan semua anak laki-lakinya tidak punya kemampuan untuk mengatur negara. Wasiat ini ditolak oleh para pembesar istana yang keberatan dengan sultan perempuan. Sehingga, saudaranya Rukunuddin Firuz diangkat sebagai sultan. Asumsi Iltumish terbukti, Rakunuddin tidak mampu memimpin kesultanan. Razia diangkat kembali menjadi seorang penguasa di Delhi. Dia adalah penguasa perempuan pertama dalam sejarah Islam. Pengangkatan ini memicu pemberontakan di mana-mana yang menolak sultan perempuan pada tahun 1240 M, disamping itu Sultanah Razia pun tidak memperoleh restu dari khalifah Abbasiah di Baghdad. Razia jatuh dan digantikan oleh saudara laki-lakinya, Bahram Shah. Sama halnya seperti Rukunuddin, Bahram pun tidak mampu memimpin. Selama kepemimpinan putra dan putri Iltumish yang tak meyakinkan ini, memberikan kesempatan pasukan Mongol menekan perbatasan, sehingga Lahore dan Multan menjadi sasaran penyerangan. Gubernur-gubernur di provinsi juga memiliki kesempatan memperluas otonomi mereka sedangkan para penguasa Hindu, khususnya Rajput, menunjukkan tanda-tanda ketidakpuasan.
Pada tahun 1246 M pemerintahan diambil alih oleh Nasiruddin Mahmud yang yang terkenal dengan kesalehan, kesederhanaannya dan paling baik pribadinya diantara para penguasa abad ke-12 M. Konon, Nasiruddin tidak pernah menerima satu sen pun uang negara sebagai gajinya. Dikarenakan Nasirudin tidak dianugrahi seorang putra, maka ia digantikan oleh Ghiasuddin Balban seorang mantan budak dari Sultan Iltumish.
C.     Ghiatsuddin Balban (1266-1287)
 Salah satu perkembangan penting pada periode pasca-Iltutmish adalah keberadaan sekelompok bangsawan yang dikenal dengan nama Ghulaman Chihilgani yang kesemuanya adalah budak Iltumish. Kira-kira arti dari nama tersebut adalah komandan budak yang membawahi empat puluh budak. Kelompok ini mendominasi lapangan dan memegang komisi kekuasaan selama tiga puluh tahun sehingga keberadaan sultan hanyalah sebagai pimpinan boneka saja. Sosok terkuat dan paling mendominasi diantara kelompok ini adalah Ghiasuddin Balban. Dia telah memperoleh kekuasaan yang cukup besar bahkan sebelum aksesi Sultan Nasiruddin Mahmud, penguasa terakhir dari garis keluarga Iltutmish. Tak lama setelah aksesi Nasiruddin Mahmud, Balban dianggap sebagai na’ib al-mamlakat (raja muda), yang mengakibatkan pengaruh bayangan sebagai wali mengurangi kekuasaan sultan. Selama dua dekade Balban mengemudikan negara sebagai na’ib al-mamlakat, Balban berusaha membendung kekacauan dekade anarki (1236-1246). Setelah menjabat posisi tertinggi kesultanan, Balban meyakini bahwa kelemahan mahkota terletak pada akar semua penyakit negara. Gagasan tentang monarki, pemerintahan dan agama, terungkap dalam pidato-pidatonya kepada putra-putranya dan para bangsawan, yang seringkali disebut sebagai ‘teori politik’ nya. Berbagai elemen pemikirannya, meskipun tidak rumit atau cukup komprehensif untuk dipertimbangkan sebagai sebuah teori, tetap masuk akal.  Balban menampilkan kekuatan besar dan kekejaman dalam menghancurkan rival politik, pemberontak, menghukum gubernur dan kepala daerah yang keras kepala.
Balban terkenal akan kediktatorannya, baginya the blood iron policy untuk keamanan dan penegakan hukum Allah di negerinya. Sepeninggal sultan Balban, beliau digantikan cucunya Kaikobad (1287-1289 M) yang bergelar Mu’izzuddin. Sultan muda ini lebih suka berfoya-foya dan tidak berpengalaman dalam hal administrasi negara sehingga segera kehilangan semua kendali urusan negara. Melihat itu, para pembesar istana pun bersekongkol mengkudetanya lalu menggantikannya dengan putranya, Kaimus (1289 M) yang baru berusia tiga tahun, agar pemerintahan tidak keluar dari garis keturunan Balban.  Kepemimpinan Sultan Kaimus tidak menjanjikan harapan bagi keberlangsungan Dinasti Mamluk, hingga berakhir di tangan klan Khalji dengan tampuk kepemimpinan dipegang oleh Jalaluddin Firuz yang berhasil melepaskan Kesultanan Delhi dari pengaruh bangsawan Turki.

Sabtu, 10 Februari 2018

Dinasti Ayyubiyah Part I

Assalamualaikum sahabat blog miracle islam 😊, kembali lagi dengan kami di blog yang membahas tentang sejarah-sejarah dinasti islam yang pernah berdiri dunia. Mungkin beberapa diantara kalian merasa bahwa buat apa kita belajar sejarah. Akan tetapi ternyata, dengan mempelajari sejarah, kita dapat menata masa depaj kita menjadi lebih baik, seperti yang dikatakan oleh presiden pertama kita, yaitu Ir. Soekarno. Beliau mengatakan JASMERAH yang merupakan singkatan jangan sekali-kali melupakan sejarah.



Nah sahabat blog, kali ini kita akan mengupas tuntas sejarah dinasti islam yang bernama dinasti Ayyubiyah. Sesuai dengan namanya, dinasti ini di dirikan oleh Salahuddin Al-Ayyubi yang merupakan keturunan Kurdi dari Azerbaijan yang melakukan migrasi ke Irak. Salahuddin Al-Ayyubi lahir di Tikrit 532 H/1137 M dan meninggal 589 H/1193 M. Ia juga merupakan seorang sultan yang dikenal adil, toleran, pemurah, zuhud, dan qana’ah. Salahuddin Al-Ayubbi merupakan anak dari Najmuddin Ayyub, yang merupakan gubernur Tikrit yang selanjutnya pindah ke Moshul, lalu ke Damaskus. Setelah itu Najmuddin dan saudaranya Asaduddin Syirkuh menjadi panglima Nuruddin Mahmud atau dikenal dengan Nuruddin Zangi di Mesir. Setelah Asaduddin Syirkuh meninggal, ia digantikan oleh keponakannya yaitu Salahuddin al-Ayyubi. Dengan demikian, ia menjadi menteri untuk Khalifah al-Adid yang menganut Syiah dan dan wakil dari Nuruddin Mahmud yang beraliran Sunni.

Bagi para sobat yang pernah menonton film Kingdom Of Heaven, tentunya tidak akan asing mendengar nama Salahuddin Al-Ayyubi. Akan tetapi mungki bagi beberapa orang islam mungkin akan terasa asing mendengar dinasti Ayyubiyah, karena nama dinasti ini kalah tenar dengan nama sultan atau pendiri pertama mereka, yaitu Salahuddin Al-Ayyubi. Perlu diketahui bahwa, dinasti Ayyubiyah adalah sebuah daulah besar yang berbentuk dinasti atau kerajaan, berkuasa di Timur Tengah antara abad ke-12 sampai abad ke-13. Selain itu, dinasti Ayyubiyah juga dikenal sebagai dinasti penakluk dalam jihad. Mengapa dikatakan demikian? Hal ini dikarenakan dinasti Ayyubiyah sangat berperan dalam upaya mematahkan gempuran musuh dalam perang Salib. Apabila dinasti Ayyubiyah ini tidak berdiri, hampir dapat dipastikan Islam pasti akan tercerabut dari bumi Syam, Jazirah, Mesir dan Afrika Utara. Salahuddin Al-Ayyubi dapat menunjukkan eksistensinya sebagai Sultan sekaligus penakhluk yang cakap hingga dapat mendirikan Dinastinya sendiri. Sehingga kemampuannya dalam memimpin tidak perlu diragukan lagi. Kedudukannya sebagai seorang Sultan menandai bertambahnya tantangan yang harus ia hadapi. Perlu digaris bawahi pula, bahwa keberhasilannya dalam mendirikan dinastinya sendiri tidak terlepas dari peran Dinasti Zangkiyah yang telah mendidik Salahuddin sampai menjadi seorang tokoh pejuang panji Islam di timur tengah.



Semasa hidupnya, Salahuddin Al-Ayyubi memiliki dua ambisi besar. Kedua ambisi itu adalah :
1. Menggantikan Islam Syi'ah yang ada di Mesir, menjadi Islam Sunni
2. Memerangi orang-orang Franka dari perang suci (perang salib)


Berdirinya dinasti Ayyubiyah dibagi menjadi dua periode, yaitu

1. Penaklukan Dinasti Fathimiyah

Periode pertama merupakan penaklukan dinasti Fathimiyah. Penaklukan ini diawali  akibat adanya konflik internal antara khalifah Fatimiyah yang terakhir, Al-Adid, dengan menterinya Sawar. Akhir dari konflik ini yaituSawar, berhasil menjatuhkan kekuasaan Al-Adid. Akan tetapi, dengan jatuhnya khalifah Al-Adid, justru membawa kebencian pihak lain yang juga mengincar kekuasaan. Pihak itu adalah Dirgham. Dirgham bersama pendukungnya berhasil menjatuhkan Sawar. Dengan jatuhnya Sawar, maka Dirgham diangkat menjadi Wazir sedangkan Sawar melarikan diri ke Syiria pada tahun 557 H/1163 M. Disana, Sawar meminta bantuan kepada Nuruddin Zanqi (Nuruddin Mahmud) yang merupakan penguasa Bani Saljuk di Syiria pada waktu itu, untuk merebut kedudukannya kembali. Ia berjanji jika usahanya berhasil, ia akan membayar upeti dan membagi hasil kepada Nuruddin Zanqi. Nuruddin Zanqi pun menerima kesepakatan tersebut. Kemudian Nuruddin memerintahkan panglima perangnya, Asaduddin Syirkuh untuk berangkat ke Mesir dan merebut kekuasaan Dirgham. Dengan bantuan ini Sawar berhasil menjadi wazir. Akan tetapi, setelah kedudukannya kembali, bak kacang lupa kulitnya, Sawar berusaha menghkianati perjanjiannya dengan Nuruddin Zanqi dan mengadakan konspirasi baru dengan Meric dalam upaya mengusir Asaduddin Syirkuh dari Mesir dengan janji yang sama. Usahanya pun berhasil mengusir Syirkuh. Akan tetapi, tindakan Sawar inilah yang membawa kehancuran bagi Dinasti Fatimiyah.
Bermula dari sini tentara salib menjarah Mesir. Nuruddin segera mengirim tentaranya ke Mesir di bawah pimpinan Syirkuh dan Salahuddin. Pada akhirnya, terjadilah pertempuran antara pihak Islam dan Salib untuk merebut Mesir. Pada 564 H/1169 M, Syirkuh dan pasukannya dapat mengalahkan tentara Salib sekaligus dapat menguasai Mesir dan diangkat sebagai wazir. Syirkuh memegang jabatan hanya selama dua bulan karena meninggal dunia dan jabatannya digantikan oleh keponakannya yaitu Salahuddin al-Ayyubi. Salahuddin sebenarnya mulai menguasai Mesir pada tahun 564 H/1169 M, akan tetapi baru dapat menghapuskan kekuasaan Daulah Fatimiyah pada tahun 567 H/1171 M. Dalam masa tiga tahun itu, ia telah menjadi penguasa penuh, namun tetap tunduk kepada Nuruddin Zangi dan tetap mengakui kekhalifahan Daulah Fatimiyah.

2. Perlawanan Terhadap Sultan Ismail Malik Syah

Periode kedua ini juga dikenal sebagai periode orang-orang Syiria (1174-1186). Periode ini dimulai dengan wafatnya Nuruddin Zanqi. Sepeninggalan Nuruddin Zanqi, posisi khalifah digantikan oleh anaknya yang bernama, Sultan Ismail Malik Syah yang pada saat diangkat menggantikan ayahnya masih berusia belia. Karena usianya yang masih belia inilah, membuat amir-amirnya saling berebut pengaruh yang menyebabkan timbulnya krisis politik internal. Kondisi demikian ini memudahkan bagi pasukan Salib untuk menyerang Damaskus dan menundukannya. Setelah beberapa lama tampillah Salahuddin berjuang mengamankan Damaskus dari pendudukan pasukan Salib. Lantaran hasutan Gumusytag, sang sultan belia Malik Syah menaruh kemarahan terhadap sikap Salahuddin ini sehingga menimbulkan konflik antara keduanya. Sultan Malik Syah menghasut masyarakat Alleppo berperang melawan Salahuddin, Kekuatan Malik Syah di Alleppo dikalahkan oleh pasukan Salahuddin. Merasa tidak ada pilihan lain, Sultan Malik Syah meminta bantuan pasukan Salib. Semenjak kemenangan melawan pasukan Salib di Alleppo ini, terbukalah jalan bagi tugas dan perjuangan Salahuddin di masa-masa mendatang sehingga ia berhasil mencapai kedudukan sultan. Semenjak tahun 578 H/1182 M, Kesultanan Saljuk di pusat mengakui kedudukan Salahuddin sebagai Sultan.

Sebagai Sultan yang pertama sekaligus pendiri dinasti, tantangan yang dihadapi Salahuddin pasca menjadi Sultan adalah memusatkan perhatiannya untuk menyerang Yerusalem. Hal ini menjadi fokus pertama Salahuddin bukan tanpa alasan, dimana ribuan rakyat muslim dibantai oleh pasukan Salib-Kristen di Yerusallem. Pada saat Salahuddin mendekati kota Yerusallem, Salahuddin sempat menyampaikan perintah agar seluruh pasukan Salib di Yerussalem menyerah. Akan tetapi, perintah Salahuddin sama sekali tidak dihiraukan oleh pasukan salib. Hal ini membuat Salahuddin berjanji untuk membalas dendam atas pembantaian ribuan warga muslim. Setelah terjadi beberapa kali pengepungan, pasukan salib kehilangan semangat tempurnya dan memohon damai dengan Salahuddin. Karena kemurahan hati sang sultan permintaan damai pun diterima. Akhirnya Yerussalem dapat direbut kembali dan warga muslim dan non muslim hidup berdampingan dengan damai.
Dengan jatuhnya Yerusalem dalam kekuasaan kaum Muslimin, berdampak pada keprihatinan besar kalangan tokoh-tokoh Kristen. Seluruh penguasa negeri Kristen di Eropa berusaha menggerakkan pasukan Salib lagi. Ribuan pasukan Kristen berbondong-bondong menuju Tyre untuk berjuang mengembalikan kekuasaan mereka yang hilang. Seluruh kekuatan salib berkumpul di Tyre, mereka segera bergerak mengepung Acre. Melihat pergerakan tentara salib, tentunya Salahuddin tidak tinggal diam. Salahuddin segera menyusun strategi untuk menghadapi pasukan Salib. Sebagian besar para Amir menyarankan agar tidak menetapkan strategi bertahan di dalam negeri. Akan tetapi Salahuddin justru mengabaikan saran para amir dan mengambil sikap yang kurang tepat. Hal ini membuat Salahuddin terdesak dan kepayahan oleh pasukan Salib dan akhirnya Salahuddin mengajukan tawaran damai. Namun sang raja yang tidak mempunyai balas budi ini menolak tawaran Salahuddin dan membantai pasukan muslim secara kejam.
Setelah berhasil merebut Acre, pasukan Salib bergerak menuju Ascalon dipimpin oleh Richard. Bersama dengan itu, Salahuddin sedang mengarahkan operasi pasukannya dan tiba di Ascalon lebih awal. Ketika tiba di Ascalon, Richard mendapatkan kota ini sudah dikuasai pasukan Salahuddin. Merasa tidak berdaya mengepung kota ini, Richard mengirimkan delegasi perdamaian menghadap Salahuddin, atas kemurahan hati sang sultan tawaran damai tersebut diterima dengan kesepakatan bahwa antara pihak muslim dan pasukan Salib, wilayah kedua belah pihak saling tidak menyerang dan menjamin keamanan. Jadi perjanjian damai yang menghasilkan kesepakatan di atas mengakhiri perang Salib ketiga. Kemudian Salahuddin meninggal pada tahun 1193.
Sebelum wafat, Salahuddin memberikan berbagai bagian dari Dinasti Ayyubiyah kepada berbagai anggota keluarganya. Anaknya yang tertua, al-Malik al-Afdal, menguasai Damaskus dan Syam Selatan. Anaknya yang lain, al-Aziz, menguasai Mesir, dan al-Zahir menguasai Aleppo. Saudara Salahuddin, al-Adil, menguasai Irak dan Diyarbakr. Sementara itu keluarganya yang lain menguasai Hama, Balbek dan Yaman

Rabu, 10 Januari 2018

Dinasti Saljuk

Dinasti Saljuk


www.wikipedia.com

Assalamualaikum sahabat blog miracle islam J kembali lagi kita akan membahas salah satu dinasti islam yang pernah berdiri di dunia ini. Kali ini, penulis akan membahas Dinasti Saljuk. Dinasti Saljuk merupakan salah satu dinasti yang berasal dari bangsa Turki yang berasal dari suku Ghuzz. Nama Saljuk ini sendiri, diambil dari nama nenek moyang mereka, yaitu Saljuk ibn Tukak (Dukak) yang pada awalnya merupakan anggota suku Ghuzz yang bekerja di klinik, akan tetapi dikemudian hari ia diangkat menjadi kepala suku yang dihormati. Seperti yang kita ketahui, bahwa berdirinya dinasti-dinasti setelah dinasti Abbasiyah tidak terlepas dari banyaknya wilayah-wilayah yang pada mulanya berada dalam kekuasaan dinasti Abbasiyah mulai melepaskan diri dari pemerintahan dinasti Abbasiyah , diantara wilayah-wilayah yang melepaskan diri adalah yang berbangsa Persia seperti Thahiriyah di Khurasan, Syafariyah di Fars, Samaniyah di Transoxania, dll. Yang berbangsa Turki seperti Thuluniyah di Mesir, Ikhsyidiyah di Turkistan, Ghaznawiyah di Afganistan dan Dinasti Saljuk. Kita mengetahui bahwa dinasti Abbasiyah periode pertama menyumbangkan banyak kemajuan besar dalam peradaban dunia, hal ini lah yang mendorong para penguasa-penguasa selanjutnya gemar hidup dalam kemewahan yang diikuti oleh para pejabat pemerintahan lainnya. Kondisi inilah yang memberi peluang para tentara profesional asal Turki yang telah diangkat pada masa kekhalifahan al-Mu’tasim untuk mengambil alih tampuk pemerintahan. Usaha ini berhasil, sehingga kekuasaan sesungguhnya berada pada tangan mereka, sementara kekuasaan Bani Abbas di dalam khilafah Abbasiyah yang didirikannya mulai pudar dan ini merupakan awal dari keruntuhan dinasti ini, meskipun setelah itu usianya masih dapat bertahan lebih dari 400 tahun. Menurut Syafiq A. Mugni, terdapat dua versi yang menjelaskan terbentuknya komunitas Turki Saljuk, berikut ini kutipannya :
1.      Raja Turki yang bernama Beighu ingin menguasai wilayah kerajaan Islam, Tukak (Saljuk ibn Tukak) menentangnya dan ia memisahkan diri dengan para pengikutnya serta membentuk suatu komunitas terpisah dari kerajaan.
2.      Saljuk ibn Tukak memisahkan diri dari kerajaan bersama para pengikutnya dan memasuki wilayah Islam dengan mendirikan pemukiman di dekat daerah Jand di mulut sungai Jaihun



Setelah Saljuk bin Tukak meninggal, kepemimpinan Turki Saljuk digantikan oleh Arslan yang memiliki nama asli Israil bin Saljuk yang merupakan putra dari Saljuk bin Tukak. Pada masa kepempimpinannya, Bani Saljuk dapat memperluas wilayah kekuasaanya hingga daerah Nur Bukhara (Nur Ata) dan sekitar Samarkhan. Kemudian kekuasaan bani Saljuk itu diteruskan oleh Mikail. Akan tetapi Mikail berhasil dibunuh oleh penguasa dinasti Ghaznawiyah dipimpin oleh Sultan Mahmud karena kelicikannya. Dengan terbunuhnya Mikail, maka pemerintahan bani Saljuk mengalami kegoyahan.
Pada periode berikutnya Saljuk dipimpin oleh Thugrul Bek. Ia berhasil mengalahkan Mahmud al-Ghaznawi, penguasa Ghaznawiyah pada tahun 429 H / 1036 M dan memaksanya meninggalkan daerah Khurasan, setelah keberhasilan tersebut, Thugrul memproklamirkan berdirinya dinasti Saljuk. Pada tahun 432 H / 1040 M dinasti ini mendapat pengakuan dari khalifah Abbasiyah di Baghdad. Disaat kepemimpinan Thugrul Bek inilah, dinasti Saljuk memasuki Baghdad menggantikan dinasti Buwaihi. Sebelumnya Thugrul berhasil merebut daerah Marwa dan Naisabur dari kekuasaan Ghaznawi, Balkh, Jurjan, Tabaristan, Khawarizm, Ray dan Isfahan.[9] Pada tahun ini juga Thugrul Bek mendapat gelar dari khalifah Abbasiyah dengan Rukh al-Daulah Yamin Amir al-Muminin.

Dalam perkembangannya, Dinasti Saljuk dibagi menjadi 5 imperium, kelima imperium itu adalah :
1.      Saljuk Agung
Daerah kekuasaan Saljuk Agung meliputi Ray, Jabal, Irak, Persia dan Ahwaz. Setelah berhasil mengalahkan dinasti Ghaznawi dan menduduki singgasana kerajaan di Naisabur di bawah pimpinan Thugrul Bek saat itulah dia dianggap sebagai pemimpin Dinasti Saljuk yang sebenarnya dan secara resmi mendapat pengakuan dari kekhalifahan Abbasiyah. . Setelah dipilih sebagai pemimpin imperium Saljuk, Thugril Bek merencanakan dua hal
·         Melakukan konsolidasi kekuatan militer yang dianggap menentang kekuasaan saljuk.
Selama memegang kekuasaan, Thugrul Bek menggalang persatuan yang kuat dengan saudara-saudaranya dengan memberikan kepada mereka wilayah kekuasaan tertentu. Pada tahun 1050 – 1051 M ia berhasil merebut Isfahan dan menghancurkan kekuatan Daylamah di Persia. Kemenangan Thugrul Bek lebih gemilang ketika Hamadan pada tahun 1055 M dapat dikuasai

·         Memperluas kekuasaan
Thugrul Bek herhasil memperluas wilayahnya dengan merebut Jurjan,Thabaristan, Rayy, Qazwin dan Zunian hingga menguasai hampir seluruh wilayah Iran, dan kemudian memindahkan ibukotanya ke Rayy.

2.      Saljuk Irak (1118 – 10924 M)
3.      Saljuk syiria
4.      Saljuk Kirman (1041-1186 M)
5.      Saljuk Rum/Asia Kecil

Kemunduran Dinasti Saljuk
Terdapat dua factor yang yang menyebabkan kemunduran dinasti Saljuk :
1.      Faktor Internal
a.       Lemahnya para penguasa dinasti Saljuk
b.      Perebutan kekuasaan di pemerintahan pusat
c.       Munculnya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri
d.      Lemahnya perekonomian
e.       Munculnya aliran-aliran sesat dan fanatisme keagamaan
2.      Faktor Eksternal
a.       Perang salib

b.      Serangan bangsa Mongol yang mengakibatkan runtuhnya dinasti Abbasiyah

Sabtu, 09 Desember 2017

Dinasti Buwaihi

 Assalamualaikum sahabat blogger miracle of islam, kembali lagi saya akan membahas tentang dinasti Islam lainnya. Seperti yang kita telah ketahui bahwa dinasti Abbasiyah mengalami kemunduran pada abad ke-10 M tepatnya pada masa khalifah ke-20 Dinasti Abbasiyah yaitu Khalifah Ar-Radhi Billah yang berkuasa pada tahun 940-944 M, dimana pada masa kepempimpinanya kekuatan politik dan militer Adidaya dari dunia islam mulai melemah. Akibat kemunduran dinasti Abbasiyah ini, mulailah muncul dinasti-dinasti kecil akibat pemisahan wilayah yang tergabung dalam dinasti Abbasiyah. Akibat adanya pemisahan wilayah dari dinasti Abbasiyah, wilayah dinasti Abbasiyah semakin mengecil, selain munculnya dinasti kecil, berdiri pula kekhalifahan Fathimiyah yang terletak di Mesir dan kekhalifahan Ummayah yang berada di Andalusia (Spanyol). Karena kondisi inilah kemudian muncul dinasti Buwaihi yang bermazhab syi’ah yang berkuasa di wilayah Persia dan Irak yang masuk kedalam dinasti Abbasiyah dan mengendalikan roda pemerintahan. Pada masa dinasti Buwaihi, khalifah dinasti Abbasiyah hanya sebagai simbol persatuan saja, sedangkan roda pemerintahan dipegang oleh amir al-umara atau Perdana Menteri yang berasal dari dinasti Buwaihi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa khalifah hanya menjadi boneka dan tidak mempunyai kekuasaan untuk memerintah kerajaan. Sedangkan amir al-umara berkuasa penuh atas pemerintahan bahkan menentukan kebijakan yang menguntungkan dinasti Buwaihi. Menurut Professor Syafiq Mughni dalam Ensiklopedia Tematis Dunia Islam ; Khalifah mengatakan “Kegagalan kekhalifahan Abbasiyah untuk merekrut dan membayar militer selama separuh pertama abad ke- 4 H/10 M yang membuat dinasti itu mengendalikan dinasti Abbasiyah”.
Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa Dinasti Buwaihi mulai dikenal dalam sejarah pada awal abad ke-4 H. Pada awalnya, dinasti Buwaihi berasal dari tiga bersaudara yang bernama Ali bin Buwaihi, Al Hasan bin Buwaihi dan Ahmad bin Buwaihi. Ketiganya adalah putra dari orang yang bernama Buwaihi. Perlu diketahui bahwa Buwaihi ini berasal dari keluarga miskin yang tinggal di suatu negeri bernama Dailam, yang kehidupan sehari-harinya bekerja sebagai Nelayan. Ketiga orang anaknya juga mengikuti kehidupan dan pekerjaan sehari-hari ayahnya sebagai nelayan. Akan tetapi dikemudian hari mereka bertiga menjadi tentara. Keluarga Buwaihi terkenal dengan keberaniannya. Watak keberanian ini memang sudah keturunan dari kakek mereka yang bergelar Abu Suja’, yang memiliki arti bapak pemberani.

Anak tertua Buwaihi, yakni Ali bin Buwaihi diangkat menjadi komandan tentara karena keberaniannya dan kecakapannya sebagai seorang pemimpin. Setelah diangkat menjadi komandan tentara , Ali bin Buwaihi membawa kedua adiknya Al-Hasan dan Ahmad pindah dari negeri mereka ke ibu kota Daulah Abbasiyah, Baghdad. Sebelum Dinasti Buwaihi berkuasa di dalam Daulah Abbasiyah, orang-orang Turki lah yang menguasai Daulah Abbasiyah. Penguasa yang terakhir dari orang-orang Turki adalah Mardawij, pada masa inilah ketiga putra Buwaihi datang untuk bekerja di bawah pimpinan Mardawij. Oleh Mardawij mereka diterima dengan baik, karena mereka memiliki kecakapan yang tinggi dan ketiganya diangkat menjadi panglima untuk wilayah-wilayah yang luas, dan kepada mereka diberi gelar sultan.   
‘Ali bin Buwaihi yang merupakan putra Buwaihi tertua  diberi kekuasaan untuk seluruh wilayah Persia, Al-Hasan adik ‘Ali- diberi kekuasan untuk wilayah Ray,  Hamadzan dan Isfahân, sedangkan Ahmad bin Buwaihi  yang paling muda diberikan kekuasaan untuk wilayah Ahwaz dan Kirman. Pemberian kekuasaan ini tentunya memberikan peluang bagi Dinasti Buwaihi untuk mendapatkan kekuasaan lebih dikemudian hari. Terlebih lagi selain dipercaya menjadi penguasa wilayah, mereka juga merangkap menjadi panglima. Ahmad bin Buwaihi yang pada saat  itu ibu kota Baghdad berada dalam kekuasaannya selalu mencari peluang yang baik untuk menduduki Baghdad yang menjadi tempat kedudukan khalifah. Kota ini dikawal ketat oleh sejumlah pengawal yang dipimpin oleh Tauzon, seorang diktator militer yang bergelar Amîr al-Umarâ’. Pada masa khalifah al-Muttaqiy, Ahmad bin Buwaihi pernah diminta oleh khalifah datang ke Baghdad guna melindungi dirinya, karena pada waktu itu terjadi keretakan hubungan antara khalifah dengan Tauzon. Pada tahun 332 H ia berangkat menuju Baghdad, namun sebelum masuk kota itu ia dicegat oleh Tauzon, sehingga ia gagal masuk ke sana.
Pada tahun 334 H Tauzon meninggal dunia, sedangkan wakilnya yang bernama Ibn Syairazad sedang berada di luar kota Baghdad. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Ahmad ibn Buwaihi untuk memasuki Baghdad, kehadirannya diterima baik oleh Khalifah al-Mustakfiy yang ketika itu menghadapi bahaya besar dari orang-orang Turki. Dalam kondisi ini yang terbaik baginya adalah meminta perlindungan kepada Ahmad ibn Buwaihi yang terkenal gagah dan berani dengan cara mengangkatnya sebagai penguasa atas nama khalifah. Sehingga orang-orang Turki yang dianggap berbahaya tidak berpeluang merebut kedudukan khalifah. Sebagai penghargaan terhadap keluarga Buwaihi, khalifah memberikan gelar kepada Ahmad bin Buwaihi dengan Mu’îz al-Daulah, kepada Ali bin Buwaihi dengan Imâd al-Daulah dan kepada Hasan bin Buwaihi dengan Rukn al-Daulah. Mulai saat itu resmilah keluarga Buwaihi sebagai pemegang kekuasaan dalam Daulah Abbasiyah. Selanjutnya kekuasaan dipegang secara turun temurun oleh keluarga ini hingga mereka dijatuhkan oleh Bani Saljuk pada tahun 447 H/ 1055 M.


Selama dinasti Buwaihi berdiri, terdapat sebelas khalifah yang pernah memimpin dinasti Buwaihi, berikut ini nama-nama khalifah dinasti Buwaihi :
1.      Ahmad Ibn Buwaihi (Mu’îz al-Daulah) tahun 334-356 H
2.      Bakhtiar (’ÃŽzz al-Daulah) tahun 356-367 H
3.      Abu Suja’ ’Khusru (‘Adhd al-Daulah) tahun 367-372 H
4.      Abu Kalyajar al-Marzuban (’Sham-sham al-Daulah) tahun 372-376 H
5.      Abu al-Fawaris (’Syaraf al-Daulah) tahun 376-379 H
6.      Abu Nash Fairuz (’Baha’ al-Daulah) tahun 379-403 H
7.      Abu Suja’ (Sultan al-Daulah) tahun 403-411 H
8.      Musyrif al-Daulah tahun 411-416 H
9.      Abu Thahîr (’Jalal al-Daulah) tahun 416-435 H
10.  Abu Kalyajar al-Marzuban (Imad al-Daulah) tahun 435-440 H
11.  Abu Nashr (’Kushr al-Malik al-Rahîm ) tahun 440-447 H


Hancurnya dinasti Buwaihi
Peperangan antara Baha’, Syaraf dan saudara ketiga mereka, Shamsham Al Dawlah, juga pertikaian antar anggota-anggota kerajaan untuk menentukan penerus mereka serta fakta bahwa Buwaihi berkecenderungan Syi’ah sehingga sangat di benci oleh orang-orang Baghdad yang Sunni, menjadi sebab-sebab penting bagi keruntuhan dinasti Buwaihi. Pada tahun 1055, Raja Saljuk yang bernama Thughril Beg memasuki Baghdad dan megakhiri riwayat kekuasaan Buwaihi. Raja yang terakhir dari dinasti ini di Irak yang bernama Al Malik Al RAhim (1048-1055), mengakhiri hidupnya dalam kurungan.

Jumat, 10 November 2017

Dinasti Fatimiyah


Assalamualaikum sahabat blog miracle islam J kembali lagi kita akan membahas salah satu dinasti islam yang pernah berdiri didunia. Kali ini kita akan membahas sejarah lengkap tentang dinasti Fatimiyah. Pasti kalian semua penasaran bukan? Mari kita simak pembahasan dibawah ini.
Perlu kalian ketahui, bahwa dinasti Fatimiyah awalnya merupakan sebuah dinasti kecil yang melepaskan diri dari daulah Abbasiyah di Baghdad. Akan tetapi pada perkembangan selanjutnya, dinasti Fatimiyah menjadi salah satu dinasti terbesar islam yang pernah berdiri di dunia loh. Hal ini dibuktikan bahwa dinasti ini mampu berdiri hingga dua abad lamanya sebelum akhirnya dinasti ini runtuh oleh serangan Salahudin Al-Ayyubi yang merupakan seorang jenderal dan pejuang muslim kurdi dari Tirkit (Irak) dan juga merupakan pendiri dinasti Ayyubiyah.
Nama Fatimiyah yang terletak pada dinasti ini berasal dari nama Fatimah yang merupakan anak dari Nabi Muhammad SAW. Nama Fatimah diambil karena para pengikut dinasti ini, mengikuti silsilah keturunan Fatimah Az-zahra. Dinasti Fatimiyah juga merupakan dinasti beraliran syi'ah yang mengikuti konsep syi'ah keturunan dati Ali bin Abi Thalib dan Fatimah. Selain dikenal dengan nama dinasti Fatimiyah, dinasti ini juga dikenal dengan nama dinasti Ubaidah yang diambil dari nama pendirinya yaitu Abu Muhammad Ubaidillah Al-Mahdi (297 M-332 M). Terbentuknya dinasti Fatimiyah membuat dunia islam berada dibawah 3 penguasa besar, yaitu Dinasti Abbasiyah yang terletak di Baghdad, Dinasti Ummayah yang terletak di Cordova dan Dinasti Fatimiyah yang terletak di Al-Mahdiah.
Abu Muhammad Ubadillah Al-Mahdi merupakan pendiri dinasti Fatimiyah sekaligus khalifah pertama dinasti Fatimiyah. Selama kurang lebih 25 tahun memimpin dinasti Fatimiyah ( 909 M- 934 M) ia membuktikan bahwa dirinya merupakan penguasa cakap dalam memimpin.  Hal ini dibuktikan dengan memperluas wilayah kekuasannya hampir meliputi seluruh wilayah Afrika, mulai dari Maroko yang dikuasai Idrisiyah hingga perbatasan Mesir. Pada tahun 914, dia berhasil menguasai Iskandariyah, dua tahun berikutnya wilayah delta berada dalam kekuasaannya. Kemudian dia mengirimkan seorang gubernur Baru dari suku Kitamah ke Sisilia dan menjalin pertemanan dengan pemberontak Ibn Hafshun di Spanyol. Malta, Sardinia, Corsica, Balearic dan pulau-pulau lainnya pernah merasakan kedahsyatan armada yang diwarisi dari dinasti Aghlabiah. Sekitar 920, ia memindahkan  pusat pemerintahannya ke ibukota baru al Mahdiyah yang didirikan di pesisir Tunisia, sekitar 27,2 kilometer ke arah tenggara kota Kairawan, dan dinamai dengan namanya sendiri.
Setelah Abu Muhammad Ubaidillah Al-Mahdi wafat, kepempimpinan dinasti Fatimiyah diambil alih oleh putrannya yang bernama Abu Al-Qasim Muhammad Al-Qaim yang memerintah pada tahun 934 M - 946 M. Selama Abu Al-Qasim memimpin, yang menjadi fokus kebijakan pemerintahannya adalah perluasan wilayah. Hal ini dibuktikan pada tahun 934 M - 935 M ia mampu menaklukan Genoa dan sepanjan pesisir Calabria. Abu Al-Qasim juga berencana menaklukan Mesir, akan tetapi usahanya tersebut tidak membuahkan hasil. Penaklukkan Mesir baru berhasil dilakukan Abu Tamim Ma’ad al-Mu’iz yang merupakan cucu dari Abu Al-Qasim Muhammad Al-Qaim. Abu Tamim Ma'ad Al-Muiz berkuasa pada tahun 952 M - 975M. Penyerbuan ke Mesir itu didahului dengan penyerbuan pantai Spanyol, yang pada saat itu dipimpin oleh Al-Nashr. Tentara Fatimiyah kemudian maju menuju Atlantik tiga tahun kemudian. Hingga pada tahun 969 M Mesir dapat direbut dari kekhalifahan dinasti Ikhsidiyah.
Pahlawan penting dalam penyerbuan ini adalah Jawhar al-Shiqilli berkebangsaan Sisilia atau Yunani.
Perlu diketahui dinasti Ikhsidiyah  merupakan bagian Dinasti Abbasiyah yang berkuasa di Mesir dan Suriah 323 M - 58 H/935 M - 69 H, yang saat ditaklukkan  oleh Jenderal Fathimiyah Jawhar pada tahun 969 M, ikhsidiyah  berpusat di Fusthat dipimpin oleh Ahmad ibnu Kafur yang lemah (968-969).
Sejak kemenangannya atas ibu kota Fusthat pada tahun 969, Jawhar kemudian mendirikan Masjid Agung al-Azhar pada tahun 972 M, yang dikemudian hari oleh Khalifah Abu Al- Manshur Nizar Al-Aziz dikembangkan menjadi universitas besar. Perlu diketahui bahwa ketika Abu Al- Manshur nizar Al-Aziz memimpin  dinasilti Fatimiyah mencapai masa kejayaannya. Dimana pada saat itu, dinasti Fatimiyah diliputi dengan kedamaian. Bahkan Khalifah Abu al-Manshur Al-Aziz selalu diagungkan di setiap khutbah jum'at. Kemudian Jawhar membuat markas baru dengan nama al-Qahirah. Sejak 973 M., kota ini Kairo modern kemudian menjadi pusat kota dinasti Fatimiyah. Pada tahun yang sama (969 M.), setelah merasa kedudukannya di Mesir kokoh, Jawhar melirik negara tetangganya Suriah dan mengirimkan seorang panglima perang yang berhasil menaklukkan kota Damaskus.
  
Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa puncak kejayaan dinasti Fatimiyah  dicapai pada masa pemerintahan Abu al-Manshur Nizar al-Aziz (975 M- 996 M). Pada saat itu kekuasaan dinasti Fatimiyah terbentang dari Atlantik hingga Laut Merah, Yaman, Mekah, Damaskus, bahkan Mosul. Ia adalah khalifah Fathimiyah yang kelima dan khalifah pertama yang memulai pemerintahan di Mesir. al-Aziz berhasil menempatkan dinasti Fatimiyah sebagai negara Islam terbesar di kawasan Mediterania Timur, bahkan berhasil menenggelamkan pamor penguasa Bagdad. al-Aziz rela menghabiskan dua juta dinar untuk membangun istana yang tidak kalah megah dari istana Abbasiyah. al-Aziz merupakan khalifah  yang paling bijaksana dan murah hati diantara para khalifah Fatimiyah.14
Kemakmuran dan kejayaan dinasti Fatimiyah dapat dilihat  dari keadaan pekerja istana kerajaan pada saat itu berjumlah 12.000 orang pelayan, 10.000 pengurus kuda dan 8.000 pengurus yang lain. Kedamaian pada saat itu tergambar dengan tidak terkuncinya toko perhiasan dan toko money changer,  bahkan khalifah al-Aziz memiliki 20.000 rumah di ibu kota yang dibangun menggunakan batu bata dengan ketinggian lima atau enam lantai.
Setelah Abu al-Manshur Nizar Al-Aziz wafat dan digantikan oleh anaknya yaitu  Abu ‘Ali al-Mansur al-Hakim bi-Amr Allah (996M – 1021 M) yang pada saat menggantikan ayahnya masih berumur belasan tahun. Pada saat penggatian kekuasaan inilah yang menjadi titik awal kegoyahan dinasti Fatimiyah. Pada saat Abu Ali al-Mansur al-Hakim bi-Amr Allah menjadi khalifah, ia berada dibawah pengaruh seorang gubernur yang bernama Barjawan yang menjadi tokoh utama dalam kepempimpinan khalfiah Abu Ali al-Mansur al-Hakim. Akan tetapi dikemudain hari, Barjawan dihukum mati oleh al-Hakim karena penyalahgunaan kekuasaan. Selama menjabat, al-Hakim membuat kebijakan-kebijakan yang menakutkan. Pada saat ia memerintah, ia membunuh beberapa wasir, menghancurkan beberapa gereja, menghancurkan kuburan suci umat Kristen (1009 M.), menetapkan aturan ketat terhadap non-Islam dengan menjadikan Islam eksklusif dari agama lain seperti pakaian dan identitas agama. Aturan-aturan yang merugikan non-Islam diberlakukan sehingga mulailah timbul ketidaksenangan.


Puncak kemunduran dinasti Fatimiyah terjadi pada khalifah Fatimiyah yang keempat belas yaitu al-Adhid, berumur sembilan tahun ketika naik tahta. Pada masa ini kehidupan masyarakat yang sangat sulit, sumber kehidupan tinggal aliran sungai Nil, kelaparan dan wabah penyakit yang sering terjadi, akhirnya berimplikasi pada pajak yang tinggi dan pemerasan untuk memuaskan kebutuhan khalifah dan angkatan bersenjatanya yang rakus. Keadaan semakin parah dan rumit dengan datangnya pasukan perang Salib dan serangan dari Almaric, Raja Yerusalem pada tahun 1167 M telah berdiri di pintu gerbang Kairo. Akhirnya Shalahuddin al-Ayyubi pada tahun 1171 menurunkan khalifah Fatimiyah yang terakhir dari tahtanya.27  Setelah menaklukkan khalifah Fatimiyah terakhir Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi mendirikan Dinasti Ayyubiyah yang berpusat di Kairo Mesir dari tahun 1174 M-1252 M










  Berikut ini adalah nama-nama khalifah yang pernah memimpin dinasti Fatimiyah yang berpusat di Al-Mahdiyah :
  1. Khalifah Ubaidilah Al-Mahdi (909-934), pendiri Dinasti Fatimiyah.
2. Abu al-Qasim Muhammad al-Qa’im bi Amr Allah bin al-Mahdi Ubaidillah (934-
    946).
3.  Isma’il al-Mansur bi-llah (946-952).
4.  Abu Tamim Ma’add al-Mu’iz li-Din Allah (952 M – 975) M. Mesir ditaklukkan
     semasa pemerintahannya.
5.  Abu Mansur Nizar al-‘Aziz bi-llah (975 M – 996 M).
6.  Abu ‘Ali al-Mansur al-Hakim bi-Amr Allah (996M – 1021 M).
7.  Abu’l-Hasan ‘Ali al-Zahir li-I’zaz Din Allah (1021 M – 1036 M).
8.  Abu Tamim Ma’add al-Mustanhir bi-llah (1036 M – 1094 M).
9.  Al-Musta’li bi-Allah (1094 M-1101 M).
10.  Al-Amir bi Ahkam Allah (1101 M – 1130 M)
11.  Abd al-Majid (1130 M – 1149 M).
12.  Al-Wafir (1149 M – 1154 M).
13.  Al-Fa’iz (1154 M – 1160 M).
14.  Al-‘Adid (1160 M – 1171 M)
Pada masa kekhalifahan Al-Adid, dinasti Fatimiyah mengalami kehancuran setelah berdiri kurang lebihh dua abad lamanya.

Selasa, 10 Oktober 2017

Dinasti Hamdaniyah



Assalamualaikum sahabat miracle islam J, berjumpa lagi dengan blog kesayangan kita yang membahas sejarah-sejarah dinasti islam yang pernah berdiri didunia. Kali ini penulis akan membahas salah satu dinasti dari tiga dinasti kecil yang berada di kota Baghdad, yakni Dinasti Hamdaniyah. Seperti yang telah penulis sebutkan, dinasti Hamdaniyah merupakan dinasti kecil yang berdiri di bagian barat kota Baghdad, dua lainnya adalah dinasti Thuluniyah (868-901M) yang berkuasa di Mesir dan dinasti Ikhsidiyah (935-965M) yang berkuasa di Turkistan. Sedangkan dinasti Hamdaniyah sendiri berkuasa di Allepo dan Mosul. Wilayah kekuasaan dinasti Hamdaniyah yang berada di Allepo (Halb) dikenal sebagai daerah yang melindungi kesusatraan Arab dan Ilmu pengetahuan. Hal ini dibuktikan dengan muculnya beberapa tokoh cendekiawan besar seperti Abi al Fath dan Utsman Ibn Jinny yang menggeluti bidang Nahwu, Abu Thayyib al Mutannabi, abu Firas Husain Ibn Nashr ad daulah, Abu A’la al Ma’ari, dan Syaif  ad Daulah sendiri yang mendalami ilmu sastra, serta lahir pula filosof besar, yaitu Al- Farabi. Dinasti Hamdaniyah berdiri pada tahun 972-1152M. Dinasti ini muncul sebagai tandingan dinasti Ikhsidiyah yang berada di Turkistan. Dinasti ini didirikan oleh Hamdan bin Hamdun, yang merupakan seorang Amir dari suku Taghlib dengan gelar Abu Alhaijja. Putranya bernama Husain bin Hamdan yang merupakan panglima dari pemerintahan Abbasiyah. Hamdan bin Hamdun merupakan gubernur Mosul (Irak) yang diangkat pada tahun 905M oleh khalifah Al-Muktafi. Dalam hidupnya Hamdan pernah ditangkap oleh Khalifah dinasti Abbasiyah karena beraliansi dengan kaum khawarij untuk menentang kekhalifahan dinasti Abbasiyah. Akan tetapi Hamdan bin Hamdun diampuni oleh khalifah Abbasiyah karena putrannya menyelamatkannya. Setelah Haija wafat, tahta kerajaan Mosul diberikan kepada kedua putranya yaitu Hasan bin Abu Haijja yang bergelar Nashir ad-Daulah dan Ali bin Abu Haijja yang bergelar Syaif ad-Daulah. Ali bin Abu Haijja inilah yang berhasil menguasai daerah Halb dan Hilms yang merupakan daerah kekuasaan dinasti Ikhsidiyah dan disana ia mendirikan dinasti Hamdaniyah yang berkuasa di Halb.



Para penguasa dinasti Hamdaniyah tercatat bersimpati dengan ideology syi’ah, akan tetapi syi’ah moderat. Jauh sebelum terbentuknya dinasti Hamdaniyah, mereka telah melakukan upaya-upaya pemberontakan dan juga makar kepada kekhalifahan Abbasiyah yang pada saat itu dipimpin oleh khalifah Al-Mu’tamid, akan tetapi usaha mereka terus gagal dan tidak membuahkan hasil. Akhirnya pada saat kekhalifahan Al-Muqtadir, usaha mereka pun membuahkan hasil. Pada masa kekhalifahan Al-Muqtadir, tiga bersaudara keturunan Hamdan berhasil memperoleh jabatan-jabatan penting di dalam pemerintahan Al-Muqtadir, mereka yaitu : Abdullah bin Hamdan yang diangkat menjadi gubernur Mosul, Said bin Hamdan yang diangkat menjadi gubernur Nahwad, dan Ibrahim bin Hamdan yang diangkat menjadi gubernur suku-suku Rabi’ah. Gubernur Mosul yaitu Abdullah bin Hamdan memiliki anak yang memiliki potensi menggantikan dirinya, yaitu Abu Muhammad. Sedangkan anak lainnya Husein bin Abdullah di tempatkan di Halb (Allepo). Keduannya membuat dinasti Hamdaniyah berkembang cukup pesat, Abu Muhammad melakukan perluasan dan pertahanan daerah kekuasaanya dari bangsa Romawi dengan cara mengajukan wilayah utara Syiria menjadi wilayah kekuasaannya kepada penguasa khalifah Ikhsidiyah dengan tujuan mempermudah pengawasan apabila terjadi serangan dari bangsa Romawi. Dinasti Ikhsidiyah menyetujui hal itu dengan syarat dinasti Hamdaniyah tidak boleh melakukan penyerangan ke daerah Damaskus yang merupakan wilayah kekuasaan dynasti Ikhsidiyah. Selain itu dinasti Ikhsidiyah juga membayar upeti yang cukup banyak kepada dinasti Hamdaniyah. Selain itu, Abu Muhammad juga dapat membuat Baghdad tunduk padanya selama kurang lebih satu tahun. Dimana pada saati itu Bagdad berada pada tangan dinasti Buwaih. Abu Muhammad berhasil mengusir dinasti Buwaih dari Baghdad, akan tetapi setelah dinasti Buwaih berhasil memperoleh kekuatannya kembali, mereka pun balik mengusir dinasti Hamdaniyah dari Baghdad. Pada tahun 356M, Abu Muhammad wafat dan dua tahun kemudian , saudaranya Husein bin Abdullah juga wafat pada tahun 358M. Dengan meninggalnya dua pemimpin besar dinasti Hamdaniyah ini, kejayaan dinasti Hamdaniyah mulai redup. Karena para penguasa selanjutnya saling memperebutkan kekuasaan, sehingga menyebabkan lemahnya struktur pemerintahan dan sendi-sendi militenya.



           Terdapat beberapa factor yang menyebabkan dinasti Hamdaniyah mengalami kemunduran.
1.      Pertama, meskipun dinasti ini berkuasa di daerah yang cukup subur dan makmur serta memiliki pusat perdagangan yang strategis, sikap kebaduiannya yang tidak bertanggung jawab dan destruktif tetap ia jalankan sehingga rakyat menderita.
2.       Kedua, bangkitnya kembali Dinasti Bizantium di bawah kekuasaan Macedonia yang bersamaan dengan berdirinya dinasti Hamdaniyah di Suriah menyebabkan dinasti Hamdaniyah tidak bisa menghindari invasi serangan Bizantium yang energik sehingga Aleppo dan Himsh terlepas dari kekuasaannya.
3.       Ketiga, kebijakan ekspansionis Fatimiyah ke Suriah bagian selatan, sampai mengakibatkan terbunuhnya Said ad Daulah yang tengah memegang tampuk kekuasaan Hamdaniyah. Hingga dinasti ini jatuh ke tangan dinasti Fatimiyah