Minggu, 09 Juli 2017

Dinasti Samaniyah

Assalamualaikum sahabat blog miracle of islam, pada kesempatan kali ini saya akan membahas kembali dinasti Islam yang pernah berdiri. Semoga sahabat blog tidak bosan dengan sejarah tentang berdirinya dinasti islam di dunia. Kali ini saya akan membahas dinasti Samaniyah. Dinasti Samaniyah memiliki kesamaan dengan dinasti Aghlabiyah yang terletak Maroko, yakni berdiri pada saat dinasti Abbasiyah masih berkuasa. Meskipun dinasti ini berdiri, akan tetapi dinasti Samaniyah masih tunduk kepada pemerintahan dinasti Abbasiyah yang terletak di Baghdad. Dinasti Samaniyah terletak di sebelah timur Baghdad ini berdiri pada tahun 203 H/819 M - 395 H/1005 M. Dinasti Samaniyah dikenal juga dengan dinasti pertama di Iran Raya dan Asia tengah.






Nama dari dinasti Samaniyah berasal dari kakek khalifah pertama dinasti Samaniyah (Khalifah Ahmad bin Asad bin Saman) yakni Saman khuda yang merupakan keturunan bangsawan terkenal di Balkh. Sejarah mencatat bahwa Saman Khuda memeluk agama Islam pada masa ke khalifah Hisyam bin Abdul Malik (Khalifah kesepuluh dinasti Ummayah). Setelah Saman Khuda memeluk agama islam, keturunan nya pun mengabdikan diri kepada penguasa-penguasa Islam. Hal ini terus berlangsung hingga pada Masa Khalifah Al-Ma’mun (Khalifah Abbasiyah ketujuh). Pada saat Khalifah Al-Ma’mun berkuasa (198-218 H/813-833 M) terdapat empat orang cucu keturunan Saman Khuda memiliki kekuasaan penting pada pemerintahan Abbasiyah. Keempat cucu tersebut yaitu :
1.      Ahmad bin Asad yang menjadi Gubernur Farghana (Turkistan) dan Transoksania.
2.      Ilyas yang menjadi Gubernur di Harat, Afghanistan
3.      Nuh yang menjadi Gubernur di Samarkhand
4.      Yahya bin Asad yang menjadi Gubernur di Asyrusanah (daerah utara Samarkhand) serta Shash
Perlu diketahui dari keempat cucu tersebut, Ahmad bin Asad lah yang merintis berdirinya dinasti Samaniyah di Farghana. Selama dinasti Samaniyah berdiri, dinasti ini memilik dua belas khalifah yang pernah memimpin dinasti ini. Mereka itu adalah :
1.      Ahmad bin Asad yang merupakan Gubernur Farghana (204 H/819M)
2.      Nasr bin Ahmad yang merupakan salah satu orang kepercayaan pemerintahan dinasti Abbasiyah sekaligus putra dari Ahmad bni Asad (250H/864M). Nasr bin Ahmad dapat dikatakan sebagai pendiri dinasti Samaniyah yang sebeneranya. Hal ini dikarenakan Nasr bin Ahmad diberi kepercayaan oleh khalifah ke Al-Mu’tamid untuk memerintah seluruh daerah Khurasan dan Transoksania.   Philip K. Hitti pun mengungkap kan berdirinya dinasti terjadi pada masa Nasr bin Ahmad. Philip K. Hitti berkata :

“The Samanids of Transoxiana and Persia (874-999) were descendend from Saman, a Zoroastrian noble of Balkh. The fouder of the dynasty was Nasr Ibn Ahmad. (874-92), a great grandson of Saman, but the one who established its power was Nasr’s brother Ismail (892-907), who in 900 wrested Khurasan from Tahirids, the Samanids uder Nasr II Ibn Ahmad (913-43), fouth in the line, extended their kingdom to its greatest limits, including under their sceptre Sijistan, Karman, Jurjan, Ar-Rayy and Tabaristan.”

Selain itu yang melatar belakangi berdirinya dinasti ini adalah kecenderungan masyarakat Iran untuk melepaskan diri dari Baghdad. Pada masa Nasr bin Ahmad, Ibu Kota Dinasti Samaniyah terletak di Khurasan sebelum akhirnya dipindahkan ke Bukhara oleh saudara nya, yakni Ismail bin Ahmad.
3.      Ismail bin Ahmad yang juga merupakan anak dari Ahmad bin Asad dan juga salah seorang kepercayaan pemerintah dinasti Abbasiyah (279H/892M). Ismail bin Ahmad yang semula dijadikan gubernur Bukhara oleh Khalifah Al-Mu’tamid. Pada masa kepempimpinan Ismail bin Ahmad ibu kota dinasti Samaniyah yang awalnya terletak di Khurasan di pindahkan ke Bukhara. Terdapat 3 hal penting yang dilakukan oleh Ismail bin Ahmad selama menjadi Khalifah, yaitu :
·         Memperkukuh kekuasaan serta mengamankan wiayah kekuasaannya dari suku Turki.
·         Membenahi administrasi pemerintahan.
·         Memperluas wilayah hingga ke Rayy (Iran) dan Tabaristan (Iran).
Khalifah Ismail bin Ahmad dikenal sebagai khalifah yang mencintai imu pengetahuan. Hal ini dibuktikan dimana ia sangat memuliakan ilmuan. Selain itu Ismail bin Ahmad merupakan sosok yang adil terhadap rakyatnya.
4.      Ahmad bin Ismail (295 H/907 M), merupakan putra dari Ismail bin Ahmad.
5.      Al-Amir as-Sa’id Nasr II (301 H/914 M), merupakan putra dari Ahmad bin Ismail. Pada masa kepempimpinannya, ia berhasil memperluas wilayah kekuasaan hingga Sijistan, Karman, Jurjan,Tabaristan, Khurasan dan Transoksania. Al-Amir as-Said Nasr II merupakan khalifah terakhir yang mampu melakukan perluasan wilayah, karena khalifah-khalifah setelah tidak mampu melakukan hal tersebut.
6.      Al-Amir al-Hamid Nuh I (331 H/943 M)
7.      Al-Amir al-Mu’ayyad Abdul Malik I (343 H/954 M)
8.      Al-amir as-Sadid Manshur I (350 H/961 M)
9.      Al-Amir ar-Ridha Nuh II (365 H/976 M)
10.  Mansur II (387 H/997 M)
11.  Abdul Malik II (389 H/999 M)
12.  Ismail II Al-Muntashir (390-395H/1000-1005 M)


Pada saat dinasti Samaniyah berdiri terdapat banyak sekali kemajuan-kemajuan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Selain itu terdapat pula tokoh-tokoh terkenal dalam dunia pengetahuan, seperti Ibnu Sina, Al-Firdausi,Ummar Kayam, Al-Bairuni dan Zakaria Al-Razi. Seperti halnya dinasti Abbasiyah, dinasti Samaniyah juga sangat maju dalam hal ilmu pengetahuannya baik itu ilmu sains maupun ilmu keislaman. Hal ini dapat ditunjukan dimana buku-buku yang terdapat di perpustakaan dinasti Samaniyah (Bukhara) tidak dapat dijumpai di tempat lain. Ini menunjukan bahwa betapa tingginya peradaban umat manusia pada masa dinasti Samaniyah.
Setelah satu setengah abad dinasti Samaniyah berdiri, terdapat tanda-tanda keruntuhannya. Hal ini disebabkan oleh sikap fanatic kesukuan yang cukup tinggi. Dimana ketika imigran Turki berada dalam posisi pemerintahan, di turunkan karena faktor kesukuan. Hal ini yang mendorong bangsa Turki menyerang dinasti ini. Pada saat penyerangan, Khalifah terakhir dinasti Samaniyah yakni Ismail II Al-Muntashir tidak mampu mempertahankan wilayahnya.

Sabtu, 10 Juni 2017

Dinasti Aghlabiyah



Assalamualaikum sahabat blog miracle islam, pada kesempatan kali ini saya akan membahas salah satu dinasti yang berdiri pada zaman dinasti Abbasiyah. Pada kesempatan sebelumnya, seperti yang kita ketahui pada zaman dinasti Abbasiyah, muncul dinasti yang beraliran syiah yakni dinasti Idrisiyah yang terletak di Maroko. Dinasti ini dapat berdiri di karenakan Ibrahim Al – Aghlab berhasil menggagalkan dinasti Idrisiyah dalam melakukan penyerangan kepada dinasti Abbasiyah. Dinasti Aghlabiyah terletak di Afrika Utara. Perlu diketahui pada saat pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid, ia mengangkat Ibrahim Al- Aghlab sebagi Amir di wilayah tersebut pada tahun 800M. Karena Ibrahim Al-Aghlab sangat mahir dalam menjalankan roda pemerintahan serta menjaga hubungan dengan khalifah Harun Ar-Rasyid maka khalifah Harun Ar-Rasyid memberikan kekuasaan kepada Ibrahim meliputi hak-hak otonomi seperti kebijakan politik hingga menentukan pengggantinya sebagai Amir. Sehingga berdirilah dinasti Aghlabiyah yang tetap mengakui kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad.
Dinasti yang terletak di Tunisia ini juga terkenal dengan armada angkatan lautnya yang hebat. Sehingga pada masa berdirinya dinasti ini, ia dapat menaklukan wilayah-wilayah seperti Italia Brindisi (836 M/221 H) Napoli (837M), Calabria (838 M), Toronto (840 M ), Bari (840 M) dan Benevento (840 M). Karena tidak tahan terhadap serangan berkepanjangan dari pasukan Aghlabiyah pada Bandar-bandar Itali, termasuk kota Roma, maka Paus Yonanes VIII (872– 840 M) terpaksa minta perdamaian dan bersedia membayar upeti sebanyak 25.000 uang perak pertahun kepada dinasti Aghlabiyah. Pasukan Aglabiyah juga berhasil menguasai kota Regusa di pantai Yugoslavia (890 M), Pulau Malta (869 M), menyerang pulau Corsika dan Mayorka, bahkan mengusai kota Portofino di pantai Barat Italia (890), kota Athena di Yunani-pun berada dalam jangkauan penyerangan mereka. Dengan keberhasilan penaklukan-penaklukan tersebut, menjadikan Dinasti Aglabiyah kaya raya, para penguasa bersemangat membagun Tunisia dan Sisilia.



Pada dasarnya dinasti Aghlabiyah berdiri guna menghancurkan dinasti Idrisiyah yang mengancam kewibawaan dinati Abbasiyah di Baghdad. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak ada satupun Amir dari dinasti Aghalabiyah yang berhadapan langsung dengan dinasti Idrisiyah di Maroko. Hal ini di karenakan meletus pemberontakan penduduk Tripoli (Libya) terhadap gubernur mereka. Ibrahim Al – Aghlab pun berangkat untuk memadamkan pemberontakan orang-orang Libiya tersebut. Setelah pemberontakan penduduk Libya mereda, muncul pula pemberontakan bangsa Barbar secara meluas di berbagai daerah di Afrika Utara. Hal ini membuat  Ibrahim Al – Aghlab memusatkan kekuatanya untuk meredakan dan menahan gejolak pemberontak. Ini lah yang menyebabkan Ibrahim Al – Aghlab tidak dapat menyerang langsung dinasti Idrisiyah di Maroko. Pada akhirnya usaha Ibrahim Al-Aghlab membuahkan hasil yang membuat penduduk Libya dan sebagian besar bangsa Barbar tunduk pada pemerintahannya. Pada tahun 811M, Ibrahim Al – Aghlab meninggal dunia pada saat masa kejayaannya. Setelah Ibrahim Al-Aghlab meninggal, Abdullah I menggantikan posisi ayahnya sebagai Amir. Akan tetapi Abdullah I tidak secakap ayahnya dalam menjalankan roda pemerintahan, ia bersikap keras dalam pengumpulan pajak serta tidak mau mendengar masukan para penasihat. Pada tahun 816 M, Abdullah I tewas terbunuh setelah memerintah selama 5 tahun.
Ia kemudian digantikan oleh putranya, Abdullah I (811-816), namun Abdullah tidaklah sekuat dan seadil bapaknya. Dia telah mengambil tindakan keras dalam pengumpulan pajak, tidak mengindahkan nasehat para penasehat hukumnya dan para ulama. Dia kemudian terbunuh secara misterius setelah hanya memerintah selama lima tahun.
Ziyadatullah I (816-837) mewarisi saudaranya, Abdullah I, sebagai penguasa Afrika Utara. Dia orangnya lebih cenderung memperhatikan nasehat para penasehatnya sebagaimana leluhurnya, dan karakteristik pemerintahannya relatif lebih stabil. Pada tahun 825 sebuah pemberontakan terjadi dipelopori oleh Mansur yang berhasil menghimpun beberapa pengikut dan mengancam Qayrawan. Namun, pada tahun berikutnya Ziyadatullah I berhasil mengalahkan Mansur, yang kemudian meninggal tidak lama setelah di penjara.
Kemakmuran yang dicapai oleh rakyat di bawah pemerintahan Ziyadatullah I, ditambah dengan tidak adanya perbedaan antara orang-orang Arab dan orang-orang Barbar, telah mendorong mereka untuk mencari tanah baru. Faktor ini turut membangkitkan semangat Bani Aglab untuk menduduki Sicilia dan sebagian besar Italia Selatan selama abad ke-9.
Pada tahun 827 Ziyadatullah menyerang Sicilia, di mana dia berhasil melumpuhkan pasukan Bizantium di awal 828 di Syracuse, dan selanjutnya tahun 830 di Palermo. Meskipun dengan berbagai kemenangan yang diraihnya di kota-kota tersebut, namun Aglabiyah tidak mampu mempertahankan jalur suplai mereka dengan Qayrawan, dan secara berangsur-angsur dengan terpaksa mereka melepaskan pendudukan mereka atas kota-kota tersebut.
Penaklukan dan pendudukan Aglabiyah terhadap Sicilia telah membentuk suatu pusat penting bagi penyebaran peradaban Islam ke Eropa-Kristen. Bahkan renaisans di Italia terjadi karena transmisi ilmu pengetahuan melalui pulau ini. Para penguasa Dinasti Aglabiyah juga merupakan pembangun-pembangun yang antusias. Misalnya Ziyadatullah I membangun kembali Masjid Raya Qayrawan dan Ahmad membangun Masjid Raya Tunis. Di samping itu, berbagai pekerjaan di bidang pertanian dan irigasi juga dilakukan, terutama di daerah-daerah selatan yang kurang subur.
Setelah Ziyadatullah I wafat pada tahun 837, lima penguasa Aglabiyah berikutnya secara berturut-turut berganti dengan cepat. Perselisihan internal dan pemberontakan lokal terus terjadi sampai pada masa Ibrahim I yang memangku jabatan pada tahun 874. Dia punya karakter yang lebih tegas dan murah hati, meluangkan banyak waktunya untuk mendengarkan keluhan-keluhan rakyatnya dan berusaha meringankan penderitaan mereka. Dia dengan murah hati memberikan sumbangan-sumbangan dan bantuan finansial yang tidak terikat kepada yang memerlukan. Oleh karena itu, masyarakat umum senantiasa berlomba-lomba memberi dukungan kepadanya selama dalam masa kritis. Puncak kemunduran dinasti Aghlabiyah adalah pada saat amir terakhir yakni Ziyadatullah III menjabat. Pada saat Ziyadatullah III memimpin ia tenggelam dalam gaya hidup yang berfoya-foya. Selain faktor tersebut terdapat faktor lain yaitu munculnya doktrin-doktrin  syiah yang dilancarkan oleh Abu Abdullah As-Syiah. Hal ini mengakibatkan kesenjangan antara pemerintahan Aghlabiyah dengan bangsa Barbar. Pada tahun 909 M dinasti Aghlabiyah pun hancur akibat serangan militer yang dibangun Ubaidillah al-Mahdi. Serangan tersebut berhasil mengalahkan kekuatan militer yang dimiliki oleh Dinasti Aghlabiyah. Akibat serangan tersebut, Ubaidillah berhasil merebut pemerintahan dan mengusir Ziyadatullah III ke Mesir.



 Selama kurang lebih 1 abad berdiri, dinasti Aghlabiyah memiliki 11 orang Amir, berikut ini adalah para Amir yang pernah memimpin dinasti Aghlabiyah :
1. Ibrahim I bin al-Aghlab (800-812 M).
2. Abdullah I (812-817 M).
3. Ziyadatullah I(817-838 M).
4. Abu ‘Iqal al-Aghlab (838-841 M).
5. Muhammad I (841-856 M).
6. Ahmad (856-863 M).
7. Ziyadatullah II(863 M).
8. Abu Ghasaniq Muhammad II (863-875 M).
9. Ibrahim (875-902 M).
10. Abdullah II (902-903 M).
11. Ziyadatullah III (903-909 M).

Peninggalan Dinasti Aghlabiyah
 Selama dinasti Aghlabiyah berdiri, terdapat beberapa peninggalan-peninggalan dinasti Aghlabiya, antara lain sebagai berikut :
1. Masjid Agung Qayruwan oleh Amir Ziyadatullah I.
Masjid Agung Qayruwan

Masjid Agung Tunis
2. Pembangunan Masjid Agung Tunis oleh Amir Ahmad.
3. Pembangunan pertanian dan irigasi yang berdampak merubah daerah yang tandus menjadi subur. 


Demikian lah sejarah singkat dari dinasti Aghlabiyah, semoga dengan artikel diatas dapat menambah wawasan kita dalam mengenal sejarah islam.

Selasa, 09 Mei 2017

Dinasti Idrisiyah





Assalamualaikum sahabat blog miracle islam, pada kesempatan kali ini saya akan membahas kembali tentang sejarah dinasti islam yang pernah berkuasa. Sebelumnya kita telah membahas dinasti Ummayah dan dinasti Abbasiyah, selanjutnya kita akan membahas tentang dinasti Idrisiyah.
Sejarah terbentuknya Dinasti Idrisiyah
Dinasti Idrisiyah berdiri di Maroko yang mana dinasti ini merupakan dinasti islam pertama yang menganut aliran syiah. Perlu diketahui bahwa dinasti ini muncul pada tahun 172 H /789 M yang mana dinasti Abbasiyah masih berkuasa yang pada saat itu kekuasaan dinasti Abbasiyah berada ditangan khalifah Sulaiman Al-Hadi dan Harun Ar-Rasyid. Pendiri dinasti Idrisiyah adalah Idris bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Abu Thalib. Sehingga beliau merupakan cucu dari Hasan bin Ali bin Abu Thalib. Sebagaimana yang kita ketahui, dinasti Abbasiyah terbentuk karena adanya dukungan dari kelompok awaliyun dan syiah yang membantu meruntuhkan dinasti Ummayah, akan tetapi setelah bani Abbas mendirikan dinasti Abbasiyah, mereka mengkhianati kedua kelompok tersebut. Puncak permusuhan pun terjadi pada saat Khalifah Al-Hadi naik takhta menggantikan ayahnya yaitu khalifah Al-Mansur. Khalifah Al-Hadi menangkap dan memenjarakan orang-orang dari kelompok syiah dengan alasan tidak loyal kepada pemerintahan dinasti Abbasiyah, hal ini lah yang mendorong kelompok-kelompok yang sebelumnya pro dengan dinasti Abbasiyah menjadi kontra terhadap pemerintahan dinasti Abbasiyah. Idris pun ikut dalam pemberontakan melawan khalifah Al-Hadi.akan tetapi pada tanggal 3 zulhijjah saudara Idris terbunuh dalam suatu pertempuran yang terjadi di dekat Mekah dan pada saat itu pula Idris menghilang. Akan tetapi setelah beberapa saat Idris muncul di Maroko. Di Maroko ia disambut baik oleh pemimpin salah satu suku bangsa barbar yaitu Ishaq bin Muhammad (pempimpin suku Aurabah). Pada bulan Ramadan 172 H, atas kehendak Ishaq, Idris dipilih menjadi pemimpin suku Aurabah, kemudian diikuti oleh kabilah-kabilah lain yang menghuni kawasan yang sekarang dikenal dengan Marakisy. Hal ini dikarenakan Idris dapat menyakinkan bahwa ia merupakan keturunan dari Hasan bin Ali. Setelah terpilih jadi pemimpin bangsa Barbar, Idris kemudian melakukan penyerangan terahadap kabilah-kabilah Yahudi, Nasrani, dan paganisme yang mendiami daerah Tamisna, dan berhasil mengalahkan kabilah-kabilah tersebut dengan mudah. Kemudian sekitar tahun 173 atau 174 H (789 atau 790 M) dia melakukan invasi ke arah timur, dimana berhasil menundukkan kota Tilmisan (Agadir) yang pada saat itu dipimpin oleh Muhammad bin Khayir. Idris kemudian menetap beberapa waktu di Tilmisan, dan pada bulan Safar 174 H, ia membangun sebuah masjid, dimana mimbar masjid tersebut yang di atasnya terukir namanya masih ada hingga zaman Ibn Khaldun. Setelah khalifah Al-Hadi digantikan oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid, khalifah Harun Ar-Rasyid berencana melakukan penyerangan terhadap dinasti Idrisiyah guna mengamankan posisinya. Akan tetapi karena letak dinasti Idrisiyah yang cukup jauh, menjadikan khalifah Harun Ar-Rasyid mengurungkan niatnya. Atas saran dari Yahya Barmaki, Khalifah Harun Ar-Rasyid mengirim Sulaiman bin Jarir untuk menjadi mata-mata serta membunuh Idris dengan cara meracuninya. Rencana tersebut berhasil membuat Idris terbunuh pada tahun 177H/ 16 Juli 793 M. Dengan terbunuh Idris, tak lantas membuat dinasti Idrisiyah runtuh. Hal ini dikarenakan bangsa Barbar telah sepakat untuk mengikrarkan janji membuat kerajaan yang independen. Sehingga pada saat anak Idris lahir, mereka mengikrarkan sumpah setia dan memberi nama anak tersebut Idris sama seperti halnya dengan ayahnya. Pada tahun 177 H/793 M Idris bin Idris bin Abdullah (Idris II) datang menggantikan ayahnya sebagai amir. Pada masa kepemimpinannya Dinasti Idrisiyah berkembang pesat. Pusat pemerintahan yang semula dari Walila dipindahkan ke Fes sebagai ibukota baru (192 H.). Dengan demikian, Idris II inilah yang dianggap sebagai pendiri yang sebenarnya Dinisi Idrisiyah.
Dengan berdirinya Dinasti Idrisiyah di Afrika Utara, maka pusat kekuasaan Islam telah terbagi kepada tiga kawasan, yaitu:
1.      Bani Umaiyyah di Spanyol
2.      Syi’ah di Magrib (Maroko), dan
3.      Abbasiyah di daerah sisanya di Timur Tengah.




Selama dinasti Idrisiyah berdiri mereka memiliki tiga belas orang raja, yaitu
1.      Idris bin Abdullah bin Hasan bin Abdul Thalib / Idris I (788-793 M)
2.      Idris bin Idris bin Abdullah / Idris II  (793-828 M)
3.      Muhammad Al-Muntasir bin Idris (828-836 M)
4.      Ali bin Muhammad / Ali I (836-849 M)
5.      Yahya bin Muhammad / Yahya I (849-863 M)
6.      Yahya bin Yahya / Yahya II (863-866 M)
7.      Ali bin Umar / Ali II (866 M)
8.      Yahya bin Al-Kasim / Yahya III (849-904 M)
9.      Yahya bin Idris bin Umar / Yahya IV (904-922 M)
10.  Hasan Al- Hajjam bin Muhammad bin Al Kasim (925-927 M)
11.  Kasim Al Ghannun bin Muhammad bin Al Kasim (927-948 M)
12.  Abu Aysh Ahmad bin Kasim (948-954 M)
13.  Hasan bin Kasim Ghannun (954-974 M)





Runtuhnya dinasti Idrisiyah di awali akibat adanya serangan dari dinasti Fathimiyah di Mesir dan Bani Ummayah di Cordova, Andalusia. Hal ini membuat dinasti Idrisiyah hancur. Puncak keruntuhan dinasti Idrisiyah terjadi akibat serangan mematikan dari dinasti Ummayah yang pada saat itu di pimpin oleh khalifah Al- Hakam II (961-967 M). Selama berdirinya dinasti Idrisiyah, terdapat banyak peninggalan-peninggalan seperti uang, pembangunan saluran air, masjid dan juga istana.

Kamis, 09 Maret 2017

Dinasti Abbasiyah



Assalamualaikum sahabat setia pembaca blogger  miracle of islam, kali ini kita akan membahas tentang Dinasti Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti ke dua islam yang berdiri, yang mana sebelum Dinasti Abbasiyah berdiri, terdapat dinasti Ummayah yang kemudian pada masa khalifah Marwan II (Khalifah terakhir bani ummayah) mengalami kehancuran.
Pada artikel sebelumnya, telah sedikit di bahas tentang dinasti Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah Al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Al-Abbas. Dinamakan dinasti Abbasiyah karena pendiri serta para raja yang memimpin dinasti Abbasiyah adalah Al-Abbas yang merupakan paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti Abbasiyah beridiri cukup lama yakni sekitar 524 tahun (132H – 656H) yang mana selama dinasti ini berdiri terdapat suatu masa yang merupakan masa kejayaan islam atau lebih dikenal dengan “The Golden age of  Islam”.
Pada masa kekhalifahan Ummar bin Abdul Aziz (khalifah ke-8 dinasti Ummayah), bani Abbas telah melancarkan aksi untuk merebut kekuasaan dari dinasti Ummayah. Bani abbas merasa bahwa kekhalifahan islam lebih berhak berada di tangan bani Abbas karena mereka merupakan keturunan yang paling dekat dengan Nabi Muhammad SAW sedangkan menurut mereka pula dinasti Ummayah berdiri karena merebut kekuasaan secara paksa yang dilakukan pada saat peran siffin. Gerakan perebutan kekuasaan diawali oleh Ibrahim al-Imam, Ali bin Abdullah bin Abbas dan Muhammad. Akan tetapi mereka semua mengalami kegagalan. Baru setelah Abu Abbas yang memimpin pergerakan barulah bani Abbas dapat merebut kekuasaan walaupun dengan adanya pertumpahan darah karena khalifah Marwan II terbunuh pada tahun 132H yang kemudian secara resmi terbentuklah dinasti Abbasiyah dengan Abu Abbas as-safah sebagai khalifah pertama dinasti Abbasiyah.



Dinasti Abbasiyah dibagi menjadi lima periode yaitu :
1.         Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M)
Periode ini disebut periode pengaruh Persia pertama. The Golden Age of Islam terjadi pada periode ini, karena pada periode ini dinasti Abbasiyah mengalami puncak kejayaanya. Pada periode ini para khalifah tak hanya menjadi pusat kekuasaan politik tapi juga agama. Tak hanya itu, periode ini menjadikan masyarakat dinasti Abbasiyah menjadi makmur. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Diketahui pada masa pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid, dinasti Abbasiyah yang memiliki ibu kota di Baghdad menjadi pusat para pencari ilmu karena disana banyak sekali lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan dan juga pada saat itu dinasti Abbasiyah memiliki 1000 orang dokter. Setelah periode ini berakhir, dinasti Abbasiyah mengalami kemundurun di bidang politik meskipun ilmu pengetahuan terus berkembang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Dinasti Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pada perkembangan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah.
2.         Periode Kedua (232 H/ 847 M – 334 H/ 945 M)
Periode ini disebut masa pengaruh Turki pertama. Untuk mengontrol kekhalifahannya Al-Ma’mun bergantung kepada dukungan Tahir, seorang bangsawan Khurasan yang sebagai imbalan diangkat sebagai gubernur di Khurasan (820-822) dan jenderal bagi seluruh pasukan Abbasiyah dengan janji bahwa jabatan ini akan diwarisi oleh keturunannya. Al-Ma’mun dan Al-Mu’tashim mendirikan dus kekuatan bersenjata yaitu; pasukan syakiriyah yang dipimpin oleh pemimpin lokal dan pasukan Gilman yang terdiri dari budak-budak belian Turki. Yang penting dicatat disini adalah kalau pada masa kejayaannya bani Abbas mendapat dukungan militer dari rakyatnya sendiri, pada masa kemunduran ini mereka bergantung kepada pasukan asing untuk dapat berkuasa atas rakyatnya sendiri, sehingga pemerintahan pusat menjadi lemah. .Masa-masa berikutnya sampai kedatangan kekuatan Bani Buwaih.
3.         Periode Ketiga (334 H/ 945 M – 447 H/ 1055 M)
Periode ini adalah periode masa kekuasaaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. Abu Syuja’ Buwaih adalah seorang berkebangsaan Persia dari Dailam. Ketiga anaknya : Ali (‘Imad al-Daulah), hasan (Rukn al-Daulah), dan Ahmad (Mu’izz al-Daulah) merupakan pendiri dinasti Bani Buwaih. Kemunculan mereka dalam panggung sejarah Bani Abbas bermula dari kedudukan panglima perang yang diraih Ali dan Ahmad dalam pasukan Makan ibn kali dari dinasti saman, tetapi kemudian berpindah ke kubu Mardawij. Kemudian ketiga orang bersaudara ini menguasai bagian barat dan barat daya Persia, dan pada tahun 945, setelah kematian jenderal Tuzun (penguasa sebenarnya atas Baghdad) Ahmad memasuki Baghdad dan memulai kekuasaan Bani Buwaih atas khalifah Abbasiyah.
Dengan berkuasanya Bani Buwaih, aliran Mu’tazilah bangkit lagi, terutama diwilayah Persia, bergandengan tangan dengan kaum Syi’ah. Pada masa ini muncul banyak pemikir Mu’tazilah dari aliran Basrah yang walaupun nama mereka tidak sebesar para pendahulu mereka dimasa kejayaannya yang pertama, meninggalkan banyak karya yang bisa dibaca sampai sekarang. Selama ini orang mengenal Mu’tazilah dari karya-karya lawan-lawan mereka, terutama kaum Asy’ariyah. Yang terbesar diantara tokoh Mu’tazilah periode kebangkitan kedua ini adalah al-Qadi Abd al-jabbar, penerus aliran Basra setelah Abu Ali dan Abu Hasyim.
4.         Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/ 1194 M)
Periode ini adalah masa kekuasaan dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah atau disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua. Saljuk (Saljuq) ibn Tuqaq adalah seorang pemimpin kaum Turki yang tinggal di Asia Tengah tepatnnya Transoxania atau Ma Wara’ al-Nahar atau Mavarranahr. Thughril Beg, cucu Saljuq yang memulai penampilan kaum Saljuk dalam panggung sejarah. Pada tahun 429/1037 ia tercatat sudah menguasai Merv. Kekuasaannya makin bertambah luas dari tahun ke tahun dan pada tahun 1055 menancapkan kekuasaannya atas Baghdad.
Tughril meninggal tanpa meninggalkan keturunan dan digantikan kemenakannya Alp Arselan yang kemudian digantikan puteranya Maliksyah yang merupakan penguasa terbesar dari dinasti Saljuk. Sesudah itu bani Saljuk mengalami kemunduran sebelum kekuasan mereka di Baghdad pudar sama sekali pada tahun 552 H/ 1157 M. Dalam bidang keagamaan, masa ini ditandai dengan kemenangan kaum Sunni, terutama dengan kebijakan Nidham al-Muluk mendirikan sekolah-sekolah yang disebut dengan namanya Madaris Nidhamiyyah. Hal lain yang perlu dicatat dari masa ini dan masa sebelumnya adalah munculnya berbagai dinasti di dunia Islam yang menggambarkan mulai hilangnya persatuan dunia Islam di bidang politik. Seperti dinasti Fatimiyah lahir di Mesir (969) dan bertahan sampai tahun 1171. Dari segi budaya dan pemikiran keagamaan, terdapat berbagai wilayah dengan pusatnya sendiri yang masing-masing mempunyai peran sendiri dalam mengekspresikan Islam, sesuai dengan kondisi masing-masing. Misal, Andalus dan Afrika Utara mengembangkan seni yang mencapai puncaknya pada al-Hambra dan pemikiran filsafat denngan tokoh Ibn Tufail dan Ibn Rusyd.

5.         Periode Kelima (590 H/ 1194 M – 656 H/ 1258 M)
Periode ini adalah masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad. Sesudah Saljuk, para khalifah tidak lagi dikuasai oleh kaum tertentu. Tetapi, negara sudah terbagi-bagi dalam berbagai kerajaan kecil yang merdeka. Khalifah al-Nashir (1180-1255) yang berusaha untuk mengangkat kewibawaan kekhalifahan Abbasiyah. Untuk itu ia mencari dukungan atas kedudukannya dengan bekerja sama dengan suatu gerakan dari orang-orang yang memuja Ali. Dari kalangan pengrajin dan pedagang meyakini Ali sebagai pelindung korporasi. Anggota dari gerakan ini bertemu secara teratur, dan tidak jarang melakukan latihan-latihan spiritual dibawah pimpinan seorang pir. Al-Nashir menempatkan dirinya sebagai pelindung dari gerakan ini. Sementara itu, kekuatan Mongol Tartar mulai merayap dari arah timur dan pada tahun 656 H/1258 H, Hulagu dengan pasukannya memasuki Baghdad dan membunuh khalifah al-Musta’shim dan membunuh penduduk kota ini. Mereka menjarah harta, membakar kitab-kitab dan menghancurkan banyak bangunan. Dengan demikian berakhirlah kekhalifahan Bani Abbas di Baghdad.



Kemunduran Dinasti Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah mengalami kemunduran akibat dua factor, yakni factor internal serta external
Faktor Internal :
Dalm buku yang ditulis Abu Su’ud disebutkan faktor-faktor intern yang membuat Daulah Abasiyah lemah kekudian hancur antara lain :
1.      Adanya persaingan tidak sehat diantara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abasiyah, terutama Arab, Persia, dan Turki.
2.      Terjadinya perselisihan pendapat diantara kelompok pemikiran agama yang ada, yang berkembang menjadi pertumpahan darah.
3.      Munculnya dinasti-dinasti kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang berkepanjangan.
4.       Akhirnya terjadi kemerosotan tingkat perekonimian sebagai akibat dari bentrokan politik.


Faktor External :
Selain factor internal terdapat juga factor external yang memengaruhi kemunduran dinasti Abbasiyah yaitu adanya serangan bangsa mongol yang merupakan bangsa dengan penunggang kuda terbaik pada masa itu dan juga merupakan bangsa yang menjadi musuh cina. Serangan bangsa Mongol dapat menghancurkan dinasti Abbasiyah di Baghdad, mereka juga tak hanya membantai tentara kerajaan Abbasiyah tetapi juga rakyat. Dapat dikatakan kehancuran dinasti Abbasiyah di penuhi dengan darah


Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. 

Rabu, 01 Februari 2017

Dinasti Ummayah


Peta Kekuasaan Bani Ummayah
Assalamualaikum sobat blogger miracle of islam, kali ini saya akan membahas salah satu dinasti Islam yang pernah berdiri pada masa lampau yaitu Dinasti Ummayah. Sebelum berdirinya dinasti ummayah, terdapat masa Khulafaur Rasyidin (pemimpin yang diberi petunjuk) di mana Khulafaur Rasyidin itu ada empat, yakni Abu Bakar , Ummar bin khatab, Ustman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib. Akan tetapi sebagian ulama juga menetapkan pemimpin dinasti ummayah ke-8 yakni Ummar bin Abdul Aziz sebagai Khulafaur Rasyidin yang ke-5.
Dinasti ummayah di dirikan oleh Muawiyah bin Abu Sofyan yang merupakan cicit dari Ummayah, latar belakang nya berdirinya dinasti ini adalah terbunuhnya khulafaur rasyidin yang ketiga yakni Usman bin Affan yang selanjutnya di gantikan oleh Ali bin Abu Thalib. Kepempimpinan Ali bin Abu Thalib itu sendiri menjadi konflik yang mengakibatkan peperangan antara pendukung Ali nin Abu Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sofyan. Mengapa demikian? Karena sebelumnya keluarga bani ummayah yang merasa mempunyai perlindungan atas berbagai kepentingan pada masa khalifah Ustman bin Affan merasa terguncang dengan terbunuhnya beliau. Mereka meminta khalifah baru yakni Ali bin Abu Thalib mengusut tuntas pembunuhan Khalfiah Ustman bin Affan akan tetapi karena Ali bin Abu Thalib merasa penanganan kasus pembunuhan Ustman bin Affan harus di lakukan secara hati-hati agar tidak terjadi dampak buruk, pihak Muawiyah menilai tidak ada respon dari dari pihak Ali bin Abu Thalib, maka pihak Muawiyah mengusut sendiri kasus pembunuhan tersebut. Denga mencari berbagai informasi akhirnya mereka mendapatkan dalang di balik pembunuhan Ustman bin Affan yakni Muhammad bin Abu Bakar. Pihak Muawiyah pun menuntut Ali bin Abu Thalib agar melakukan proses hokum kepada Muhammad bin Abu Bakar. Akan tetapi Ali bin Abu Thalib menolak tuntutan Muawiyah di karenakan tidak berdasarkan bukti yang kuat. Ali bin Abu Thalib menilai justru keberadaan Muhammad bin Abu Bakar melindungi Khalfah Ustman bin Affan.
Dari hal tersebut pula Ali bin Abu Thalib memutuskan mengubah dan merombak pemerintahan dengan menggati pejabat pada masa ke khalifahan Ustman bin Affan dengan yang baru. Melihat kekecewaan para pejabat ke khalifahan Ustman bin Affan, Muawiyah memanfaatkan nya untuk menjatuhkan ke khalifahan Ali bin Abu Thalib.  Sehingga dengan hal tersebut terdapat penolakan-penolakan kepempimpinan Ali bin Abu Thalib dan juga pendukung Ustman bin Affan menuduh khalifah Ali bin Abu Thalib ikut andil dalam pembunuhan Ustman bin Affan. Selain Muawiyah kelompok Zubair bin Awwan juga tidak menyetujui kekhalifahan Ali bin Abu Thalib. Mereka menilai Ali bin Abu Thalib lambat dalam menangani kasus pembunuhan Ustman bin Affan yang mengakibatkan dunia politik dalam negri memanas dan hilangnya kepercayaan masyarakat kepada kekhalifahan Ali bin Abu Thalib.
Pada tahun 10 Jumadil akhir 36 Hijriah, terjadilah peperangan antara pasukan Ali bin Abu Thalib dengan Zubair bin Awwan. Dalam peperangan tersebut Zubair bin Awwan tewas. Kemudiah dilanjutkan dengan perang Siffin pada tahun 657 antara Ali bin Abu Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sofyan. Perang ini terjadi selama 40 hari dan berakhir dengan perjanjian damai dengan kesepakatan sebagai berikut :
1.      Ustman bin Affan meninggal karena teraniaya dan yang berhak menuntut balas adalah Muawiyah
2.      Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah harus turun dari jabatan masing-masing.
3.      Pengunduran diri mereka di saksikan oleh 100 orang utusan dari kedua belah pihak
Memasuki tahun 40H/661M Ali bin Abu Thalib tewas terbunuh oleh Abdurahman bin Miljam. Setelah wafatnya Ali bin Abu Thalib, Hasan bin Ali menggantikan Ali bin Abu Thalib akan tetapi Muawiyah tidak membaiat Hasan karena ia menganggap bahwa Hasan masih terlalu belia untuk memimpin umat islam. Hingga pada akhirnya Muawiyah memerangi kekhalifahan Hasan bin Ali yang berhasil membuat khalifah Hasan mundur dari jabatanya. Akan tetapi Hasan bin Ali mengajukan beberapa syarat kepada Muawiyah sebelum melepaskan jabatanya. Syarat-syarat tersebut antara lain sebagai berikut :
1.      Menghargai dan menjaga darah umat islam dan pengikutnya
2.      Berhenti mencaci maki Ali bin Abu Thalib
3.      Hendaknya Muawiyah memberikan uang sebesar satu juta dirham untuk anak-anak yatim akibat perang Shiffin
4.      Hasan bin Ali tidak akan memanggil Muawiyah sebagai Amirul Mukminin
5.      Hendaknya Muawiyah beramal sesuai dengan Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW
6.      Hendaknya Muawiyah tidak menunjuk Khalifah setelah dirinya

Dengan demikian berakhirlah masa kekhalifahan Hasan bin Ali dan digantikan oleh Muawiyah bin Abu Sofyan. Akan tetapi pada kenyataanya, beberapa syarat yang di ajukan oleh Hasan bin Ali ada yang di langgar oleh Muawiyah bin Abu Sofyan salah satunya dengan membentuk Dinasti Islam yakni dinasti Ummayah

Sistem Pemerintahan Dinasti Bani Ummayah

Berbeda dengan masa Khulafaur Rasyidin yang mana seorang Khalifah dipilih langsung oleh masyarakat, pada Dinasti Ummayah seorang Khalifah di tunjuk oleh Khalifah yang menjabat yang sebagian besar penggantinya adalah bagian dari keluarga Khalifah sebelumnya (dalam hal ini sebagian besar diturunkan pada anaknya) dengan demikian sistem penunjukan ini menandakan perubahan pemilihan kepempimpinan umat Islam.
Berikut ini khalifah-khalifah yang pernah menjabat pada masa dinasti Ummayah :

1.      Muawiyah bin Abu Sufyan (41H/661M)
2.      Yazid bin Muawiyah (60H/680M)
3.      Muawiyah II (64H/683M)
4.      Marwan I bin Hakam (64H/684M)
5.      Abdul Malik bin Marwan (65H/685M)
6.      Al-Walid bin Abdul Malik (86H/705M)
7.      Sulaiman bin Abdul Malik (96H/715M)
8.      Umar bin Abdul Aziz (99H/717M)
9.      Yazid II bin Abdul Malik (101H/720M)
10.  Hisyam bin Abdul Malik (105H/724M)
11.  Al-Walid II (125H/743M)
12.  Yazid II (126/744M)
13.  Ibrahim bin Al-Walid (126H/744M)
14.  Marwan II bin Muhammad (127-132H/755-750M)

Perkembangan Ilmu Pengetahuan Dinasti Ummayah
Pada awal berdirinya dinasti Ummayah, kaum muslim membuat hukum serta undang-undang yang bersumber dari Al-Quran. Sehingga pada saat itu banyak kaum muslim yang memiliki minat yang cukup besar untuk terhadap penafsiran Al-Quran. Selain itu hadis-hadis digunakan untuk memudahkan dalam penafsiran Al-Quran pada saat itu. Akan tetapi karena banyaknya hadis yang bukan bukan hadis, maka munculah ilmu hadis beserta cabang-cabangnya diikuti dengan banyaknya kitab tentang ilmu hadis yang dikarang oleh kaum muslim. Pada saat itu terdapat beberapa muhadistin yang termashur yakni Abu Bakar Muhammad bin Muslim dan Ibnu Abi Malikah.

Perkembangan Ekonomi Dinasti Ummayah
Pada masa khalifah ke-5 Bani Ummayah yaitu khalifah Abdul Malik bin Marwan diadakan pergantian mata uang baru yang semula mata uang yang digunakan adalah mata uang Persia dan Romawi. Mata uang baru tersebut di bedakan menjadi tiga jenis sesuai dengan bahan baku pembuatanya, yaitu emas, perak dan perunggu. Selain pembuatan mata uang baru, pada masa pemerintahan Al-Walid bin Abdul Malik di buatlah jalan raya jalan raya untuk memudahkan perjalanan penduduk, di jalan-jalan tersebut pula khalifah Al-Walid bin Abdul Malik membuat sumur-sumur yang berfungsi menyediakan pasokan air bagi para pengguna jalan. Khalifah Al-Walid menugaskan beberapa orang pegawai untuk menjaga sumur-sumur tersebut, dari hal tersebut dapat kita ketahui bahwa perkembangan ekonomi pada masa dinasti Ummayah cukup pesat.

Keruntuhan Bani Ummayah

Setelah khalifah bani ummayah yang kesepuluh yakni Hisyam bin Abdul Malik, dinasti ummayah mengalami kemunduran. Karena khalifah-khalifah setelah Hisyam bin Abdul Malik tidak dapat menjalankan roda pemerintahan dengan baik sehingga menimbulkan berbagai masalah di bidang politik, ekonomi dan sebagainya. Pemberontakan-pemberontakan yang terjadi tidak dapat di atasi sehingga keutuhan dan persatuan di kalangan keluarga bani ummayah menjadi rusak. Puncak dari kemunduran dinasti bani ummayah terjadi pada masa khalifah Marwan bin Muhammad (Marwan II) dimana pada saat pemerintahan khalifah Marwan dinasti ummayah benar-benar mengalami kehancuran karena pada saat itu muncul kekuatan besar yang di pelopori oleh keturunan Al-Abbas bin Abdul Al Muthalib yang nantinya akan mendirikan dinasti Abbasiyah.
Demikian lah artikel tentang sejarah dinasti ummayah, semoga artikel diatas dapat menabah wawasan kita dalam sejarah islam.