Assalamualaikum sahabat blog miracle islam 😊, kembali lagi dengan kami di blog yang membahas tentang sejarah-sejarah dinasti islam yang pernah berdiri dunia. Mungkin beberapa diantara kalian merasa bahwa buat apa kita belajar sejarah. Akan tetapi ternyata, dengan mempelajari sejarah, kita dapat menata masa depaj kita menjadi lebih baik, seperti yang dikatakan oleh presiden pertama kita, yaitu Ir. Soekarno. Beliau mengatakan JASMERAH yang merupakan singkatan jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Nah sahabat blog, kali ini kita akan mengupas tuntas sejarah dinasti islam yang bernama dinasti Ayyubiyah. Sesuai dengan namanya, dinasti ini di dirikan oleh Salahuddin Al-Ayyubi yang merupakan keturunan Kurdi dari Azerbaijan yang melakukan migrasi ke Irak. Salahuddin Al-Ayyubi lahir di Tikrit 532 H/1137 M dan meninggal 589 H/1193 M. Ia juga merupakan seorang sultan yang dikenal adil, toleran, pemurah, zuhud, dan qana’ah. Salahuddin Al-Ayubbi merupakan anak dari Najmuddin Ayyub, yang merupakan gubernur Tikrit yang selanjutnya pindah ke Moshul, lalu ke Damaskus. Setelah itu Najmuddin dan saudaranya Asaduddin Syirkuh menjadi panglima Nuruddin Mahmud atau dikenal dengan Nuruddin Zangi di Mesir. Setelah Asaduddin Syirkuh meninggal, ia digantikan oleh keponakannya yaitu Salahuddin al-Ayyubi. Dengan demikian, ia menjadi menteri untuk Khalifah al-Adid yang menganut Syiah dan dan wakil dari Nuruddin Mahmud yang beraliran Sunni.
Bagi para sobat yang pernah menonton film Kingdom Of Heaven, tentunya tidak akan asing mendengar nama Salahuddin Al-Ayyubi. Akan tetapi mungki bagi beberapa orang islam mungkin akan terasa asing mendengar dinasti Ayyubiyah, karena nama dinasti ini kalah tenar dengan nama sultan atau pendiri pertama mereka, yaitu Salahuddin Al-Ayyubi. Perlu diketahui bahwa, dinasti Ayyubiyah adalah sebuah daulah besar yang berbentuk dinasti atau kerajaan, berkuasa di Timur Tengah antara abad ke-12 sampai abad ke-13. Selain itu, dinasti Ayyubiyah juga dikenal sebagai dinasti penakluk dalam jihad. Mengapa dikatakan demikian? Hal ini dikarenakan dinasti Ayyubiyah sangat berperan dalam upaya mematahkan gempuran musuh dalam perang Salib. Apabila dinasti Ayyubiyah ini tidak berdiri, hampir dapat dipastikan Islam pasti akan tercerabut dari bumi Syam, Jazirah, Mesir dan Afrika Utara. Salahuddin Al-Ayyubi dapat menunjukkan eksistensinya sebagai Sultan sekaligus penakhluk yang cakap hingga dapat mendirikan Dinastinya sendiri. Sehingga kemampuannya dalam memimpin tidak perlu diragukan lagi. Kedudukannya sebagai seorang Sultan menandai bertambahnya tantangan yang harus ia hadapi. Perlu digaris bawahi pula, bahwa keberhasilannya dalam mendirikan dinastinya sendiri tidak terlepas dari peran Dinasti Zangkiyah yang telah mendidik Salahuddin sampai menjadi seorang tokoh pejuang panji Islam di timur tengah.
Semasa hidupnya, Salahuddin Al-Ayyubi memiliki dua ambisi besar. Kedua ambisi itu adalah :
1. Menggantikan Islam Syi'ah yang ada di Mesir, menjadi Islam Sunni
2. Memerangi orang-orang Franka dari perang suci (perang salib)
Berdirinya dinasti Ayyubiyah dibagi menjadi dua periode, yaitu
1. Penaklukan Dinasti Fathimiyah
Periode pertama merupakan penaklukan dinasti Fathimiyah. Penaklukan ini diawali akibat adanya konflik internal antara khalifah Fatimiyah yang terakhir, Al-Adid, dengan menterinya Sawar. Akhir dari konflik ini yaituSawar, berhasil menjatuhkan kekuasaan Al-Adid. Akan tetapi, dengan jatuhnya khalifah Al-Adid, justru membawa kebencian pihak lain yang juga mengincar kekuasaan. Pihak itu adalah Dirgham. Dirgham bersama pendukungnya berhasil menjatuhkan Sawar. Dengan jatuhnya Sawar, maka Dirgham diangkat menjadi Wazir sedangkan Sawar melarikan diri ke Syiria pada tahun 557 H/1163 M. Disana, Sawar meminta bantuan kepada Nuruddin Zanqi (Nuruddin Mahmud) yang merupakan penguasa Bani Saljuk di Syiria pada waktu itu, untuk merebut kedudukannya kembali. Ia berjanji jika usahanya berhasil, ia akan membayar upeti dan membagi hasil kepada Nuruddin Zanqi. Nuruddin Zanqi pun menerima kesepakatan tersebut. Kemudian Nuruddin memerintahkan panglima perangnya, Asaduddin Syirkuh untuk berangkat ke Mesir dan merebut kekuasaan Dirgham. Dengan bantuan ini Sawar berhasil menjadi wazir. Akan tetapi, setelah kedudukannya kembali, bak kacang lupa kulitnya, Sawar berusaha menghkianati perjanjiannya dengan Nuruddin Zanqi dan mengadakan konspirasi baru dengan Meric dalam upaya mengusir Asaduddin Syirkuh dari Mesir dengan janji yang sama. Usahanya pun berhasil mengusir Syirkuh. Akan tetapi, tindakan Sawar inilah yang membawa kehancuran bagi Dinasti Fatimiyah.
Bermula dari sini tentara salib menjarah Mesir. Nuruddin segera mengirim tentaranya ke Mesir di bawah pimpinan Syirkuh dan Salahuddin. Pada akhirnya, terjadilah pertempuran antara pihak Islam dan Salib untuk merebut Mesir. Pada 564 H/1169 M, Syirkuh dan pasukannya dapat mengalahkan tentara Salib sekaligus dapat menguasai Mesir dan diangkat sebagai wazir. Syirkuh memegang jabatan hanya selama dua bulan karena meninggal dunia dan jabatannya digantikan oleh keponakannya yaitu Salahuddin al-Ayyubi. Salahuddin sebenarnya mulai menguasai Mesir pada tahun 564 H/1169 M, akan tetapi baru dapat menghapuskan kekuasaan Daulah Fatimiyah pada tahun 567 H/1171 M. Dalam masa tiga tahun itu, ia telah menjadi penguasa penuh, namun tetap tunduk kepada Nuruddin Zangi dan tetap mengakui kekhalifahan Daulah Fatimiyah.
2. Perlawanan Terhadap Sultan Ismail Malik Syah
Periode kedua ini juga dikenal sebagai periode orang-orang Syiria (1174-1186). Periode ini dimulai dengan wafatnya Nuruddin Zanqi. Sepeninggalan Nuruddin Zanqi, posisi khalifah digantikan oleh anaknya yang bernama, Sultan Ismail Malik Syah yang pada saat diangkat menggantikan ayahnya masih berusia belia. Karena usianya yang masih belia inilah, membuat amir-amirnya saling berebut pengaruh yang menyebabkan timbulnya krisis politik internal. Kondisi demikian ini memudahkan bagi pasukan Salib untuk menyerang Damaskus dan menundukannya. Setelah beberapa lama tampillah Salahuddin berjuang mengamankan Damaskus dari pendudukan pasukan Salib. Lantaran hasutan Gumusytag, sang sultan belia Malik Syah menaruh kemarahan terhadap sikap Salahuddin ini sehingga menimbulkan konflik antara keduanya. Sultan Malik Syah menghasut masyarakat Alleppo berperang melawan Salahuddin, Kekuatan Malik Syah di Alleppo dikalahkan oleh pasukan Salahuddin. Merasa tidak ada pilihan lain, Sultan Malik Syah meminta bantuan pasukan Salib. Semenjak kemenangan melawan pasukan Salib di Alleppo ini, terbukalah jalan bagi tugas dan perjuangan Salahuddin di masa-masa mendatang sehingga ia berhasil mencapai kedudukan sultan. Semenjak tahun 578 H/1182 M, Kesultanan Saljuk di pusat mengakui kedudukan Salahuddin sebagai Sultan.
Sebagai Sultan yang pertama sekaligus pendiri dinasti, tantangan yang dihadapi Salahuddin pasca menjadi Sultan adalah memusatkan perhatiannya untuk menyerang Yerusalem. Hal ini menjadi fokus pertama Salahuddin bukan tanpa alasan, dimana ribuan rakyat muslim dibantai oleh pasukan Salib-Kristen di Yerusallem. Pada saat Salahuddin mendekati kota Yerusallem, Salahuddin sempat menyampaikan perintah agar seluruh pasukan Salib di Yerussalem menyerah. Akan tetapi, perintah Salahuddin sama sekali tidak dihiraukan oleh pasukan salib. Hal ini membuat Salahuddin berjanji untuk membalas dendam atas pembantaian ribuan warga muslim. Setelah terjadi beberapa kali pengepungan, pasukan salib kehilangan semangat tempurnya dan memohon damai dengan Salahuddin. Karena kemurahan hati sang sultan permintaan damai pun diterima. Akhirnya Yerussalem dapat direbut kembali dan warga muslim dan non muslim hidup berdampingan dengan damai.
Dengan jatuhnya Yerusalem dalam kekuasaan kaum Muslimin, berdampak pada keprihatinan besar kalangan tokoh-tokoh Kristen. Seluruh penguasa negeri Kristen di Eropa berusaha menggerakkan pasukan Salib lagi. Ribuan pasukan Kristen berbondong-bondong menuju Tyre untuk berjuang mengembalikan kekuasaan mereka yang hilang. Seluruh kekuatan salib berkumpul di Tyre, mereka segera bergerak mengepung Acre. Melihat pergerakan tentara salib, tentunya Salahuddin tidak tinggal diam. Salahuddin segera menyusun strategi untuk menghadapi pasukan Salib. Sebagian besar para Amir menyarankan agar tidak menetapkan strategi bertahan di dalam negeri. Akan tetapi Salahuddin justru mengabaikan saran para amir dan mengambil sikap yang kurang tepat. Hal ini membuat Salahuddin terdesak dan kepayahan oleh pasukan Salib dan akhirnya Salahuddin mengajukan tawaran damai. Namun sang raja yang tidak mempunyai balas budi ini menolak tawaran Salahuddin dan membantai pasukan muslim secara kejam.
Setelah berhasil merebut Acre, pasukan Salib bergerak menuju Ascalon dipimpin oleh Richard. Bersama dengan itu, Salahuddin sedang mengarahkan operasi pasukannya dan tiba di Ascalon lebih awal. Ketika tiba di Ascalon, Richard mendapatkan kota ini sudah dikuasai pasukan Salahuddin. Merasa tidak berdaya mengepung kota ini, Richard mengirimkan delegasi perdamaian menghadap Salahuddin, atas kemurahan hati sang sultan tawaran damai tersebut diterima dengan kesepakatan bahwa antara pihak muslim dan pasukan Salib, wilayah kedua belah pihak saling tidak menyerang dan menjamin keamanan. Jadi perjanjian damai yang menghasilkan kesepakatan di atas mengakhiri perang Salib ketiga. Kemudian Salahuddin meninggal pada tahun 1193.
Sebelum wafat, Salahuddin memberikan berbagai bagian dari Dinasti Ayyubiyah kepada berbagai anggota keluarganya. Anaknya yang tertua, al-Malik al-Afdal, menguasai Damaskus dan Syam Selatan. Anaknya yang lain, al-Aziz, menguasai Mesir, dan al-Zahir menguasai Aleppo. Saudara Salahuddin, al-Adil, menguasai Irak dan Diyarbakr. Sementara itu keluarganya yang lain menguasai Hama, Balbek dan Yaman
Sabtu, 10 Februari 2018
Rabu, 10 Januari 2018
Dinasti Saljuk
Dinasti
Saljuk
![]() |
| www.wikipedia.com |
Assalamualaikum
sahabat blog miracle islam J kembali lagi kita akan membahas salah
satu dinasti islam yang pernah berdiri di dunia ini. Kali ini, penulis akan
membahas Dinasti Saljuk. Dinasti Saljuk merupakan salah satu dinasti yang berasal
dari bangsa Turki yang berasal dari suku Ghuzz.
Nama Saljuk ini sendiri, diambil dari nama nenek moyang mereka, yaitu Saljuk
ibn Tukak (Dukak) yang pada awalnya merupakan anggota suku Ghuzz yang bekerja
di klinik, akan tetapi dikemudian hari ia diangkat menjadi kepala suku yang
dihormati. Seperti yang kita ketahui, bahwa berdirinya dinasti-dinasti setelah
dinasti Abbasiyah tidak terlepas dari banyaknya wilayah-wilayah yang pada
mulanya berada dalam kekuasaan dinasti Abbasiyah mulai melepaskan diri dari
pemerintahan dinasti Abbasiyah , diantara wilayah-wilayah yang melepaskan diri
adalah yang berbangsa Persia seperti Thahiriyah di Khurasan, Syafariyah di
Fars, Samaniyah di Transoxania, dll. Yang berbangsa Turki seperti Thuluniyah di
Mesir, Ikhsyidiyah di Turkistan, Ghaznawiyah di Afganistan dan Dinasti Saljuk. Kita
mengetahui bahwa dinasti Abbasiyah periode pertama menyumbangkan banyak
kemajuan besar dalam peradaban dunia, hal ini lah yang mendorong para
penguasa-penguasa selanjutnya gemar hidup dalam kemewahan yang diikuti oleh
para pejabat pemerintahan lainnya. Kondisi inilah yang memberi peluang para
tentara profesional asal Turki yang telah diangkat pada masa kekhalifahan
al-Mu’tasim untuk mengambil alih tampuk pemerintahan. Usaha ini berhasil,
sehingga kekuasaan sesungguhnya berada pada tangan mereka, sementara kekuasaan
Bani Abbas di dalam khilafah Abbasiyah yang didirikannya mulai pudar dan ini
merupakan awal dari keruntuhan dinasti ini, meskipun setelah itu usianya masih
dapat bertahan lebih dari 400 tahun. Menurut Syafiq A. Mugni, terdapat dua
versi yang menjelaskan terbentuknya komunitas Turki Saljuk, berikut ini
kutipannya :
1. Raja
Turki yang bernama Beighu ingin menguasai wilayah kerajaan Islam, Tukak (Saljuk
ibn Tukak) menentangnya dan ia memisahkan diri dengan para pengikutnya serta membentuk
suatu komunitas terpisah dari kerajaan.
2. Saljuk
ibn Tukak memisahkan diri dari kerajaan bersama para pengikutnya dan memasuki
wilayah Islam dengan mendirikan pemukiman di dekat daerah Jand di mulut sungai
Jaihun
Setelah Saljuk bin Tukak meninggal,
kepemimpinan Turki Saljuk digantikan oleh Arslan yang memiliki nama asli Israil
bin Saljuk yang merupakan putra dari Saljuk bin Tukak. Pada masa
kepempimpinannya, Bani Saljuk dapat memperluas wilayah kekuasaanya hingga
daerah Nur Bukhara (Nur Ata) dan sekitar Samarkhan. Kemudian kekuasaan bani
Saljuk itu diteruskan oleh Mikail. Akan tetapi Mikail berhasil dibunuh oleh
penguasa dinasti Ghaznawiyah dipimpin oleh Sultan Mahmud karena kelicikannya. Dengan
terbunuhnya Mikail, maka pemerintahan bani Saljuk mengalami kegoyahan.
Pada periode berikutnya
Saljuk dipimpin oleh Thugrul Bek. Ia berhasil mengalahkan Mahmud al-Ghaznawi,
penguasa Ghaznawiyah pada tahun 429 H / 1036 M dan memaksanya meninggalkan
daerah Khurasan, setelah keberhasilan tersebut, Thugrul memproklamirkan berdirinya
dinasti Saljuk. Pada tahun 432 H / 1040 M dinasti ini mendapat pengakuan dari
khalifah Abbasiyah di Baghdad. Disaat kepemimpinan Thugrul Bek inilah, dinasti
Saljuk memasuki Baghdad menggantikan dinasti Buwaihi. Sebelumnya Thugrul
berhasil merebut daerah Marwa dan Naisabur dari kekuasaan Ghaznawi, Balkh,
Jurjan, Tabaristan, Khawarizm, Ray dan Isfahan.[9] Pada tahun ini juga Thugrul
Bek mendapat gelar dari khalifah Abbasiyah dengan Rukh al-Daulah Yamin Amir
al-Muminin.
Dalam perkembangannya,
Dinasti Saljuk dibagi menjadi 5 imperium, kelima imperium itu adalah :
1. Saljuk
Agung
Daerah kekuasaan Saljuk Agung meliputi Ray, Jabal,
Irak, Persia dan Ahwaz. Setelah berhasil mengalahkan dinasti Ghaznawi dan
menduduki singgasana kerajaan di Naisabur di bawah pimpinan Thugrul Bek saat
itulah dia dianggap sebagai pemimpin Dinasti Saljuk yang sebenarnya dan secara
resmi mendapat pengakuan dari kekhalifahan Abbasiyah. . Setelah dipilih sebagai
pemimpin imperium Saljuk, Thugril Bek merencanakan dua hal
·
Melakukan konsolidasi kekuatan militer
yang dianggap menentang kekuasaan saljuk.
Selama memegang kekuasaan, Thugrul Bek menggalang
persatuan yang kuat dengan saudara-saudaranya dengan memberikan kepada mereka
wilayah kekuasaan tertentu. Pada tahun 1050 – 1051 M ia berhasil merebut
Isfahan dan menghancurkan kekuatan Daylamah di Persia. Kemenangan Thugrul Bek
lebih gemilang ketika Hamadan pada tahun 1055 M dapat dikuasai
·
Memperluas kekuasaan
Thugrul Bek herhasil memperluas wilayahnya dengan
merebut Jurjan,Thabaristan, Rayy, Qazwin dan Zunian hingga menguasai hampir
seluruh wilayah Iran, dan kemudian memindahkan ibukotanya ke Rayy.
2. Saljuk
Irak (1118 – 10924 M)
3. Saljuk
syiria
4. Saljuk
Kirman (1041-1186 M)
5. Saljuk
Rum/Asia Kecil
Kemunduran
Dinasti Saljuk
Terdapat
dua factor yang yang menyebabkan kemunduran dinasti Saljuk :
1. Faktor
Internal
a. Lemahnya
para penguasa dinasti Saljuk
b. Perebutan
kekuasaan di pemerintahan pusat
c. Munculnya
dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri
d. Lemahnya
perekonomian
e. Munculnya
aliran-aliran sesat dan fanatisme keagamaan
2. Faktor
Eksternal
a. Perang
salib
b. Serangan
bangsa Mongol yang mengakibatkan runtuhnya dinasti Abbasiyah
Sabtu, 09 Desember 2017
Dinasti Buwaihi
Assalamualaikum sahabat blogger miracle of islam,
kembali lagi saya akan membahas tentang dinasti Islam lainnya. Seperti yang
kita telah ketahui bahwa dinasti Abbasiyah mengalami kemunduran pada abad ke-10
M tepatnya pada masa khalifah ke-20 Dinasti Abbasiyah yaitu Khalifah Ar-Radhi
Billah yang berkuasa pada tahun 940-944 M, dimana pada masa kepempimpinanya
kekuatan politik dan militer Adidaya dari dunia islam mulai melemah. Akibat kemunduran
dinasti Abbasiyah ini, mulailah muncul dinasti-dinasti kecil akibat pemisahan
wilayah yang tergabung dalam dinasti Abbasiyah. Akibat adanya pemisahan wilayah
dari dinasti Abbasiyah, wilayah dinasti Abbasiyah semakin mengecil, selain
munculnya dinasti kecil, berdiri pula kekhalifahan Fathimiyah yang terletak di
Mesir dan kekhalifahan Ummayah yang berada di Andalusia (Spanyol). Karena
kondisi inilah kemudian muncul dinasti Buwaihi yang bermazhab syi’ah yang berkuasa di wilayah Persia
dan Irak yang masuk kedalam dinasti Abbasiyah dan mengendalikan roda
pemerintahan. Pada masa dinasti Buwaihi, khalifah dinasti Abbasiyah hanya
sebagai simbol persatuan saja, sedangkan roda pemerintahan dipegang oleh amir al-umara atau Perdana Menteri yang
berasal dari dinasti Buwaihi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa khalifah hanya
menjadi boneka dan tidak mempunyai kekuasaan untuk memerintah kerajaan. Sedangkan
amir al-umara berkuasa penuh atas
pemerintahan bahkan menentukan kebijakan yang menguntungkan dinasti Buwaihi.
Menurut Professor Syafiq Mughni dalam Ensiklopedia
Tematis Dunia Islam ; Khalifah mengatakan “Kegagalan kekhalifahan Abbasiyah
untuk merekrut dan membayar militer selama separuh pertama abad ke- 4 H/10 M
yang membuat dinasti itu mengendalikan dinasti Abbasiyah”.
Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa Dinasti
Buwaihi mulai dikenal dalam sejarah pada awal abad ke-4 H. Pada awalnya,
dinasti Buwaihi berasal dari tiga bersaudara yang bernama Ali bin Buwaihi, Al
Hasan bin Buwaihi dan Ahmad bin Buwaihi. Ketiganya adalah putra dari orang yang
bernama Buwaihi. Perlu diketahui bahwa Buwaihi ini berasal dari keluarga miskin
yang tinggal di suatu negeri bernama Dailam, yang kehidupan sehari-harinya bekerja
sebagai Nelayan. Ketiga orang anaknya juga mengikuti kehidupan dan pekerjaan
sehari-hari ayahnya sebagai nelayan. Akan tetapi dikemudian hari mereka bertiga
menjadi tentara. Keluarga Buwaihi terkenal dengan keberaniannya. Watak
keberanian ini memang sudah keturunan dari kakek mereka yang bergelar Abu
Suja’, yang memiliki arti bapak pemberani.
Anak tertua Buwaihi, yakni Ali bin Buwaihi diangkat
menjadi komandan tentara karena keberaniannya dan kecakapannya sebagai seorang
pemimpin. Setelah diangkat menjadi komandan tentara , Ali bin Buwaihi membawa
kedua adiknya Al-Hasan dan Ahmad pindah dari negeri mereka ke ibu kota Daulah
Abbasiyah, Baghdad. Sebelum Dinasti Buwaihi berkuasa di dalam Daulah Abbasiyah,
orang-orang Turki lah yang menguasai Daulah Abbasiyah. Penguasa yang terakhir
dari orang-orang Turki adalah Mardawij, pada masa inilah ketiga putra Buwaihi
datang untuk bekerja di bawah pimpinan Mardawij. Oleh Mardawij mereka diterima
dengan baik, karena mereka memiliki kecakapan yang tinggi dan ketiganya
diangkat menjadi panglima untuk wilayah-wilayah yang luas, dan kepada mereka
diberi gelar sultan.
‘Ali bin Buwaihi yang merupakan putra Buwaihi tertua diberi kekuasaan untuk seluruh wilayah Persia,
Al-Hasan adik ‘Ali- diberi kekuasan untuk wilayah Ray, Hamadzan dan Isfahân, sedangkan Ahmad bin
Buwaihi yang paling muda diberikan
kekuasaan untuk wilayah Ahwaz dan Kirman. Pemberian kekuasaan ini tentunya
memberikan peluang bagi Dinasti Buwaihi untuk mendapatkan kekuasaan lebih
dikemudian hari. Terlebih lagi selain dipercaya menjadi penguasa wilayah,
mereka juga merangkap menjadi panglima. Ahmad bin Buwaihi yang pada saat itu ibu kota Baghdad berada dalam kekuasaannya
selalu mencari peluang yang baik untuk menduduki Baghdad yang menjadi tempat
kedudukan khalifah. Kota ini dikawal ketat oleh sejumlah pengawal yang dipimpin
oleh Tauzon, seorang diktator militer yang bergelar Amîr al-Umarâ’. Pada masa khalifah al-Muttaqiy, Ahmad bin Buwaihi
pernah diminta oleh khalifah datang ke Baghdad guna melindungi dirinya, karena
pada waktu itu terjadi keretakan hubungan antara khalifah dengan Tauzon. Pada
tahun 332 H ia berangkat menuju Baghdad, namun sebelum masuk kota itu ia
dicegat oleh Tauzon, sehingga ia gagal masuk ke sana.
Pada tahun 334 H Tauzon meninggal dunia, sedangkan
wakilnya yang bernama Ibn Syairazad sedang berada di luar kota Baghdad.
Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Ahmad ibn Buwaihi untuk memasuki Baghdad,
kehadirannya diterima baik oleh Khalifah al-Mustakfiy yang ketika itu
menghadapi bahaya besar dari orang-orang Turki. Dalam kondisi ini yang terbaik
baginya adalah meminta perlindungan kepada Ahmad ibn Buwaihi yang terkenal
gagah dan berani dengan cara mengangkatnya sebagai penguasa atas nama khalifah.
Sehingga orang-orang Turki yang dianggap berbahaya tidak berpeluang merebut
kedudukan khalifah. Sebagai penghargaan terhadap keluarga Buwaihi, khalifah
memberikan gelar kepada Ahmad bin Buwaihi dengan Mu’îz al-Daulah, kepada Ali bin Buwaihi dengan Imâd al-Daulah dan kepada Hasan bin Buwaihi dengan Rukn al-Daulah. Mulai saat itu resmilah
keluarga Buwaihi sebagai pemegang kekuasaan dalam Daulah Abbasiyah. Selanjutnya
kekuasaan dipegang secara turun temurun oleh keluarga ini hingga mereka
dijatuhkan oleh Bani Saljuk pada tahun 447 H/ 1055 M.
Selama dinasti Buwaihi berdiri, terdapat sebelas
khalifah yang pernah memimpin dinasti Buwaihi, berikut ini nama-nama khalifah
dinasti Buwaihi :
1. Ahmad
Ibn Buwaihi (Mu’îz al-Daulah) tahun 334-356 H
2.
Bakhtiar (’ÃŽzz al-Daulah) tahun 356-367 H
3. Abu
Suja’ ’Khusru (‘Adhd al-Daulah) tahun 367-372 H
4. Abu Kalyajar al-Marzuban (’Sham-sham
al-Daulah) tahun 372-376 H
5. Abu
al-Fawaris (’Syaraf al-Daulah) tahun 376-379 H
6. Abu
Nash Fairuz (’Baha’ al-Daulah) tahun 379-403 H
7. Abu
Suja’ (Sultan al-Daulah) tahun 403-411 H
8. Musyrif
al-Daulah tahun 411-416 H
9. Abu
Thahîr (’Jalal al-Daulah) tahun 416-435 H
10. Abu
Kalyajar al-Marzuban (Imad al-Daulah) tahun 435-440 H
11. Abu Nashr
(’Kushr al-Malik al-Rahîm ) tahun 440-447 H
Hancurnya dinasti Buwaihi
Peperangan antara Baha’, Syaraf dan saudara ketiga
mereka, Shamsham Al Dawlah, juga pertikaian antar anggota-anggota kerajaan
untuk menentukan penerus mereka serta fakta bahwa Buwaihi berkecenderungan
Syi’ah sehingga sangat di benci oleh orang-orang Baghdad yang Sunni, menjadi
sebab-sebab penting bagi keruntuhan dinasti Buwaihi. Pada tahun 1055, Raja
Saljuk yang bernama Thughril Beg memasuki Baghdad dan megakhiri riwayat
kekuasaan Buwaihi. Raja yang terakhir dari dinasti ini di Irak yang bernama Al
Malik Al RAhim (1048-1055), mengakhiri hidupnya dalam kurungan.
Jumat, 10 November 2017
Dinasti
Fatimiyah
Assalamualaikum sahabat blog miracle
islam J
kembali lagi kita akan membahas salah satu dinasti islam yang pernah berdiri
didunia. Kali ini kita akan membahas sejarah lengkap tentang dinasti Fatimiyah.
Pasti kalian semua penasaran bukan? Mari kita simak pembahasan dibawah ini.
Perlu kalian ketahui, bahwa dinasti
Fatimiyah awalnya merupakan sebuah dinasti kecil yang melepaskan diri dari
daulah Abbasiyah di Baghdad. Akan tetapi pada perkembangan selanjutnya, dinasti
Fatimiyah menjadi salah satu dinasti terbesar islam yang pernah berdiri di
dunia loh. Hal ini dibuktikan bahwa dinasti ini mampu berdiri hingga dua abad
lamanya sebelum akhirnya dinasti ini runtuh oleh serangan Salahudin Al-Ayyubi
yang merupakan seorang jenderal dan pejuang muslim kurdi dari Tirkit (Irak) dan
juga merupakan pendiri dinasti Ayyubiyah.
Nama
Fatimiyah yang terletak pada dinasti
ini berasal dari nama Fatimah yang merupakan anak dari Nabi Muhammad SAW. Nama
Fatimah diambil karena para pengikut dinasti ini, mengikuti silsilah keturunan
Fatimah Az-zahra. Dinasti Fatimiyah juga merupakan dinasti beraliran syi'ah
yang mengikuti konsep syi'ah keturunan dati Ali bin Abi Thalib dan Fatimah.
Selain dikenal dengan nama dinasti Fatimiyah, dinasti ini juga dikenal dengan
nama dinasti Ubaidah yang diambil dari nama pendirinya yaitu Abu Muhammad
Ubaidillah Al-Mahdi (297 M-332 M). Terbentuknya dinasti Fatimiyah membuat dunia
islam berada dibawah 3 penguasa besar, yaitu Dinasti Abbasiyah yang terletak di
Baghdad, Dinasti Ummayah yang terletak di Cordova dan Dinasti Fatimiyah yang
terletak di Al-Mahdiah.
Abu Muhammad Ubadillah Al-Mahdi
merupakan pendiri dinasti Fatimiyah sekaligus khalifah pertama dinasti
Fatimiyah. Selama kurang lebih 25 tahun memimpin dinasti Fatimiyah ( 909 M- 934
M) ia membuktikan bahwa dirinya merupakan penguasa cakap dalam memimpin. Hal ini dibuktikan dengan memperluas wilayah
kekuasannya hampir meliputi seluruh wilayah Afrika, mulai dari Maroko yang
dikuasai Idrisiyah hingga perbatasan Mesir. Pada tahun 914, dia berhasil
menguasai Iskandariyah, dua tahun berikutnya wilayah delta berada dalam
kekuasaannya. Kemudian dia mengirimkan seorang gubernur Baru dari suku Kitamah
ke Sisilia dan menjalin pertemanan dengan pemberontak Ibn Hafshun di Spanyol.
Malta, Sardinia, Corsica, Balearic dan pulau-pulau lainnya pernah merasakan
kedahsyatan armada yang diwarisi dari dinasti Aghlabiah. Sekitar 920, ia
memindahkan pusat pemerintahannya ke
ibukota baru al Mahdiyah yang didirikan di pesisir Tunisia, sekitar 27,2
kilometer ke arah tenggara kota Kairawan, dan dinamai dengan namanya sendiri.
Setelah
Abu Muhammad Ubaidillah Al-Mahdi wafat, kepempimpinan dinasti Fatimiyah diambil
alih oleh putrannya yang bernama Abu Al-Qasim Muhammad Al-Qaim yang memerintah
pada tahun 934 M - 946 M. Selama Abu Al-Qasim memimpin, yang menjadi fokus
kebijakan pemerintahannya adalah perluasan wilayah. Hal ini dibuktikan pada
tahun 934 M - 935 M ia mampu menaklukan Genoa dan sepanjan pesisir Calabria.
Abu Al-Qasim juga berencana menaklukan Mesir, akan tetapi usahanya tersebut
tidak membuahkan hasil. Penaklukkan Mesir baru berhasil dilakukan Abu Tamim
Ma’ad al-Mu’iz yang merupakan cucu dari Abu Al-Qasim Muhammad Al-Qaim. Abu
Tamim Ma'ad Al-Muiz berkuasa pada tahun 952 M - 975M. Penyerbuan ke Mesir itu didahului
dengan penyerbuan pantai Spanyol, yang pada saat itu dipimpin oleh Al-Nashr.
Tentara Fatimiyah kemudian maju menuju Atlantik tiga tahun kemudian. Hingga
pada tahun 969 M Mesir dapat direbut dari kekhalifahan dinasti Ikhsidiyah.
Pahlawan
penting dalam penyerbuan ini adalah Jawhar al-Shiqilli berkebangsaan Sisilia
atau Yunani.
Perlu diketahui
dinasti Ikhsidiyah merupakan bagian
Dinasti Abbasiyah yang berkuasa di Mesir dan Suriah 323 M - 58 H/935 M - 69 H,
yang saat ditaklukkan oleh Jenderal
Fathimiyah Jawhar pada tahun 969 M, ikhsidiyah
berpusat di Fusthat dipimpin oleh Ahmad ibnu Kafur yang lemah (968-969).
Sejak
kemenangannya atas ibu kota Fusthat pada tahun 969, Jawhar kemudian mendirikan
Masjid Agung al-Azhar pada tahun 972 M, yang dikemudian hari oleh Khalifah Abu
Al- Manshur Nizar Al-Aziz dikembangkan menjadi universitas besar. Perlu
diketahui bahwa ketika Abu Al- Manshur nizar Al-Aziz memimpin dinasilti Fatimiyah mencapai masa
kejayaannya. Dimana pada saat itu, dinasti Fatimiyah diliputi dengan kedamaian.
Bahkan Khalifah Abu al-Manshur Al-Aziz selalu diagungkan di setiap khutbah
jum'at. Kemudian Jawhar membuat markas baru dengan nama al-Qahirah. Sejak 973
M., kota ini Kairo modern kemudian menjadi pusat kota dinasti Fatimiyah. Pada
tahun yang sama (969 M.), setelah merasa kedudukannya di Mesir kokoh, Jawhar
melirik negara tetangganya Suriah dan mengirimkan seorang panglima perang yang
berhasil menaklukkan kota Damaskus.
Seperti
yang telah disebutkan diatas bahwa puncak kejayaan dinasti Fatimiyah dicapai pada masa pemerintahan Abu al-Manshur
Nizar al-Aziz (975 M- 996 M). Pada saat itu kekuasaan dinasti Fatimiyah
terbentang dari Atlantik hingga Laut Merah, Yaman, Mekah, Damaskus, bahkan
Mosul. Ia adalah khalifah Fathimiyah yang kelima dan khalifah pertama yang
memulai pemerintahan di Mesir. al-Aziz berhasil menempatkan dinasti Fatimiyah
sebagai negara Islam terbesar di kawasan Mediterania Timur, bahkan berhasil
menenggelamkan pamor penguasa Bagdad. al-Aziz rela menghabiskan dua juta dinar
untuk membangun istana yang tidak kalah megah dari istana Abbasiyah. al-Aziz
merupakan khalifah yang paling bijaksana
dan murah hati diantara para khalifah Fatimiyah.14
Kemakmuran dan kejayaan dinasti Fatimiyah dapat dilihat dari keadaan pekerja istana kerajaan pada
saat itu berjumlah 12.000 orang pelayan, 10.000 pengurus kuda dan 8.000
pengurus yang lain. Kedamaian pada saat itu tergambar dengan tidak terkuncinya
toko perhiasan dan toko money changer,
bahkan khalifah al-Aziz memiliki 20.000 rumah di ibu kota yang dibangun
menggunakan batu bata dengan ketinggian lima atau enam lantai.
Setelah Abu al-Manshur
Nizar Al-Aziz wafat dan digantikan oleh anaknya yaitu Abu ‘Ali al-Mansur al-Hakim bi-Amr Allah
(996M – 1021 M) yang pada saat menggantikan ayahnya masih berumur belasan
tahun. Pada saat penggatian kekuasaan inilah yang menjadi titik awal kegoyahan
dinasti Fatimiyah. Pada saat Abu Ali al-Mansur al-Hakim bi-Amr Allah menjadi
khalifah, ia berada dibawah pengaruh seorang gubernur yang bernama Barjawan
yang menjadi tokoh utama dalam kepempimpinan khalfiah Abu Ali al-Mansur
al-Hakim. Akan tetapi dikemudain hari, Barjawan dihukum mati oleh al-Hakim
karena penyalahgunaan kekuasaan. Selama menjabat, al-Hakim membuat
kebijakan-kebijakan yang menakutkan. Pada saat ia memerintah, ia membunuh
beberapa wasir, menghancurkan beberapa gereja, menghancurkan kuburan suci umat
Kristen (1009 M.), menetapkan aturan ketat terhadap non-Islam dengan menjadikan
Islam eksklusif dari agama lain seperti pakaian dan identitas agama. Aturan-aturan
yang merugikan non-Islam diberlakukan sehingga mulailah timbul ketidaksenangan.
Puncak kemunduran dinasti Fatimiyah terjadi pada khalifah
Fatimiyah yang keempat belas yaitu al-Adhid, berumur sembilan tahun ketika naik
tahta. Pada masa ini kehidupan masyarakat yang sangat sulit, sumber kehidupan
tinggal aliran sungai Nil, kelaparan dan wabah penyakit yang sering terjadi,
akhirnya berimplikasi pada pajak yang tinggi dan pemerasan untuk memuaskan
kebutuhan khalifah dan angkatan bersenjatanya yang rakus. Keadaan semakin parah
dan rumit dengan datangnya pasukan perang Salib dan serangan dari Almaric, Raja
Yerusalem pada tahun 1167 M telah berdiri di pintu gerbang Kairo. Akhirnya
Shalahuddin al-Ayyubi pada tahun 1171 menurunkan khalifah Fatimiyah yang terakhir
dari tahtanya.27 Setelah menaklukkan
khalifah Fatimiyah terakhir Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi mendirikan Dinasti
Ayyubiyah yang berpusat di Kairo Mesir dari tahun 1174 M-1252 M
Berikut ini adalah nama-nama khalifah yang
pernah memimpin dinasti Fatimiyah yang berpusat di Al-Mahdiyah :
1. Khalifah Ubaidilah Al-Mahdi (909-934),
pendiri Dinasti Fatimiyah.
2. Abu al-Qasim
Muhammad al-Qa’im bi Amr Allah bin al-Mahdi Ubaidillah (934-
946).
3. Isma’il al-Mansur bi-llah (946-952).
4. Abu Tamim Ma’add al-Mu’iz li-Din Allah (952 M
– 975) M. Mesir ditaklukkan
semasa pemerintahannya.
5. Abu Mansur Nizar al-‘Aziz bi-llah (975 M –
996 M).
6. Abu ‘Ali al-Mansur al-Hakim bi-Amr Allah
(996M – 1021 M).
7. Abu’l-Hasan ‘Ali al-Zahir li-I’zaz Din Allah
(1021 M – 1036 M).
8. Abu Tamim Ma’add al-Mustanhir bi-llah (1036 M
– 1094 M).
9. Al-Musta’li bi-Allah (1094 M-1101 M).
10. Al-Amir bi Ahkam Allah (1101 M – 1130 M)
11. Abd al-Majid (1130 M – 1149 M).
12. Al-Wafir (1149 M – 1154 M).
13. Al-Fa’iz (1154 M – 1160 M).
14. Al-‘Adid (1160 M – 1171 M)
Pada
masa kekhalifahan Al-Adid, dinasti Fatimiyah mengalami kehancuran setelah
berdiri kurang lebihh dua abad lamanya.
Selasa, 10 Oktober 2017
Dinasti Hamdaniyah
Assalamualaikum sahabat miracle islam J,
berjumpa lagi dengan blog kesayangan kita yang membahas sejarah-sejarah dinasti
islam yang pernah berdiri didunia. Kali ini penulis akan membahas salah satu
dinasti dari tiga dinasti kecil yang berada di kota Baghdad, yakni Dinasti
Hamdaniyah. Seperti yang telah penulis sebutkan, dinasti Hamdaniyah merupakan
dinasti kecil yang berdiri di bagian barat kota Baghdad, dua lainnya adalah
dinasti Thuluniyah (868-901M) yang berkuasa di Mesir dan dinasti Ikhsidiyah
(935-965M) yang berkuasa di Turkistan. Sedangkan dinasti Hamdaniyah sendiri
berkuasa di Allepo dan Mosul. Wilayah kekuasaan dinasti Hamdaniyah yang berada
di Allepo (Halb) dikenal sebagai daerah yang melindungi kesusatraan Arab dan
Ilmu pengetahuan. Hal ini dibuktikan dengan muculnya beberapa tokoh cendekiawan
besar seperti Abi al Fath dan Utsman
Ibn Jinny yang menggeluti bidang Nahwu, Abu Thayyib al Mutannabi, abu Firas
Husain Ibn Nashr ad daulah, Abu A’la al Ma’ari, dan Syaif ad Daulah
sendiri yang mendalami ilmu sastra, serta lahir pula filosof besar, yaitu Al-
Farabi.
Dinasti Hamdaniyah berdiri pada tahun 972-1152M. Dinasti ini muncul sebagai
tandingan dinasti Ikhsidiyah yang berada di Turkistan. Dinasti ini didirikan
oleh Hamdan bin Hamdun, yang merupakan seorang Amir dari suku Taghlib dengan
gelar Abu Alhaijja. Putranya bernama Husain bin Hamdan yang merupakan panglima
dari pemerintahan Abbasiyah. Hamdan bin Hamdun merupakan gubernur Mosul (Irak)
yang diangkat pada tahun 905M oleh khalifah Al-Muktafi. Dalam hidupnya Hamdan
pernah ditangkap oleh Khalifah dinasti Abbasiyah karena beraliansi dengan kaum
khawarij untuk menentang kekhalifahan dinasti Abbasiyah. Akan tetapi Hamdan bin
Hamdun diampuni oleh khalifah Abbasiyah karena putrannya menyelamatkannya. Setelah
Haija wafat, tahta kerajaan Mosul diberikan kepada kedua putranya yaitu Hasan
bin Abu Haijja yang bergelar Nashir ad-Daulah dan Ali bin Abu Haijja yang
bergelar Syaif ad-Daulah. Ali bin Abu Haijja inilah yang berhasil menguasai
daerah Halb dan Hilms yang merupakan daerah kekuasaan dinasti Ikhsidiyah dan
disana ia mendirikan dinasti Hamdaniyah yang berkuasa di Halb.
Para penguasa dinasti Hamdaniyah tercatat
bersimpati dengan ideology syi’ah, akan tetapi syi’ah moderat. Jauh sebelum terbentuknya
dinasti Hamdaniyah, mereka telah melakukan upaya-upaya pemberontakan dan juga
makar kepada kekhalifahan Abbasiyah yang pada saat itu dipimpin oleh khalifah
Al-Mu’tamid, akan tetapi usaha mereka terus gagal dan tidak membuahkan hasil.
Akhirnya pada saat kekhalifahan Al-Muqtadir, usaha mereka pun membuahkan hasil.
Pada masa kekhalifahan Al-Muqtadir, tiga bersaudara keturunan Hamdan berhasil
memperoleh jabatan-jabatan penting di dalam pemerintahan Al-Muqtadir, mereka
yaitu : Abdullah bin Hamdan yang diangkat menjadi gubernur Mosul, Said bin
Hamdan yang diangkat menjadi gubernur Nahwad, dan Ibrahim bin Hamdan yang
diangkat menjadi gubernur suku-suku Rabi’ah. Gubernur Mosul yaitu Abdullah bin
Hamdan memiliki anak yang memiliki potensi menggantikan dirinya, yaitu Abu
Muhammad. Sedangkan anak lainnya Husein bin Abdullah di tempatkan di Halb
(Allepo). Keduannya membuat dinasti Hamdaniyah berkembang cukup pesat, Abu
Muhammad melakukan perluasan dan pertahanan daerah kekuasaanya dari bangsa
Romawi dengan cara mengajukan wilayah utara Syiria menjadi wilayah kekuasaannya
kepada penguasa khalifah Ikhsidiyah dengan tujuan mempermudah pengawasan
apabila terjadi serangan dari bangsa Romawi. Dinasti Ikhsidiyah menyetujui hal
itu dengan syarat dinasti Hamdaniyah tidak boleh melakukan penyerangan ke
daerah Damaskus yang merupakan wilayah kekuasaan dynasti Ikhsidiyah. Selain itu
dinasti Ikhsidiyah juga membayar upeti yang cukup banyak kepada dinasti
Hamdaniyah. Selain itu, Abu Muhammad juga dapat membuat Baghdad tunduk padanya
selama kurang lebih satu tahun. Dimana pada saati itu Bagdad berada pada tangan
dinasti Buwaih. Abu Muhammad berhasil mengusir dinasti Buwaih dari Baghdad,
akan tetapi setelah dinasti Buwaih berhasil memperoleh kekuatannya kembali,
mereka pun balik mengusir dinasti Hamdaniyah dari Baghdad. Pada tahun 356M, Abu
Muhammad wafat dan dua tahun kemudian , saudaranya Husein bin Abdullah juga
wafat pada tahun 358M. Dengan meninggalnya dua pemimpin besar dinasti
Hamdaniyah ini, kejayaan dinasti Hamdaniyah mulai redup. Karena para penguasa
selanjutnya saling memperebutkan kekuasaan, sehingga menyebabkan lemahnya
struktur pemerintahan dan sendi-sendi militenya.
Terdapat beberapa factor yang menyebabkan dinasti Hamdaniyah mengalami
kemunduran.
1. Pertama,
meskipun dinasti ini berkuasa di daerah yang cukup subur dan makmur serta
memiliki pusat perdagangan yang strategis, sikap kebaduiannya yang tidak
bertanggung jawab dan destruktif tetap ia jalankan sehingga rakyat menderita.
2. Kedua, bangkitnya kembali Dinasti Bizantium di
bawah kekuasaan Macedonia yang bersamaan dengan berdirinya dinasti Hamdaniyah
di Suriah menyebabkan dinasti Hamdaniyah tidak bisa menghindari invasi serangan
Bizantium yang energik sehingga Aleppo dan Himsh terlepas dari kekuasaannya.
3. Ketiga, kebijakan ekspansionis Fatimiyah ke
Suriah bagian selatan, sampai mengakibatkan terbunuhnya Said ad Daulah yang
tengah memegang tampuk kekuasaan Hamdaniyah. Hingga dinasti ini jatuh ke tangan
dinasti Fatimiyah
Sabtu, 09 September 2017
Dinasti Thulun
Assalamualaikum sahabat blog miracle
islam J,
pada kesempatan kali ini kami akan membahas kembali, salah satu dinasti islam
yang pernah berdiri. Semoga sahabat blog miracle islam tidak bosan dengan
sejarah dinasti-dinasti islam. Karena dengan mengetahui sejarah dinasti-dinasti
tersebut, kita dapat menambah wawasan pengetahuan kita tentang islam pada zaman
dahulu.
Dinasti Thulun, merupakan dinasti yang
memegang kekuasaan di daerah Mesir dan Suriah. Dinasti ini muncul pada saat
dinasti Abbasiyah yang terletak di Baghdad masih berdiri. Hal ini tentunya
memiliki kesamaan dengan dinastiaAghlabiyah yang terletak di Maroko dan juga
dinasti Samaniyah yang terletak di Iran Raya dan Asia tengah yakni bersama-sama
berdiri saat dinasti Abbasiyah masih berkuasa. Akan tetapi dinasti Thulun
berbeda dengan dinasti-dinasti islam lainnya yang berdiri, dimana
dinasti-dinasti tersebut masih mengakui serta tunduk pada kekuasaan dinasti
Abbasiyah, akan tetapi dinasti Thulun merupakan dinasti yang berdiri secara
independent artinya terlepas dari kekhalifahan dinasti Abbasiyah.
![]() |
| masjid Ahmad bin Thulun (muslimedianews.com) |
Langganan:
Postingan (Atom)






