Sabtu, 09 September 2017

Dinasti Thulun

Assalamualaikum sahabat blog miracle islam J, pada kesempatan kali ini kami akan membahas kembali, salah satu dinasti islam yang pernah berdiri. Semoga sahabat blog miracle islam tidak bosan dengan sejarah dinasti-dinasti islam. Karena dengan mengetahui sejarah dinasti-dinasti tersebut, kita dapat menambah wawasan pengetahuan kita tentang islam pada zaman dahulu.


Dinasti Thulun, merupakan dinasti yang memegang kekuasaan di daerah Mesir dan Suriah. Dinasti ini muncul pada saat dinasti Abbasiyah yang terletak di Baghdad masih berdiri. Hal ini tentunya memiliki kesamaan dengan dinastiaAghlabiyah yang terletak di Maroko dan juga dinasti Samaniyah yang terletak di Iran Raya dan Asia tengah yakni bersama-sama berdiri saat dinasti Abbasiyah masih berkuasa. Akan tetapi dinasti Thulun berbeda dengan dinasti-dinasti islam lainnya yang berdiri, dimana dinasti-dinasti tersebut masih mengakui serta tunduk pada kekuasaan dinasti Abbasiyah, akan tetapi dinasti Thulun merupakan dinasti yang berdiri secara independent artinya terlepas dari kekhalifahan dinasti Abbasiyah.
masjid Ahmad bin Thulun (muslimedianews.com)

peta kekuasaan dinasti Thulun (http://islamicprabuwayangkomputer.blogspot.co.id)

Dinasti Thulun berdiri pada tahun 254 H/868 M yang di dirikan oleh Ahmad bin Thulun. Nama Thulun sendiri berasal dari nama ayah pendirinya yakni Thulun yang merupakan seorang budak yang berdarah Mongol. Nama Thulun sendiri memiliki arti “Kemunculan yang sempurna” dalam Bahasa Turki. Awal mulanya Thulun merupakan budak dari Nuh bin Asad, akan tetapi kemudian Thulun di hadiahkan kepada Khalifah Abbasiyah yakni Al-Ma’mun pada tahun 816 M, bersamaan dengan pemuda-pemuda lainnya oleh gubernur Bukhara di Transoxiana. Thulun memiliki seorang anak yaitu Ahmad, Ahmad sendiri diajari bahasa Arab, Alquran dan hukum Islam secara mendalam. Dia mengunjungi perbatasan profinsi Tarsus beberapa kali untuk belajar di bawah seorang sarjana special hingga dia sendiri menjadi ahli dalam studi Islam dan juga seni dalam militer. Karena ketangkasan dan keprofesionalannya dalam militer akhirnya al-Makmun mengangkatnya menjadi Rais al-Hars (kepala pengawal istana). Setelah Thulun wafat, istrinya dikawini oleh Eimir Beibek. Dengan bantuan Emir Baibek, Ahmad bin Thulun diangkat menjadi gubernur di daerah Mesir dan Libya. Setelah beberapa lama menjadi Gubernur, Ahmad pun mulai memperkukuh kedudukannya sebagai penguasa di Mesir. Ahmad pun membeli beberapa orang budak bangsa Dailam dan bangsa Zanji (Negro), secara terang-terangan Ahmad mengutaran maksudnya mendirikan kekuasaan tersendiri yang terlepas dari kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad. Hal ini pun direalisasikan pada saat khutbah Jum’at, yang mana biasannya di ucapkan pujian kepada khalifah Abbasiyah saat khutbah, kemudian diganti menjadi pujian kepada Ahmad bin Thulun sebagai raja Mesir. Tak hanya itu, hasil pajak pun tidak dikirimkan lagi ke Baghdad. Kekayaan Mesir pun hanya di gunakan untuk pembangunan Mesir itu sendiri. Ia juga membangun kota Qota’i di sebelah utara Fustat, sebagai ibukota baru, dengan meniru model kota Samarra yang berada di utara Baghdad . Ia bangun rumah sakit besar. Rumah sakit yang pertama muncul di Mesir dan ia bangun Mesjid Agung yang dikenal dengan nama Jami’ Ibnu Thulun yang pada bagian dalamnya terukir lebih kurang sepertujuh belas dari seluruh ayat-ayat Alquran dengan huruf Arab Kufi. Banyak bangunan-bangunan megah ia dirikan untuk menambah semaraknya kota yang menjadi tandingan bagi kota Samarra itu.
Selain melakukan pembangunan, Ahmad bin Thulun juga melakukan perluasan daerah. Ia menaklukkan Damaskus, Homs, Homat, Aleppo, dan Antiokia (semuanya di Syam dan Syiria). Dengan demikian ia bukan saja membuat Mesir merdeka (berdiri sendiri) tetapi bahkan berkuasa atas tanah Syam, suatu keadaan yang tidak pernah terjadi setelah setelah Mesir ditaklukan Persia pada 340 SM. Untuk memudahkan usaha kontrol atas tanah Syam ia membangun armada laut yang kuat dan pangkalan angkatan laut di Akka (Syam). Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad yang mengetahui lepasnya Mesir dari kekuasaanya, mengirimkan pasukan untuk menaklukkan kembali Mesir. Tetapi usaha tidak berhasil karena kedudukan Ahmad bin Thulun telah kuat, ditambah dengan simpati rakyat Mesir kepadanya. Sebab selama ini mereka membayar pajak yang amat tinggi kepada Baghdad. Setelah kedudukannya kuat di Mesir, tahun 868 memproklamirkan berdirinya Dinasti Thuluniyah. Dengan di proklamirkan berdirinya dinasti Thulun, mesir menjadi Negara merdeka yang tidak menjadi bagian provinsi ataupun bagian dari imperium Romawi setelah 9 Abad lama nya.

Kemajuan Dinasti Thulun
Khalifah pertama dinasti Thulun  yakni,Ahmad bin Thulun mecurahkan perhatian yang sangat besar di bidang perekonomian. Hal ini dapat di lihat dengan pembangunan-pembanguna sebagai berikut :
1.      Memperbaiki tempat ukuran air sungai Nil (nilometer) di pulau Raudah.
2.      Bendungan dan seluruh irigasi ditambah, sehingga areal pertanian menjadi lebih luas.
3.      Terdapat industri senjata, sabun, gula, kain, dan lain-lain.
4.       Jembatan, terusan, dan armada perhubungan darat, sungai, dan laut diperbesar demi meramaikan dan melancarkan lalu lintas perdagangan dalam seluruh wilayah yang dikuasainya.
5.       Pada masjid agung itu disediakan dokter-dokter khusus setiap hari jum’at untuk mengobati orang-orang sakit dengan cuma-cuma.
6.      Membangun banyak Mustasyfa yakni rumah sakit umum untuk menampung para pasien dari segala agama dan aliran dan memperoleh perawatan dengan cuma-cuma sampai sehat.




Melalui kerja keras nya, Ahmad bi Thulun berhasil mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Pada 904 M (270 H) ia wafat dengan meninggalkan nama yang harum sebagai seorang hafiz, negarawan pemberani, pemurah serta dekat dengan ulama dan rakyat. Dengan wafatnya Ahmad bin Thulun, pemegang kekuasaan dnasti Thulun diberikan kepada putranya, yaitu Khumarawaih yang pada saat itu masih berusia 20 tahun. Tak lama setelah diangkat menggantikan ayahnya, Khumarawaih mendapat tantangan berat. Damaskus diserang oleh pasukan gabungan (terdiri dari pasukan al-Muwaffiq, saudara khalifah Baghdad, pasukan Ibnu Kindag, gubernur Mosul dan pasukan Muhammad bin Abi Sibag, gubernur Armenia). Amir Khumarawaih maju memimpin sendiri pasukannya untuk merebut kembali Damaskus pada 907 M (273 H), dan berhasil memaksa al-Muwaffiq dan khalifah Mu’tamid untuk mengakui kedaulatan dinasti Thuluniyah di Mesir dan Syam. Kekuasaan Khumarawaih semakin mantap dan luas setelah musuh-musuh utamanya meninggal (al-Muwaffiq dan Ibnu Kindag pada 912 m (278 H) dan khalifah Mu’tamid pada tahun berikutnya).
Dengan kekayaan yang melimpah, Khumarawaih mendirikan lagi gedung-gedung megah dan taman-taman yang indah. Ia gunakan uang antara lain 900.000 dinar pertahun untuk pembiayaan pasukan dan 23.000 dinar perbulan untuk menyediakan makanan gratis bagi para fakir dan orang-orang lemah melalui dapur-dapur umum. Dalam istananya yang megah terdapat Golden Hall, aula dengan dinding yang berlapis emas dan dihiasi dengan gambar para istrinya dan gambar para penyanyi istana. Istananya terletak di tengah taman yang penuh dengan aneka bunga yang tersusun sedemikian rupa sehingga membentuk ungkapan-ungkapan berbahasa Arab. Sebuah kolam renang berlapis perak di halaman istana, kebun binatang dan istana burung ikut melengkapi semaraknya istana dinasti Thuluniyah.

Kemunduran Dinasti Thulun

Kematian Khumarwaihi pada 895 merupakan titik awal kemunduran Dinasti Thuluniyah ini. Persaingan yang hebat antara unsur-unsur pembesar dinasti telah memecah persatuan dalam dinasti. Amir yang ketiga (Jaish Ibnu Asakir) dilawan oleh sebahagian besar pasukannya dan dapat disingkarkan pada 896. Adiknya yang baru berusia 14 tahun, Harun Khumarwaihi diangkat sebagai amir yang keempat. Kelemahan yang sedemikian rupa mengantarkan dinasti ini berakhir setelah amirnya yang kelima yaitu Syaiban Ibnu Ahmad Ibnu Thulun (hanya memerintah 12 hari) menyerah ke tangan pasukan Bani Abbas yang menyerang Mesir pada 905 dengan demikian berakhirlah riwayat Dinasti Thuluniyah.



Senin, 07 Agustus 2017

Dinasti Safawi


Assalamualaikum sahabat miracle of islam, pada kesempatan kali ini kita akan membahas kembali salah satu dinasti islam yang pernah berdiri di Persia, yakni Dinasti Safawi. Perlu diketahui, Dinasti Safawi merupakan salah satu dari tiga kerajaan Islam yang berkembang cukup cepat setelah adanya kemunduran politik islam yang turun secara drastis akibat runtuhnya ke khalifahan dinasti Abbasiyah di Baghdad, akibat serangan bangsa Mongol. Dinasti ini berdiri pada tahun 1252-1334 M yang diambil dari nama pendirinya yaitu Safi al-Din. Pada awalnya, dinasti safawi berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di kota Ardabil, Azerbajian. Nama safawi itu terus di pertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Setelah gerakan politik tersebut berhasil mendirikan kerajaan, nama Safawi pun masih terus digunakan sebagai Dinasti Safawi.
Bersamaan dengan berdirinya tarekat Safawi, berdiri pula kerajaan Usmani yang terletak di Turki. Pada perkembanganya kerajaan Safawi sering berselisih dengan kerajaan Usmani. Diawal artikel, dijelaskan pada saat Dinasti Abbasiyah runtuh, terdapat tiga kerajaan islam yang berkembang cukup pesat, ketiga kerajaan tersebut adalah kerajaan Turki Usmani, Mughal di India dan Safawi di Persia. Kerajaan Safawi mempunyai perbedaan dari dua kerajaan islamlainya. Kerajaan Safawi menyatakan bahwa kerajaan tersebut menganut islam aliran syi’ah dan syi’ah itu dijadikan sebagai mazhab Negara. Sehingga kerajaan Safawi dianggap sebagai peletak dasar pertama terbentuk Negara Iran.
Safi al-Din (pendiri dinasti safawi) merupakan keturunan Imam syi’ah yang keenam yaitu, “Musa al-Kazim”. Berdirinya tarekat Safawi dilatarbelakangi dengan munculnya orang-orang ingkar dan ahli bid’ah. Sehingga tarekat Safawi bertujuan untuk memerangi orang-orang tersebut. Setelah tarekat ini mengubah bentuk menjadi gerakan keagamaan, tarekat ini menjadi semakin penting. Sebelumnya tarekat ini merupakan pengajian tasawuf murni. Tarekat ini  sangat berpengaruh di Persia, Syria dan Anatolia. Di Negara-negara di luar Ardabil, Safi menempatkan seorang wakil yang memimpin murid-muridnya. Wakil-wakil tersebut diberi gelar Khalifah. Dalam perkembangannya Bangsa Safawi (tarekat Safawiyah) sangat fanatik terhadap ajaran-ajarannya. Hal ini ditandai dengan kuatnya keinginan mereka untuk berkuasa karena dengan berkuasa mereka dapat menjalankan ajaran agama yang telah mereka yakini (ajaran Syi'ah). Karena itu, lama kelamaan murid-murid tarekat Safawiyah menjadi tentara yang teratur, fanatik dalam kepercayaan dan menentang setiap orang yang bermazhab selain Syiah.
Pada masa Juneid (raja kelima dinasti safawi), tarekat ini mulai masuk kedalam dunia politik. Masuknya tarekat Safawi ke dalam dunia politik menimbulkan konflik dengan para penguasa Kara Konyulu atau yang di kenal dengan Domba Hitam yang merupakan salah satu  suku Turki yang berkuasa di wilayah tersebut. Dalam konflik tersebut, Juneid kalah dan diasingkan ke suatu tempat. Di tempat baru ini dia mendapat perlindungan dari penguasa diyar bakr, ak-Koyunlu (domba putih), yang juga merupakah salah satu suku bangsa Turki. Ia tinggal di istana Uzun Hasan, yang ketika itu menguasai sebagian besar Persia.

Selama dipengasingan, Juneid tidak tinggal diam. Ia dapat menghimpun kekuatan untuk kemudian beraliansi secara politik dengan uzun hasan. Ia juga berhasil mempersunting salah seorang saudara perempuan Uzun hasan. Pada tahun 1459M. Juneid mencoba merebut Ardabil tetapi gagal. Pada tahun 1460M, ia mencoba merebut Sircasia tetapi pasukan yang dipimpinnya dihadang oleh tentara Sirwan. Ia sendiri terbunuh dalam pertempuran tersebut. Ketika itu anak Juneid yaitu Haidar  masih kecil dan dalam asuhan uzun hasan. Karena itu kepemimpinan gerakan safawi baru bisa diserahkan kepadanya secara resmi pada tahun 1470M.  Setelah Haidar tumbuh dewasa, Haidar mengawini salah satu anak dari Uzun Hasan. Pernikahan tersebut membuat hubungan Haidar dan Uzun Hasan semakin erat. Dari perkawinan itu lahirlah Ismail yang dikemudian hari menjadi pendiri kerajaan Safawi di Persia.

Pada tahun 1476M, Ak Koyunlu meraih kemenagan perang terhadap Kara Koyunlu, hal ini membuat gerakan militer Safawi yang dipimpin oleh Haidar sebagai ancaman politik oleh Ak Koyunlu untuk meraih kekuasaan selanjutnya. Padahal, sebagaimana telah disebutkan, Safawi adalah sekutu Ak Koyunlu. Ak Koyunlu berusaha melenyapkan kekuatan militer dan kekuasaan  Safawi karena itu, ketika Safawi menyerang  wilayah Sircassia dan pasukan Sirwan. AK koyunlu mengirimkan bantuan militer kepada Sirwan, sehingga pasukan Haidar kalah dan Haidar sendiri terbunuh dalam peperangan itu. Ali, putra dan pengganti Haidar, didesak oleh bala tentaranya untuk menuntut balas atas kematian ayahnya, terutama terhadap AK koyunlu, tetapi Ya’kub pemimpin Ak koyunlu dapat menangkap dan memenjarakan Ali bersama saudaranya Ibrahim dan Ismail serta ibunya, di fars selama empat setengah tahun (1489-1493M). Mereka dibebaskan oleh Rustam, putra mahkota Ak koyunlu, dengan syarat mau membantunya memerangi saudara sepupunya. Setelah saudara sepupu Austam dapat dikalahkan. Ali bersaudara kembali ke Ardabil. Akan tetapi pada tahun 1494M Ali terbunuh dalam peperangan yang dilatarbelakangi oleh Rustam yang berbalik memerangi Ali bersaudara. Kepemimpinan gerakan Safawi, selanjutnya berada di tangan Ismail, yang saat itu masih berusia tujuh tahun, selama lima tahun ismail beserta pasukannya bermarkas di gilan, mempersiapkan kekuatan dan mengadakan hubungan dengan para pengikutnya di Azerbaijan, syria, dan anatolia. Pasukan yang dipersiapkan itu dinamai Qizilbash (baret merah).

Dibawah pimpinan Ismail, pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash menyerang dan mengalahkan Ak koyunlu di sharur, dekat Nakhchivan. Pasukan ini terus berusaha memasuki dan menaklukkan Tabriz, ibu kota AK koyunlu dan berhasil merebut serta mendudukinya. Di kota ini ismail memproklamirkan dirinya sebagai raja dinasti Safawi dengan ini resmilah berdiri sebuah dinasti baru ditanah Persia.

Pemimpin-pemimpin Kerajaan Safawi  sebelum terbentuk Dinasti :
1.      Safi Al-Din (1252-1334 M)
2.      Sadar Al-Din Musa (1334-1399 M)
3.      Khawaja Ali (1399-1427 M)
4.      Ibrahim (1427-1447 M)
5.      Juneid 1447-1460 M)
6.      Haidar 1460-1494 M)
7.      Ali (1494-1501 M)        
Setelah berdirinya Dinasti Safawi :
1.      Ismail (1501-1524 M)
2.      Tahmasp I (1524-1576 M)
3.      Ismail II (1576-1577 M)      
4.      Muhammad Khudabanda (1577-1787 M)
5.      Abbas I (1588-1628 M)
6.      Safi Mirza (1628-1642 M)
7.      Abbas II (1642-1667 M)
8.      Sulaiman (1667-1694 M)
9.      Husen (1694-1722 M)
10.  Tahmasp II (1722-1732 M)
11.  Abbas III (1732-1736 M)
Masa Kejayaan Dinasti Safawi
Kerajaan Safawi mengalami puncak kejayaan pada Masa Abbas I, pada awal kepempimpinannya ia melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

1.      Menghilang dominasi pasukan Qizilbash atas kerajaan Safawi dengan membentuk pasukan baru yang beranggotakan budak-budak yang berasal dari tawanan perang bangsa Georgia, Armenia dan Sircassia.
2.      Mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani dengan cara Abbas I berjanji tidak akan menghina tiga khalifah pertama dalam Islam (Abu Bakar, Umar, Ustman) dalam khotbah Jumatnya.



Langkah tersebut membuat dinasti Safawi menjadi kuat kembali dan memperoleh masa kejayaan nya. Berikut ini salah satu kejayaan dinasti Safawi :
·         Bidang Politik dan Pemerintahan
terwujudnya integritas wilayah Negara yang luas yang dikawal oleh suatu angkatan bersenjata yang tangguh dan diatur oleh suatu pemerintahan yang kuat, serta mampu memainkan peranan dalam percaturan politik internasional.
·         Bidang Ekonomi
Kerajaan Safawi pada masa Syah Abbas mengalami kemajuan dibidang ekonomi, terutama industri dan perdagangan. Stabilitas politik Kerajaan Safawi pada masa Abbas I ternyata telah memacu perkembangan perekonomian Safawi, lebih-lebih setelah kepulauan Hurmuz dikuasai dan pelabuhan Gumrun diubah menjadi Bandar Abbas.
·         Bidang Ilmu Pengetahuan
Menurut Hodhson, ada dua aliran filsafat yang berkembang pada masa Safawi tersebut. Pertama, aliran filsafat “Perifatetik” sebagaimana yang dikemukakan oleh Aristoteles dan Al-Farabi. Kedua filsafat Isyraqi yang dibawa oleh Syaharawadi pada abad ke XII. Kedua aliran ini banyak dikembangkan di perguruan Isfahan dan Syiraj. Di bidang filosof ini muncul beberapa orang filosof diantaranya Muhammad Baqir Damad (W. 1631 M) yang dianggap guru ketiga sesudah Aristoteles dan Al-Farabi, tokoh lainnya misalnya Mulla Shadra yang menurut sejartah ia adalah seorang dialektikus yang paling cakap di zamannya.
Kemunduran Dinasti Safawi
 Setelah Abbas I Wafat, kerajaan Safawi mengalami kemunduran. Faktor-faktor yang mempengaruhi mundurnya kerajaan Safawi antara lain sebagai berikut :
1.      Konflik panjang dengan kerajaan Turki Usmani. Hal ini disebabkan oleh perbedaan mazhab antar kedua kerajaan. Bagi Kerajaan Usmani, berdirinya Kerajaan Safawi yang beraliaran Syi’ah merupakan ancaman langsung terhadap wilayah kekuasaannya. Konflik antara kedua kerajaan tersebut berlangsung lama, meskipun konflik itu pernah berhenti sejenak ketika tercapai perdamaian antara keduanya pada masa Raja Shah Abbas I, namun tak lama kemudian Abbas meneruskan konflik tersebut, dan setelah itu dapat dikatakan tida ada lagi perdamaian antara kedua kerajaan besar Islam itu.[29]
2.      Adanya dekadensi moral yang melanda sebagaian para pemimpin Kerajaan Safawi.
3.      Pasukan Ghulam (budak-budak) yang dibentuk Abbas I tidak memiliki semangat perang yang tinggi seperti Qilzibash (baret merah) hal ini dikarenakan pasukan tersebut tidak disiapkan secara terlatih dan tidak melalui proses pendidikan rohani. Seperti yang di alami oleh pasukan Qilzibash, sementara anggota pasukan Qilzibash yang baru tidak memiliki militansi dan semangat yag sam,a dengan anggota Qilzibash sebelumnya.
4.      Seringnya terjadi konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan dikalangan keluarga istana

Minggu, 09 Juli 2017

Dinasti Samaniyah

Assalamualaikum sahabat blog miracle of islam, pada kesempatan kali ini saya akan membahas kembali dinasti Islam yang pernah berdiri. Semoga sahabat blog tidak bosan dengan sejarah tentang berdirinya dinasti islam di dunia. Kali ini saya akan membahas dinasti Samaniyah. Dinasti Samaniyah memiliki kesamaan dengan dinasti Aghlabiyah yang terletak Maroko, yakni berdiri pada saat dinasti Abbasiyah masih berkuasa. Meskipun dinasti ini berdiri, akan tetapi dinasti Samaniyah masih tunduk kepada pemerintahan dinasti Abbasiyah yang terletak di Baghdad. Dinasti Samaniyah terletak di sebelah timur Baghdad ini berdiri pada tahun 203 H/819 M - 395 H/1005 M. Dinasti Samaniyah dikenal juga dengan dinasti pertama di Iran Raya dan Asia tengah.






Nama dari dinasti Samaniyah berasal dari kakek khalifah pertama dinasti Samaniyah (Khalifah Ahmad bin Asad bin Saman) yakni Saman khuda yang merupakan keturunan bangsawan terkenal di Balkh. Sejarah mencatat bahwa Saman Khuda memeluk agama Islam pada masa ke khalifah Hisyam bin Abdul Malik (Khalifah kesepuluh dinasti Ummayah). Setelah Saman Khuda memeluk agama islam, keturunan nya pun mengabdikan diri kepada penguasa-penguasa Islam. Hal ini terus berlangsung hingga pada Masa Khalifah Al-Ma’mun (Khalifah Abbasiyah ketujuh). Pada saat Khalifah Al-Ma’mun berkuasa (198-218 H/813-833 M) terdapat empat orang cucu keturunan Saman Khuda memiliki kekuasaan penting pada pemerintahan Abbasiyah. Keempat cucu tersebut yaitu :
1.      Ahmad bin Asad yang menjadi Gubernur Farghana (Turkistan) dan Transoksania.
2.      Ilyas yang menjadi Gubernur di Harat, Afghanistan
3.      Nuh yang menjadi Gubernur di Samarkhand
4.      Yahya bin Asad yang menjadi Gubernur di Asyrusanah (daerah utara Samarkhand) serta Shash
Perlu diketahui dari keempat cucu tersebut, Ahmad bin Asad lah yang merintis berdirinya dinasti Samaniyah di Farghana. Selama dinasti Samaniyah berdiri, dinasti ini memilik dua belas khalifah yang pernah memimpin dinasti ini. Mereka itu adalah :
1.      Ahmad bin Asad yang merupakan Gubernur Farghana (204 H/819M)
2.      Nasr bin Ahmad yang merupakan salah satu orang kepercayaan pemerintahan dinasti Abbasiyah sekaligus putra dari Ahmad bni Asad (250H/864M). Nasr bin Ahmad dapat dikatakan sebagai pendiri dinasti Samaniyah yang sebeneranya. Hal ini dikarenakan Nasr bin Ahmad diberi kepercayaan oleh khalifah ke Al-Mu’tamid untuk memerintah seluruh daerah Khurasan dan Transoksania.   Philip K. Hitti pun mengungkap kan berdirinya dinasti terjadi pada masa Nasr bin Ahmad. Philip K. Hitti berkata :

“The Samanids of Transoxiana and Persia (874-999) were descendend from Saman, a Zoroastrian noble of Balkh. The fouder of the dynasty was Nasr Ibn Ahmad. (874-92), a great grandson of Saman, but the one who established its power was Nasr’s brother Ismail (892-907), who in 900 wrested Khurasan from Tahirids, the Samanids uder Nasr II Ibn Ahmad (913-43), fouth in the line, extended their kingdom to its greatest limits, including under their sceptre Sijistan, Karman, Jurjan, Ar-Rayy and Tabaristan.”

Selain itu yang melatar belakangi berdirinya dinasti ini adalah kecenderungan masyarakat Iran untuk melepaskan diri dari Baghdad. Pada masa Nasr bin Ahmad, Ibu Kota Dinasti Samaniyah terletak di Khurasan sebelum akhirnya dipindahkan ke Bukhara oleh saudara nya, yakni Ismail bin Ahmad.
3.      Ismail bin Ahmad yang juga merupakan anak dari Ahmad bin Asad dan juga salah seorang kepercayaan pemerintah dinasti Abbasiyah (279H/892M). Ismail bin Ahmad yang semula dijadikan gubernur Bukhara oleh Khalifah Al-Mu’tamid. Pada masa kepempimpinan Ismail bin Ahmad ibu kota dinasti Samaniyah yang awalnya terletak di Khurasan di pindahkan ke Bukhara. Terdapat 3 hal penting yang dilakukan oleh Ismail bin Ahmad selama menjadi Khalifah, yaitu :
·         Memperkukuh kekuasaan serta mengamankan wiayah kekuasaannya dari suku Turki.
·         Membenahi administrasi pemerintahan.
·         Memperluas wilayah hingga ke Rayy (Iran) dan Tabaristan (Iran).
Khalifah Ismail bin Ahmad dikenal sebagai khalifah yang mencintai imu pengetahuan. Hal ini dibuktikan dimana ia sangat memuliakan ilmuan. Selain itu Ismail bin Ahmad merupakan sosok yang adil terhadap rakyatnya.
4.      Ahmad bin Ismail (295 H/907 M), merupakan putra dari Ismail bin Ahmad.
5.      Al-Amir as-Sa’id Nasr II (301 H/914 M), merupakan putra dari Ahmad bin Ismail. Pada masa kepempimpinannya, ia berhasil memperluas wilayah kekuasaan hingga Sijistan, Karman, Jurjan,Tabaristan, Khurasan dan Transoksania. Al-Amir as-Said Nasr II merupakan khalifah terakhir yang mampu melakukan perluasan wilayah, karena khalifah-khalifah setelah tidak mampu melakukan hal tersebut.
6.      Al-Amir al-Hamid Nuh I (331 H/943 M)
7.      Al-Amir al-Mu’ayyad Abdul Malik I (343 H/954 M)
8.      Al-amir as-Sadid Manshur I (350 H/961 M)
9.      Al-Amir ar-Ridha Nuh II (365 H/976 M)
10.  Mansur II (387 H/997 M)
11.  Abdul Malik II (389 H/999 M)
12.  Ismail II Al-Muntashir (390-395H/1000-1005 M)


Pada saat dinasti Samaniyah berdiri terdapat banyak sekali kemajuan-kemajuan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Selain itu terdapat pula tokoh-tokoh terkenal dalam dunia pengetahuan, seperti Ibnu Sina, Al-Firdausi,Ummar Kayam, Al-Bairuni dan Zakaria Al-Razi. Seperti halnya dinasti Abbasiyah, dinasti Samaniyah juga sangat maju dalam hal ilmu pengetahuannya baik itu ilmu sains maupun ilmu keislaman. Hal ini dapat ditunjukan dimana buku-buku yang terdapat di perpustakaan dinasti Samaniyah (Bukhara) tidak dapat dijumpai di tempat lain. Ini menunjukan bahwa betapa tingginya peradaban umat manusia pada masa dinasti Samaniyah.
Setelah satu setengah abad dinasti Samaniyah berdiri, terdapat tanda-tanda keruntuhannya. Hal ini disebabkan oleh sikap fanatic kesukuan yang cukup tinggi. Dimana ketika imigran Turki berada dalam posisi pemerintahan, di turunkan karena faktor kesukuan. Hal ini yang mendorong bangsa Turki menyerang dinasti ini. Pada saat penyerangan, Khalifah terakhir dinasti Samaniyah yakni Ismail II Al-Muntashir tidak mampu mempertahankan wilayahnya.

Sabtu, 10 Juni 2017

Dinasti Aghlabiyah



Assalamualaikum sahabat blog miracle islam, pada kesempatan kali ini saya akan membahas salah satu dinasti yang berdiri pada zaman dinasti Abbasiyah. Pada kesempatan sebelumnya, seperti yang kita ketahui pada zaman dinasti Abbasiyah, muncul dinasti yang beraliran syiah yakni dinasti Idrisiyah yang terletak di Maroko. Dinasti ini dapat berdiri di karenakan Ibrahim Al – Aghlab berhasil menggagalkan dinasti Idrisiyah dalam melakukan penyerangan kepada dinasti Abbasiyah. Dinasti Aghlabiyah terletak di Afrika Utara. Perlu diketahui pada saat pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid, ia mengangkat Ibrahim Al- Aghlab sebagi Amir di wilayah tersebut pada tahun 800M. Karena Ibrahim Al-Aghlab sangat mahir dalam menjalankan roda pemerintahan serta menjaga hubungan dengan khalifah Harun Ar-Rasyid maka khalifah Harun Ar-Rasyid memberikan kekuasaan kepada Ibrahim meliputi hak-hak otonomi seperti kebijakan politik hingga menentukan pengggantinya sebagai Amir. Sehingga berdirilah dinasti Aghlabiyah yang tetap mengakui kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad.
Dinasti yang terletak di Tunisia ini juga terkenal dengan armada angkatan lautnya yang hebat. Sehingga pada masa berdirinya dinasti ini, ia dapat menaklukan wilayah-wilayah seperti Italia Brindisi (836 M/221 H) Napoli (837M), Calabria (838 M), Toronto (840 M ), Bari (840 M) dan Benevento (840 M). Karena tidak tahan terhadap serangan berkepanjangan dari pasukan Aghlabiyah pada Bandar-bandar Itali, termasuk kota Roma, maka Paus Yonanes VIII (872– 840 M) terpaksa minta perdamaian dan bersedia membayar upeti sebanyak 25.000 uang perak pertahun kepada dinasti Aghlabiyah. Pasukan Aglabiyah juga berhasil menguasai kota Regusa di pantai Yugoslavia (890 M), Pulau Malta (869 M), menyerang pulau Corsika dan Mayorka, bahkan mengusai kota Portofino di pantai Barat Italia (890), kota Athena di Yunani-pun berada dalam jangkauan penyerangan mereka. Dengan keberhasilan penaklukan-penaklukan tersebut, menjadikan Dinasti Aglabiyah kaya raya, para penguasa bersemangat membagun Tunisia dan Sisilia.



Pada dasarnya dinasti Aghlabiyah berdiri guna menghancurkan dinasti Idrisiyah yang mengancam kewibawaan dinati Abbasiyah di Baghdad. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak ada satupun Amir dari dinasti Aghalabiyah yang berhadapan langsung dengan dinasti Idrisiyah di Maroko. Hal ini di karenakan meletus pemberontakan penduduk Tripoli (Libya) terhadap gubernur mereka. Ibrahim Al – Aghlab pun berangkat untuk memadamkan pemberontakan orang-orang Libiya tersebut. Setelah pemberontakan penduduk Libya mereda, muncul pula pemberontakan bangsa Barbar secara meluas di berbagai daerah di Afrika Utara. Hal ini membuat  Ibrahim Al – Aghlab memusatkan kekuatanya untuk meredakan dan menahan gejolak pemberontak. Ini lah yang menyebabkan Ibrahim Al – Aghlab tidak dapat menyerang langsung dinasti Idrisiyah di Maroko. Pada akhirnya usaha Ibrahim Al-Aghlab membuahkan hasil yang membuat penduduk Libya dan sebagian besar bangsa Barbar tunduk pada pemerintahannya. Pada tahun 811M, Ibrahim Al – Aghlab meninggal dunia pada saat masa kejayaannya. Setelah Ibrahim Al-Aghlab meninggal, Abdullah I menggantikan posisi ayahnya sebagai Amir. Akan tetapi Abdullah I tidak secakap ayahnya dalam menjalankan roda pemerintahan, ia bersikap keras dalam pengumpulan pajak serta tidak mau mendengar masukan para penasihat. Pada tahun 816 M, Abdullah I tewas terbunuh setelah memerintah selama 5 tahun.
Ia kemudian digantikan oleh putranya, Abdullah I (811-816), namun Abdullah tidaklah sekuat dan seadil bapaknya. Dia telah mengambil tindakan keras dalam pengumpulan pajak, tidak mengindahkan nasehat para penasehat hukumnya dan para ulama. Dia kemudian terbunuh secara misterius setelah hanya memerintah selama lima tahun.
Ziyadatullah I (816-837) mewarisi saudaranya, Abdullah I, sebagai penguasa Afrika Utara. Dia orangnya lebih cenderung memperhatikan nasehat para penasehatnya sebagaimana leluhurnya, dan karakteristik pemerintahannya relatif lebih stabil. Pada tahun 825 sebuah pemberontakan terjadi dipelopori oleh Mansur yang berhasil menghimpun beberapa pengikut dan mengancam Qayrawan. Namun, pada tahun berikutnya Ziyadatullah I berhasil mengalahkan Mansur, yang kemudian meninggal tidak lama setelah di penjara.
Kemakmuran yang dicapai oleh rakyat di bawah pemerintahan Ziyadatullah I, ditambah dengan tidak adanya perbedaan antara orang-orang Arab dan orang-orang Barbar, telah mendorong mereka untuk mencari tanah baru. Faktor ini turut membangkitkan semangat Bani Aglab untuk menduduki Sicilia dan sebagian besar Italia Selatan selama abad ke-9.
Pada tahun 827 Ziyadatullah menyerang Sicilia, di mana dia berhasil melumpuhkan pasukan Bizantium di awal 828 di Syracuse, dan selanjutnya tahun 830 di Palermo. Meskipun dengan berbagai kemenangan yang diraihnya di kota-kota tersebut, namun Aglabiyah tidak mampu mempertahankan jalur suplai mereka dengan Qayrawan, dan secara berangsur-angsur dengan terpaksa mereka melepaskan pendudukan mereka atas kota-kota tersebut.
Penaklukan dan pendudukan Aglabiyah terhadap Sicilia telah membentuk suatu pusat penting bagi penyebaran peradaban Islam ke Eropa-Kristen. Bahkan renaisans di Italia terjadi karena transmisi ilmu pengetahuan melalui pulau ini. Para penguasa Dinasti Aglabiyah juga merupakan pembangun-pembangun yang antusias. Misalnya Ziyadatullah I membangun kembali Masjid Raya Qayrawan dan Ahmad membangun Masjid Raya Tunis. Di samping itu, berbagai pekerjaan di bidang pertanian dan irigasi juga dilakukan, terutama di daerah-daerah selatan yang kurang subur.
Setelah Ziyadatullah I wafat pada tahun 837, lima penguasa Aglabiyah berikutnya secara berturut-turut berganti dengan cepat. Perselisihan internal dan pemberontakan lokal terus terjadi sampai pada masa Ibrahim I yang memangku jabatan pada tahun 874. Dia punya karakter yang lebih tegas dan murah hati, meluangkan banyak waktunya untuk mendengarkan keluhan-keluhan rakyatnya dan berusaha meringankan penderitaan mereka. Dia dengan murah hati memberikan sumbangan-sumbangan dan bantuan finansial yang tidak terikat kepada yang memerlukan. Oleh karena itu, masyarakat umum senantiasa berlomba-lomba memberi dukungan kepadanya selama dalam masa kritis. Puncak kemunduran dinasti Aghlabiyah adalah pada saat amir terakhir yakni Ziyadatullah III menjabat. Pada saat Ziyadatullah III memimpin ia tenggelam dalam gaya hidup yang berfoya-foya. Selain faktor tersebut terdapat faktor lain yaitu munculnya doktrin-doktrin  syiah yang dilancarkan oleh Abu Abdullah As-Syiah. Hal ini mengakibatkan kesenjangan antara pemerintahan Aghlabiyah dengan bangsa Barbar. Pada tahun 909 M dinasti Aghlabiyah pun hancur akibat serangan militer yang dibangun Ubaidillah al-Mahdi. Serangan tersebut berhasil mengalahkan kekuatan militer yang dimiliki oleh Dinasti Aghlabiyah. Akibat serangan tersebut, Ubaidillah berhasil merebut pemerintahan dan mengusir Ziyadatullah III ke Mesir.



 Selama kurang lebih 1 abad berdiri, dinasti Aghlabiyah memiliki 11 orang Amir, berikut ini adalah para Amir yang pernah memimpin dinasti Aghlabiyah :
1. Ibrahim I bin al-Aghlab (800-812 M).
2. Abdullah I (812-817 M).
3. Ziyadatullah I(817-838 M).
4. Abu ‘Iqal al-Aghlab (838-841 M).
5. Muhammad I (841-856 M).
6. Ahmad (856-863 M).
7. Ziyadatullah II(863 M).
8. Abu Ghasaniq Muhammad II (863-875 M).
9. Ibrahim (875-902 M).
10. Abdullah II (902-903 M).
11. Ziyadatullah III (903-909 M).

Peninggalan Dinasti Aghlabiyah
 Selama dinasti Aghlabiyah berdiri, terdapat beberapa peninggalan-peninggalan dinasti Aghlabiya, antara lain sebagai berikut :
1. Masjid Agung Qayruwan oleh Amir Ziyadatullah I.
Masjid Agung Qayruwan

Masjid Agung Tunis
2. Pembangunan Masjid Agung Tunis oleh Amir Ahmad.
3. Pembangunan pertanian dan irigasi yang berdampak merubah daerah yang tandus menjadi subur. 


Demikian lah sejarah singkat dari dinasti Aghlabiyah, semoga dengan artikel diatas dapat menambah wawasan kita dalam mengenal sejarah islam.