Selasa, 09 Mei 2017

Dinasti Idrisiyah





Assalamualaikum sahabat blog miracle islam, pada kesempatan kali ini saya akan membahas kembali tentang sejarah dinasti islam yang pernah berkuasa. Sebelumnya kita telah membahas dinasti Ummayah dan dinasti Abbasiyah, selanjutnya kita akan membahas tentang dinasti Idrisiyah.
Sejarah terbentuknya Dinasti Idrisiyah
Dinasti Idrisiyah berdiri di Maroko yang mana dinasti ini merupakan dinasti islam pertama yang menganut aliran syiah. Perlu diketahui bahwa dinasti ini muncul pada tahun 172 H /789 M yang mana dinasti Abbasiyah masih berkuasa yang pada saat itu kekuasaan dinasti Abbasiyah berada ditangan khalifah Sulaiman Al-Hadi dan Harun Ar-Rasyid. Pendiri dinasti Idrisiyah adalah Idris bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Abu Thalib. Sehingga beliau merupakan cucu dari Hasan bin Ali bin Abu Thalib. Sebagaimana yang kita ketahui, dinasti Abbasiyah terbentuk karena adanya dukungan dari kelompok awaliyun dan syiah yang membantu meruntuhkan dinasti Ummayah, akan tetapi setelah bani Abbas mendirikan dinasti Abbasiyah, mereka mengkhianati kedua kelompok tersebut. Puncak permusuhan pun terjadi pada saat Khalifah Al-Hadi naik takhta menggantikan ayahnya yaitu khalifah Al-Mansur. Khalifah Al-Hadi menangkap dan memenjarakan orang-orang dari kelompok syiah dengan alasan tidak loyal kepada pemerintahan dinasti Abbasiyah, hal ini lah yang mendorong kelompok-kelompok yang sebelumnya pro dengan dinasti Abbasiyah menjadi kontra terhadap pemerintahan dinasti Abbasiyah. Idris pun ikut dalam pemberontakan melawan khalifah Al-Hadi.akan tetapi pada tanggal 3 zulhijjah saudara Idris terbunuh dalam suatu pertempuran yang terjadi di dekat Mekah dan pada saat itu pula Idris menghilang. Akan tetapi setelah beberapa saat Idris muncul di Maroko. Di Maroko ia disambut baik oleh pemimpin salah satu suku bangsa barbar yaitu Ishaq bin Muhammad (pempimpin suku Aurabah). Pada bulan Ramadan 172 H, atas kehendak Ishaq, Idris dipilih menjadi pemimpin suku Aurabah, kemudian diikuti oleh kabilah-kabilah lain yang menghuni kawasan yang sekarang dikenal dengan Marakisy. Hal ini dikarenakan Idris dapat menyakinkan bahwa ia merupakan keturunan dari Hasan bin Ali. Setelah terpilih jadi pemimpin bangsa Barbar, Idris kemudian melakukan penyerangan terahadap kabilah-kabilah Yahudi, Nasrani, dan paganisme yang mendiami daerah Tamisna, dan berhasil mengalahkan kabilah-kabilah tersebut dengan mudah. Kemudian sekitar tahun 173 atau 174 H (789 atau 790 M) dia melakukan invasi ke arah timur, dimana berhasil menundukkan kota Tilmisan (Agadir) yang pada saat itu dipimpin oleh Muhammad bin Khayir. Idris kemudian menetap beberapa waktu di Tilmisan, dan pada bulan Safar 174 H, ia membangun sebuah masjid, dimana mimbar masjid tersebut yang di atasnya terukir namanya masih ada hingga zaman Ibn Khaldun. Setelah khalifah Al-Hadi digantikan oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid, khalifah Harun Ar-Rasyid berencana melakukan penyerangan terhadap dinasti Idrisiyah guna mengamankan posisinya. Akan tetapi karena letak dinasti Idrisiyah yang cukup jauh, menjadikan khalifah Harun Ar-Rasyid mengurungkan niatnya. Atas saran dari Yahya Barmaki, Khalifah Harun Ar-Rasyid mengirim Sulaiman bin Jarir untuk menjadi mata-mata serta membunuh Idris dengan cara meracuninya. Rencana tersebut berhasil membuat Idris terbunuh pada tahun 177H/ 16 Juli 793 M. Dengan terbunuh Idris, tak lantas membuat dinasti Idrisiyah runtuh. Hal ini dikarenakan bangsa Barbar telah sepakat untuk mengikrarkan janji membuat kerajaan yang independen. Sehingga pada saat anak Idris lahir, mereka mengikrarkan sumpah setia dan memberi nama anak tersebut Idris sama seperti halnya dengan ayahnya. Pada tahun 177 H/793 M Idris bin Idris bin Abdullah (Idris II) datang menggantikan ayahnya sebagai amir. Pada masa kepemimpinannya Dinasti Idrisiyah berkembang pesat. Pusat pemerintahan yang semula dari Walila dipindahkan ke Fes sebagai ibukota baru (192 H.). Dengan demikian, Idris II inilah yang dianggap sebagai pendiri yang sebenarnya Dinisi Idrisiyah.
Dengan berdirinya Dinasti Idrisiyah di Afrika Utara, maka pusat kekuasaan Islam telah terbagi kepada tiga kawasan, yaitu:
1.      Bani Umaiyyah di Spanyol
2.      Syi’ah di Magrib (Maroko), dan
3.      Abbasiyah di daerah sisanya di Timur Tengah.




Selama dinasti Idrisiyah berdiri mereka memiliki tiga belas orang raja, yaitu
1.      Idris bin Abdullah bin Hasan bin Abdul Thalib / Idris I (788-793 M)
2.      Idris bin Idris bin Abdullah / Idris II  (793-828 M)
3.      Muhammad Al-Muntasir bin Idris (828-836 M)
4.      Ali bin Muhammad / Ali I (836-849 M)
5.      Yahya bin Muhammad / Yahya I (849-863 M)
6.      Yahya bin Yahya / Yahya II (863-866 M)
7.      Ali bin Umar / Ali II (866 M)
8.      Yahya bin Al-Kasim / Yahya III (849-904 M)
9.      Yahya bin Idris bin Umar / Yahya IV (904-922 M)
10.  Hasan Al- Hajjam bin Muhammad bin Al Kasim (925-927 M)
11.  Kasim Al Ghannun bin Muhammad bin Al Kasim (927-948 M)
12.  Abu Aysh Ahmad bin Kasim (948-954 M)
13.  Hasan bin Kasim Ghannun (954-974 M)





Runtuhnya dinasti Idrisiyah di awali akibat adanya serangan dari dinasti Fathimiyah di Mesir dan Bani Ummayah di Cordova, Andalusia. Hal ini membuat dinasti Idrisiyah hancur. Puncak keruntuhan dinasti Idrisiyah terjadi akibat serangan mematikan dari dinasti Ummayah yang pada saat itu di pimpin oleh khalifah Al- Hakam II (961-967 M). Selama berdirinya dinasti Idrisiyah, terdapat banyak peninggalan-peninggalan seperti uang, pembangunan saluran air, masjid dan juga istana.

Kamis, 09 Maret 2017

Dinasti Abbasiyah



Assalamualaikum sahabat setia pembaca blogger  miracle of islam, kali ini kita akan membahas tentang Dinasti Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti ke dua islam yang berdiri, yang mana sebelum Dinasti Abbasiyah berdiri, terdapat dinasti Ummayah yang kemudian pada masa khalifah Marwan II (Khalifah terakhir bani ummayah) mengalami kehancuran.
Pada artikel sebelumnya, telah sedikit di bahas tentang dinasti Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah Al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Al-Abbas. Dinamakan dinasti Abbasiyah karena pendiri serta para raja yang memimpin dinasti Abbasiyah adalah Al-Abbas yang merupakan paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti Abbasiyah beridiri cukup lama yakni sekitar 524 tahun (132H – 656H) yang mana selama dinasti ini berdiri terdapat suatu masa yang merupakan masa kejayaan islam atau lebih dikenal dengan “The Golden age of  Islam”.
Pada masa kekhalifahan Ummar bin Abdul Aziz (khalifah ke-8 dinasti Ummayah), bani Abbas telah melancarkan aksi untuk merebut kekuasaan dari dinasti Ummayah. Bani abbas merasa bahwa kekhalifahan islam lebih berhak berada di tangan bani Abbas karena mereka merupakan keturunan yang paling dekat dengan Nabi Muhammad SAW sedangkan menurut mereka pula dinasti Ummayah berdiri karena merebut kekuasaan secara paksa yang dilakukan pada saat peran siffin. Gerakan perebutan kekuasaan diawali oleh Ibrahim al-Imam, Ali bin Abdullah bin Abbas dan Muhammad. Akan tetapi mereka semua mengalami kegagalan. Baru setelah Abu Abbas yang memimpin pergerakan barulah bani Abbas dapat merebut kekuasaan walaupun dengan adanya pertumpahan darah karena khalifah Marwan II terbunuh pada tahun 132H yang kemudian secara resmi terbentuklah dinasti Abbasiyah dengan Abu Abbas as-safah sebagai khalifah pertama dinasti Abbasiyah.



Dinasti Abbasiyah dibagi menjadi lima periode yaitu :
1.         Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M)
Periode ini disebut periode pengaruh Persia pertama. The Golden Age of Islam terjadi pada periode ini, karena pada periode ini dinasti Abbasiyah mengalami puncak kejayaanya. Pada periode ini para khalifah tak hanya menjadi pusat kekuasaan politik tapi juga agama. Tak hanya itu, periode ini menjadikan masyarakat dinasti Abbasiyah menjadi makmur. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Diketahui pada masa pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid, dinasti Abbasiyah yang memiliki ibu kota di Baghdad menjadi pusat para pencari ilmu karena disana banyak sekali lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan dan juga pada saat itu dinasti Abbasiyah memiliki 1000 orang dokter. Setelah periode ini berakhir, dinasti Abbasiyah mengalami kemundurun di bidang politik meskipun ilmu pengetahuan terus berkembang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Dinasti Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pada perkembangan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah.
2.         Periode Kedua (232 H/ 847 M – 334 H/ 945 M)
Periode ini disebut masa pengaruh Turki pertama. Untuk mengontrol kekhalifahannya Al-Ma’mun bergantung kepada dukungan Tahir, seorang bangsawan Khurasan yang sebagai imbalan diangkat sebagai gubernur di Khurasan (820-822) dan jenderal bagi seluruh pasukan Abbasiyah dengan janji bahwa jabatan ini akan diwarisi oleh keturunannya. Al-Ma’mun dan Al-Mu’tashim mendirikan dus kekuatan bersenjata yaitu; pasukan syakiriyah yang dipimpin oleh pemimpin lokal dan pasukan Gilman yang terdiri dari budak-budak belian Turki. Yang penting dicatat disini adalah kalau pada masa kejayaannya bani Abbas mendapat dukungan militer dari rakyatnya sendiri, pada masa kemunduran ini mereka bergantung kepada pasukan asing untuk dapat berkuasa atas rakyatnya sendiri, sehingga pemerintahan pusat menjadi lemah. .Masa-masa berikutnya sampai kedatangan kekuatan Bani Buwaih.
3.         Periode Ketiga (334 H/ 945 M – 447 H/ 1055 M)
Periode ini adalah periode masa kekuasaaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. Abu Syuja’ Buwaih adalah seorang berkebangsaan Persia dari Dailam. Ketiga anaknya : Ali (‘Imad al-Daulah), hasan (Rukn al-Daulah), dan Ahmad (Mu’izz al-Daulah) merupakan pendiri dinasti Bani Buwaih. Kemunculan mereka dalam panggung sejarah Bani Abbas bermula dari kedudukan panglima perang yang diraih Ali dan Ahmad dalam pasukan Makan ibn kali dari dinasti saman, tetapi kemudian berpindah ke kubu Mardawij. Kemudian ketiga orang bersaudara ini menguasai bagian barat dan barat daya Persia, dan pada tahun 945, setelah kematian jenderal Tuzun (penguasa sebenarnya atas Baghdad) Ahmad memasuki Baghdad dan memulai kekuasaan Bani Buwaih atas khalifah Abbasiyah.
Dengan berkuasanya Bani Buwaih, aliran Mu’tazilah bangkit lagi, terutama diwilayah Persia, bergandengan tangan dengan kaum Syi’ah. Pada masa ini muncul banyak pemikir Mu’tazilah dari aliran Basrah yang walaupun nama mereka tidak sebesar para pendahulu mereka dimasa kejayaannya yang pertama, meninggalkan banyak karya yang bisa dibaca sampai sekarang. Selama ini orang mengenal Mu’tazilah dari karya-karya lawan-lawan mereka, terutama kaum Asy’ariyah. Yang terbesar diantara tokoh Mu’tazilah periode kebangkitan kedua ini adalah al-Qadi Abd al-jabbar, penerus aliran Basra setelah Abu Ali dan Abu Hasyim.
4.         Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/ 1194 M)
Periode ini adalah masa kekuasaan dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah atau disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua. Saljuk (Saljuq) ibn Tuqaq adalah seorang pemimpin kaum Turki yang tinggal di Asia Tengah tepatnnya Transoxania atau Ma Wara’ al-Nahar atau Mavarranahr. Thughril Beg, cucu Saljuq yang memulai penampilan kaum Saljuk dalam panggung sejarah. Pada tahun 429/1037 ia tercatat sudah menguasai Merv. Kekuasaannya makin bertambah luas dari tahun ke tahun dan pada tahun 1055 menancapkan kekuasaannya atas Baghdad.
Tughril meninggal tanpa meninggalkan keturunan dan digantikan kemenakannya Alp Arselan yang kemudian digantikan puteranya Maliksyah yang merupakan penguasa terbesar dari dinasti Saljuk. Sesudah itu bani Saljuk mengalami kemunduran sebelum kekuasan mereka di Baghdad pudar sama sekali pada tahun 552 H/ 1157 M. Dalam bidang keagamaan, masa ini ditandai dengan kemenangan kaum Sunni, terutama dengan kebijakan Nidham al-Muluk mendirikan sekolah-sekolah yang disebut dengan namanya Madaris Nidhamiyyah. Hal lain yang perlu dicatat dari masa ini dan masa sebelumnya adalah munculnya berbagai dinasti di dunia Islam yang menggambarkan mulai hilangnya persatuan dunia Islam di bidang politik. Seperti dinasti Fatimiyah lahir di Mesir (969) dan bertahan sampai tahun 1171. Dari segi budaya dan pemikiran keagamaan, terdapat berbagai wilayah dengan pusatnya sendiri yang masing-masing mempunyai peran sendiri dalam mengekspresikan Islam, sesuai dengan kondisi masing-masing. Misal, Andalus dan Afrika Utara mengembangkan seni yang mencapai puncaknya pada al-Hambra dan pemikiran filsafat denngan tokoh Ibn Tufail dan Ibn Rusyd.

5.         Periode Kelima (590 H/ 1194 M – 656 H/ 1258 M)
Periode ini adalah masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad. Sesudah Saljuk, para khalifah tidak lagi dikuasai oleh kaum tertentu. Tetapi, negara sudah terbagi-bagi dalam berbagai kerajaan kecil yang merdeka. Khalifah al-Nashir (1180-1255) yang berusaha untuk mengangkat kewibawaan kekhalifahan Abbasiyah. Untuk itu ia mencari dukungan atas kedudukannya dengan bekerja sama dengan suatu gerakan dari orang-orang yang memuja Ali. Dari kalangan pengrajin dan pedagang meyakini Ali sebagai pelindung korporasi. Anggota dari gerakan ini bertemu secara teratur, dan tidak jarang melakukan latihan-latihan spiritual dibawah pimpinan seorang pir. Al-Nashir menempatkan dirinya sebagai pelindung dari gerakan ini. Sementara itu, kekuatan Mongol Tartar mulai merayap dari arah timur dan pada tahun 656 H/1258 H, Hulagu dengan pasukannya memasuki Baghdad dan membunuh khalifah al-Musta’shim dan membunuh penduduk kota ini. Mereka menjarah harta, membakar kitab-kitab dan menghancurkan banyak bangunan. Dengan demikian berakhirlah kekhalifahan Bani Abbas di Baghdad.



Kemunduran Dinasti Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah mengalami kemunduran akibat dua factor, yakni factor internal serta external
Faktor Internal :
Dalm buku yang ditulis Abu Su’ud disebutkan faktor-faktor intern yang membuat Daulah Abasiyah lemah kekudian hancur antara lain :
1.      Adanya persaingan tidak sehat diantara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abasiyah, terutama Arab, Persia, dan Turki.
2.      Terjadinya perselisihan pendapat diantara kelompok pemikiran agama yang ada, yang berkembang menjadi pertumpahan darah.
3.      Munculnya dinasti-dinasti kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang berkepanjangan.
4.       Akhirnya terjadi kemerosotan tingkat perekonimian sebagai akibat dari bentrokan politik.


Faktor External :
Selain factor internal terdapat juga factor external yang memengaruhi kemunduran dinasti Abbasiyah yaitu adanya serangan bangsa mongol yang merupakan bangsa dengan penunggang kuda terbaik pada masa itu dan juga merupakan bangsa yang menjadi musuh cina. Serangan bangsa Mongol dapat menghancurkan dinasti Abbasiyah di Baghdad, mereka juga tak hanya membantai tentara kerajaan Abbasiyah tetapi juga rakyat. Dapat dikatakan kehancuran dinasti Abbasiyah di penuhi dengan darah


Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. 

Rabu, 01 Februari 2017

Dinasti Ummayah


Peta Kekuasaan Bani Ummayah
Assalamualaikum sobat blogger miracle of islam, kali ini saya akan membahas salah satu dinasti Islam yang pernah berdiri pada masa lampau yaitu Dinasti Ummayah. Sebelum berdirinya dinasti ummayah, terdapat masa Khulafaur Rasyidin (pemimpin yang diberi petunjuk) di mana Khulafaur Rasyidin itu ada empat, yakni Abu Bakar , Ummar bin khatab, Ustman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib. Akan tetapi sebagian ulama juga menetapkan pemimpin dinasti ummayah ke-8 yakni Ummar bin Abdul Aziz sebagai Khulafaur Rasyidin yang ke-5.
Dinasti ummayah di dirikan oleh Muawiyah bin Abu Sofyan yang merupakan cicit dari Ummayah, latar belakang nya berdirinya dinasti ini adalah terbunuhnya khulafaur rasyidin yang ketiga yakni Usman bin Affan yang selanjutnya di gantikan oleh Ali bin Abu Thalib. Kepempimpinan Ali bin Abu Thalib itu sendiri menjadi konflik yang mengakibatkan peperangan antara pendukung Ali nin Abu Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sofyan. Mengapa demikian? Karena sebelumnya keluarga bani ummayah yang merasa mempunyai perlindungan atas berbagai kepentingan pada masa khalifah Ustman bin Affan merasa terguncang dengan terbunuhnya beliau. Mereka meminta khalifah baru yakni Ali bin Abu Thalib mengusut tuntas pembunuhan Khalfiah Ustman bin Affan akan tetapi karena Ali bin Abu Thalib merasa penanganan kasus pembunuhan Ustman bin Affan harus di lakukan secara hati-hati agar tidak terjadi dampak buruk, pihak Muawiyah menilai tidak ada respon dari dari pihak Ali bin Abu Thalib, maka pihak Muawiyah mengusut sendiri kasus pembunuhan tersebut. Denga mencari berbagai informasi akhirnya mereka mendapatkan dalang di balik pembunuhan Ustman bin Affan yakni Muhammad bin Abu Bakar. Pihak Muawiyah pun menuntut Ali bin Abu Thalib agar melakukan proses hokum kepada Muhammad bin Abu Bakar. Akan tetapi Ali bin Abu Thalib menolak tuntutan Muawiyah di karenakan tidak berdasarkan bukti yang kuat. Ali bin Abu Thalib menilai justru keberadaan Muhammad bin Abu Bakar melindungi Khalfah Ustman bin Affan.
Dari hal tersebut pula Ali bin Abu Thalib memutuskan mengubah dan merombak pemerintahan dengan menggati pejabat pada masa ke khalifahan Ustman bin Affan dengan yang baru. Melihat kekecewaan para pejabat ke khalifahan Ustman bin Affan, Muawiyah memanfaatkan nya untuk menjatuhkan ke khalifahan Ali bin Abu Thalib.  Sehingga dengan hal tersebut terdapat penolakan-penolakan kepempimpinan Ali bin Abu Thalib dan juga pendukung Ustman bin Affan menuduh khalifah Ali bin Abu Thalib ikut andil dalam pembunuhan Ustman bin Affan. Selain Muawiyah kelompok Zubair bin Awwan juga tidak menyetujui kekhalifahan Ali bin Abu Thalib. Mereka menilai Ali bin Abu Thalib lambat dalam menangani kasus pembunuhan Ustman bin Affan yang mengakibatkan dunia politik dalam negri memanas dan hilangnya kepercayaan masyarakat kepada kekhalifahan Ali bin Abu Thalib.
Pada tahun 10 Jumadil akhir 36 Hijriah, terjadilah peperangan antara pasukan Ali bin Abu Thalib dengan Zubair bin Awwan. Dalam peperangan tersebut Zubair bin Awwan tewas. Kemudiah dilanjutkan dengan perang Siffin pada tahun 657 antara Ali bin Abu Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sofyan. Perang ini terjadi selama 40 hari dan berakhir dengan perjanjian damai dengan kesepakatan sebagai berikut :
1.      Ustman bin Affan meninggal karena teraniaya dan yang berhak menuntut balas adalah Muawiyah
2.      Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah harus turun dari jabatan masing-masing.
3.      Pengunduran diri mereka di saksikan oleh 100 orang utusan dari kedua belah pihak
Memasuki tahun 40H/661M Ali bin Abu Thalib tewas terbunuh oleh Abdurahman bin Miljam. Setelah wafatnya Ali bin Abu Thalib, Hasan bin Ali menggantikan Ali bin Abu Thalib akan tetapi Muawiyah tidak membaiat Hasan karena ia menganggap bahwa Hasan masih terlalu belia untuk memimpin umat islam. Hingga pada akhirnya Muawiyah memerangi kekhalifahan Hasan bin Ali yang berhasil membuat khalifah Hasan mundur dari jabatanya. Akan tetapi Hasan bin Ali mengajukan beberapa syarat kepada Muawiyah sebelum melepaskan jabatanya. Syarat-syarat tersebut antara lain sebagai berikut :
1.      Menghargai dan menjaga darah umat islam dan pengikutnya
2.      Berhenti mencaci maki Ali bin Abu Thalib
3.      Hendaknya Muawiyah memberikan uang sebesar satu juta dirham untuk anak-anak yatim akibat perang Shiffin
4.      Hasan bin Ali tidak akan memanggil Muawiyah sebagai Amirul Mukminin
5.      Hendaknya Muawiyah beramal sesuai dengan Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW
6.      Hendaknya Muawiyah tidak menunjuk Khalifah setelah dirinya

Dengan demikian berakhirlah masa kekhalifahan Hasan bin Ali dan digantikan oleh Muawiyah bin Abu Sofyan. Akan tetapi pada kenyataanya, beberapa syarat yang di ajukan oleh Hasan bin Ali ada yang di langgar oleh Muawiyah bin Abu Sofyan salah satunya dengan membentuk Dinasti Islam yakni dinasti Ummayah

Sistem Pemerintahan Dinasti Bani Ummayah

Berbeda dengan masa Khulafaur Rasyidin yang mana seorang Khalifah dipilih langsung oleh masyarakat, pada Dinasti Ummayah seorang Khalifah di tunjuk oleh Khalifah yang menjabat yang sebagian besar penggantinya adalah bagian dari keluarga Khalifah sebelumnya (dalam hal ini sebagian besar diturunkan pada anaknya) dengan demikian sistem penunjukan ini menandakan perubahan pemilihan kepempimpinan umat Islam.
Berikut ini khalifah-khalifah yang pernah menjabat pada masa dinasti Ummayah :

1.      Muawiyah bin Abu Sufyan (41H/661M)
2.      Yazid bin Muawiyah (60H/680M)
3.      Muawiyah II (64H/683M)
4.      Marwan I bin Hakam (64H/684M)
5.      Abdul Malik bin Marwan (65H/685M)
6.      Al-Walid bin Abdul Malik (86H/705M)
7.      Sulaiman bin Abdul Malik (96H/715M)
8.      Umar bin Abdul Aziz (99H/717M)
9.      Yazid II bin Abdul Malik (101H/720M)
10.  Hisyam bin Abdul Malik (105H/724M)
11.  Al-Walid II (125H/743M)
12.  Yazid II (126/744M)
13.  Ibrahim bin Al-Walid (126H/744M)
14.  Marwan II bin Muhammad (127-132H/755-750M)

Perkembangan Ilmu Pengetahuan Dinasti Ummayah
Pada awal berdirinya dinasti Ummayah, kaum muslim membuat hukum serta undang-undang yang bersumber dari Al-Quran. Sehingga pada saat itu banyak kaum muslim yang memiliki minat yang cukup besar untuk terhadap penafsiran Al-Quran. Selain itu hadis-hadis digunakan untuk memudahkan dalam penafsiran Al-Quran pada saat itu. Akan tetapi karena banyaknya hadis yang bukan bukan hadis, maka munculah ilmu hadis beserta cabang-cabangnya diikuti dengan banyaknya kitab tentang ilmu hadis yang dikarang oleh kaum muslim. Pada saat itu terdapat beberapa muhadistin yang termashur yakni Abu Bakar Muhammad bin Muslim dan Ibnu Abi Malikah.

Perkembangan Ekonomi Dinasti Ummayah
Pada masa khalifah ke-5 Bani Ummayah yaitu khalifah Abdul Malik bin Marwan diadakan pergantian mata uang baru yang semula mata uang yang digunakan adalah mata uang Persia dan Romawi. Mata uang baru tersebut di bedakan menjadi tiga jenis sesuai dengan bahan baku pembuatanya, yaitu emas, perak dan perunggu. Selain pembuatan mata uang baru, pada masa pemerintahan Al-Walid bin Abdul Malik di buatlah jalan raya jalan raya untuk memudahkan perjalanan penduduk, di jalan-jalan tersebut pula khalifah Al-Walid bin Abdul Malik membuat sumur-sumur yang berfungsi menyediakan pasokan air bagi para pengguna jalan. Khalifah Al-Walid menugaskan beberapa orang pegawai untuk menjaga sumur-sumur tersebut, dari hal tersebut dapat kita ketahui bahwa perkembangan ekonomi pada masa dinasti Ummayah cukup pesat.

Keruntuhan Bani Ummayah

Setelah khalifah bani ummayah yang kesepuluh yakni Hisyam bin Abdul Malik, dinasti ummayah mengalami kemunduran. Karena khalifah-khalifah setelah Hisyam bin Abdul Malik tidak dapat menjalankan roda pemerintahan dengan baik sehingga menimbulkan berbagai masalah di bidang politik, ekonomi dan sebagainya. Pemberontakan-pemberontakan yang terjadi tidak dapat di atasi sehingga keutuhan dan persatuan di kalangan keluarga bani ummayah menjadi rusak. Puncak dari kemunduran dinasti bani ummayah terjadi pada masa khalifah Marwan bin Muhammad (Marwan II) dimana pada saat pemerintahan khalifah Marwan dinasti ummayah benar-benar mengalami kehancuran karena pada saat itu muncul kekuatan besar yang di pelopori oleh keturunan Al-Abbas bin Abdul Al Muthalib yang nantinya akan mendirikan dinasti Abbasiyah.
Demikian lah artikel tentang sejarah dinasti ummayah, semoga artikel diatas dapat menabah wawasan kita dalam sejarah islam.


Jumat, 13 Januari 2017

              INI YANG DILAKUKAN RASULULLAH SAAT SHOLAT SUBUH KESIANGAN




    Sholat merupakan tiang agama. Sering kita dengar bahwa jika sholat kita sudah bagus, maka segala perilaku kita akan mengikuti kebaikan. Begitu juga sebaliknya, apabila sholat kita berantakan maka segala perilaku kita juga tidak baik. Sekarang ini, banyak terjadi dimana kita kesiangan menunaikan sholat subuh di karenakan kesibukan kita dalam bekerja hingga larut malam yang membuat kita sulit bangun pada saat subuh. Dalam sebuah riwayat di ceritakan bahwa Rasulullah SAW, juga pernah kesiangan dalam sholat subuh. Pada suatu ketika, Rasulullah bersama umat muslim melakukan perjalananyang melelahkan hingga pada akhirnya mereka berhenti di suatu tempat untuk beristirahat pada malam hari. Mereka terlihat lelah tetapi enggan untuk berisitirahat di karenakan pada saat itu waktu sudah menjelang subuh. Mereka takut jika tidak bias terbangun pada waktu subuh nanti. Akan tetapi Bilal mengatakan bahwa ia akan membangunkan mereka jika tiba waktu subuh. Akhirnya mereka tertidur untuk melepas lelah mereka. Namun, lama kelamaan karena kelelahan Bilal pun tertidur juga hingga terbitlah fajar. Rasulullah dan umat muslim pun kaget saat bangun fajar sudah terbit dan mereka belum melakukan sholat subuh. Akhirnya, saat terbangun mereka segera  melakukan sholat subuh. Inilah cara mengganti sholat subuh karena kesiangan. Hal ini sesuai dengan hadis nabi yang berbunyi :

            “Sebenarnya bukanlah kategori lalai jika karena tertidur. Lalai adalah  bagi orang yang tidak sholat sampai dating waktu sholat lainya. Barang siapa yang mengalami itu maka sholatlah dia ketika dia sadar” (HR Muslim, 311/681)

 Akan tetapi meskipun ada solusi yang memperbolehkan kita sholat telat jika bangun kesiangan, tetapi kita harus mengusahakan untuk sholat tepat pada waktunya.Bagaimana jika kita sengaja menunda nunda waktu sholat? Terdapat dua pendapat yang di kemukakan oleh ulama yaitu:
 1. Dia berdosa dan wajib mengqadha
 Ini adalah pendapat mayoritas fuquha seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Asy Syafii. Syaikh Sayyid Rahimahullah mengatakan  :
            Adapun meninggalkan sholat secara sengaja, maka menurut mayoritas ulama adalah dia berdosa dan wajib mengqadha ( fiqhus Sunnnah, 1/274)

2. Dia tidak disyariatkan mengqadha tetapi hendaknya bertaubat, banyak istigfar dan sholat sunnah
Ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah, beliau mengatakan :

            Adapun orang yang meninggalkan sholat secara sengaja sampai keluar pada waktunya, maka selamanya tidak bias diqadha. Namun hendaknya dia memperbanyak amal kebaikan, sholat sunnah dalam rangka memperberat timbangan kebaikanya di hari kiamat nanti dan hendaknya ia bertaubat dan beristigfar kepada Allah ‘Azza wa jalla (Al Muhallla, 1/274-275)

Dalam hadis shahih orang yang meninggalkan sholat  disebut kafir. Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah SAW bersabda :

            “Batas antara seseorang dengan kesyirika dan kekufuran adalah meninggalkan sholat” (HR Muslim : 82), (At-Tirmidzi : 2752), (Ibnu Majah : 1078), (ad-Darimi : 1233), Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf (7/222/43), (Ibnu Hibban : 1453) dll

Azab bagi orang yang melalaikan sholat sholat


Saad bin Abi Waqas bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai orang yang melalaikan Sholat, maka jawab Baginda SAW : “yaitu mengakhirkan waktu Sholat dari waktu asalnya hingga sampai waktu Sholat lain. Mereka telah menyia-nyiakan dan melewatkan waktu Sholat, maka mereka diancam dengan Neraka Wail”.

Ibn Abbas dan Said bin Al-Musaiyib turut menafsirkan hadist di atas “yaitu orang yang melengah-lengahkan Sholat mereka sehingga sampai kepada waktu Sholat lain, maka bagi pelakunya jika mereka tidak bertaubat Allah menjanjikan mereka Neraka Jahannam tempat kembalinya”.
Dari hadist tersebut dapat kita lihat bahwa orang-orang yang sengaja melalaikan sholat fardhu akan di masukan kedalam neraka. Selain itu mereka dapat di katakan sebagai orang kafir sesuai dengan hadist yang berbunyi :

 “Siapa meninggalkan sholat dengan sengaja, maka sesungguhnya dia telah kafir dengan nyata”.


Berdasarkan hadist ini, Sebagaian besar ulama (termasuk Imam Syafi’i) berfatwa: Tidak wajib memandikan, mengkafankan dan mensholatkan jenazah seseorang yang meninggal dunia dan mengaku Islam, tetapi tidak pernah mengerjakan sholat. Bahkan, ada yang mengatakan haram mensholatkanya.
Adapun saat mereka di Neraka mereka mendapat siksa yang sangat mengerikan sebagaimana riwayat tabrani berikut ini : 
"Rasulullah SAW, diperlihatkan pada suatu kaum yang membenturkan kepala mereka pada batu, Setiap kali benturan itu menyebabkan kepala pecah, kemudian ia kembali kepada keadaan semula dan mereka tidak terus berhenti melakukannya. Lalu Rasulullah bertanya: “Siapakah ini wahai Jibril”? Jibril menjawab: “Mereka ini orang yang berat kepalanya untuk menunaikan Sholat fardhu”
Bahaya Meninggalkan Sholat Fardhu :


Subuh    : Allah Ta’ala akan menenggelamkannya kedalam neraka Jahannam selama 60 tahun hitungan akhirat. (1 tahun diakhirat=1000 tahun didunia=60,000 tahun).

Dhuhur    : Dosa sama seperti membunuh 1000 orang muslim.

Asar         : Dosa seperti menghacurkan Ka’bah.

Maghrib : Dosa seperti berzina dengan ibu-bapak sendiri.


Isya’     : Allah Ta’ala akan berseru kepada mereka: “Hai orang yang meninggalkan sholat Isya’, bahwa Aku tidak lagi ridha’ engkau tinggal dibumiKu dan menggunakan nikmat-nikmatKu, segala yang digunakan dan dikerjakan adalah berdosa kepada Allah Ta’ala”.
Selain siksaan di Akhirat kelak, mereka pun juga akan mendapatkan azab baik di dunia, sakaratul maut dan alam barzakh. 
1. Di dunia
A.Allah Ta’ala menghilangkan berkat dari usaha dan rezekinya.
B.Allah Ta’ala mencabut nur orang-orang mukmin (sholeh) dari pada (wajah) nya.
c.ia akan dibenci oleh orang-orang yang beriman.
2. Ketika Sakaratul Maut
a.Ruh dicabut ketika ia berada didalam keadaan yang sangat haus.
b.Dia akan merasa amat azab/pedih ketika ruh dicabut keluar.
c.Dia akan Mati Buruk (su’ul khatimah)
d.ia akan dirisaukan dan akan hilang imannya.
3. Ketika di Alam Barzakh
A.ia akan merasa susah (untuk menjawab) terhadap pertanyaan (serta menerima hukuman) dari Malaikat Mungkar dan Nakir yang sangat menakutkan.
B.Kuburnya akan menjadi sangat gelap.
C.Kuburnya akan menghimpit sehingga semua tulang-tulang rusuknya berkumpul (seperti jari bertemu jari).
D.Siksaan oleh binatang-binatang berbisa seperti ular, kala jengking dan lipan.
Sungguh mengerikan bukan azab bagi orang yang melalaikan sholat?semoga artikel diatas dapat menjadikan pelajaran serta manffat agar kita selalu mengerjakan sholat fardhu tanpa menunda-nundanya sehingga kita tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi.

Jumat, 09 Desember 2016

Kisah Pemuda Yang Bertemu Dengan Dajjal

Dari Fatimah binti Qais mengatakan; "saya mendengar muazzin memanggil untuk sholat. Saya pun pergi ke masjid dan sholat bersama Rasulullah saw. Selesai sholat, Rasulullah saw naik ke atas mimbar. Nampak semacam bergurau Baginda saw tertawa dan berkata: "Jangan ada yang bergerak! Hendaklah semua duduk diatas sajadahnya!" kemudian berkata: "Tahukah kamu mengapa aku memerintahkan kamu jangan ada yang pulang?" kami menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yg lebih tahu."
Rasulullah saw berkata lagi: "Demi Allah aku menyuruh kamu kesini bukan ingin menakut-nakuti dan bukan memberi kabar gembira. Aku ingin menceritakan kepada km bhwa Tamim Al-Dariy adalah seorang Nasrani, kemudian dia datang menjumpai aku dan masuk Islam. Dia bercerita kepadaku tentang satu kisah tentang Dajjal. Kisah yg dia ceritakan itu sesuai dengan apa yang telah aku ceritakan kepada kamu sebelumnya.
 
Katanya dia bersama 30 orang kawannya pergi ke laut dengan menaiki kapal. Angin kencang datang bertiup dan ombak besar membawa mereka ke tengah-tengah samudra yang luas. Mereka tidak dapat menggerakkan kapalnya ke pantai sehingga terpaksa berada diatas laut selama satu bulan. Akhirnya mereka terdampar di sebuah pulau menjelang terbenamnya matahari. Di pulau yg tidak ditempati orang itu mereka berjumpa dengan binatang yang sangat tebal bulunya sehingga tidak nampak apakah ia jantan atau betina. Mereka bertanya kepada binatang itu: "Makhluk apa engkau ini?" binatang itu menjawab: "saya adalah Al-Jassasah." mereka tanya: "Apa itu Al-Jassasah?" Binatang itu hanya menjawab: "Wahai kumpulan lelaki, pergilah kamu ke tempat ini untuk menjumpai lelaki macam ini! Sesungguhnya dia pun ingin berjumpa dengan kamu. Mereka pun pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh binatang itu.
Di sana mereka menjumpai seorang lelaki yangg sangat menyeramkan, besar dan tegap. Artinya mereka tidak pernah melihat orang sebesar itu. Dari tangannya sampai ke tengkuknya dikuatkan dengan besi yangg sangat besar dan kuat, begitu juga dari lututnya sampai ke telapak kakinya. Mereka bertanya: "Siapakah anda?"
Orang seperti raksasa itu menjawab: "Kamu tentu telah mendengar cerita tentang aku. Sekarang aku pula ingin bertanya: "Siapa kamu ini?"
Mereka menjawab: "Kami adalah manusia berbangsa Arab. Kami pergi ke laut menaiki kapal, tiba-tiba datang ombak besar membawa kami ke tengah-tengah samudera luas dan kami berada di lautan selama satu bulan. Akhirnya kami terdampar di pulai yang tuan tempati ini.
Pada mulanya kami berjumpa dengan binatang yang sangat tebal bulunya sehingga kami tidak dapat mengenali apakah dia jantan atau betina. Kami tanya dia katanya Al-Jassasah. Kami tanya apa maksudnya dia hanya menjawab: "Wahai kumpulan lelaki, pergilah kamu ke tempat ini untuk menjumpai lelaki macam ini,
sesungguhnya dia pun ingin berjumpa dengan kamu."
Itulah sebabnya kami datang ke tempat ini. Sekarang kami sudah berjumpa dengan tuan dan kami ingin tahu siapa tuan sebenarnya?" Makhuk yang sangat besar itu belum menjawab persoalan mereka. Lalu Raksasa besar itu balik bertanya: "Ceritakan kamu kepadaku keadaan kebun kurma yang ada di Bisan itu,!"(nama tempat di negeri Syam)
Mereka menjawab: "Keadaan apanya yang tuan maksudkan?"
Orang besar itu menjawab: "Maksudku apakah pokok kurma itu berbuah?" setelah mereka menjawab bahwa pokok kurma itu berbuah, orang besar tadi berkata: "Aku takut klu pokok itu tidak berbuah."
Lalu Orang besar itu bertanya lagi; "Ceritakan kepadaku tentang sungai Tabariah!"
Mereka menjawab: "Tentang apanya yg tuan maksudkan?"
Orang besar itu menjawab: "Maksudku apakah airnya masih ada?"
Mereka menjawab: "Airnya tdk susut, masih ada dan sampai sekarang masih digunakan oleh para penduduk."
Orang besar itu berkata: "Air sungai itu suatu saat akan kering."
Orang besar itu berkata lagi: "Apakah sudah muncul Nabi Akhir zaman Nabi Al-Amin di Makkah itu?"
Mereka menjawab: "YA"
(dalam hati orang besar itu berkata: berarti sebentar lagi aku akan diijinkan keluar.)
Akhirnya lelaki seperti raksasa itu berkata: "Kalau begitu ceritakan kepadaku tentang Nabi Al-Amin itu,! Dan Apa yang dia buat?"
Mereka menjawab: "Dia telah berhijrah dari Makkah ke Madinah."
Orang besar itu bertanya lagi: "Apakah dia diperangi oleh orang-orang Arab?"
Mereka menjawab: "YA, Mereka memeranginya."
Orang itu bertanya lagi: "Kalau begitu apa pula tindakan dia terhadap mereka?"
Mereka menjawab: "Rasulullah SAW telah mengembangkan dakwahnya dan sudah ramai pengikutnya.
Orang besar itu berkata lagi: "Memang begitulah, padahal mereka akan beruntung jika taat kepadanya. Sekarang aku terangkan kepadamu, bahwa aku adalah Al-Masih Dajjal. Nanti aku akan diberi izin keluar, lalu aku pun akan menjelajahi dunia ini. Dalam masa empat puluh malam sudah dapat aku jelajahi semua, kecuali Makkah dan Madinah yg aku tidak dapat memasukinya. Karena Negeri Makkah & Madinah dikawal oleh para Malaikat. Maka aku tidak dapat menembusnya."

Rasulullah brcerita lagi kepada seluruh jama'ah masjid, Rasulullah saw menekankan tongkatnya diatas mimbar sambil berkata: "Inilah negeri yang tidak dapat dimasukinya itu, yaitu Madinah. Saudara-saudara sekalian apakah sudah aku sampaikan cerita ini kepada kamu?"
Mereka menjawab: "Ya, sudah ya Rasulullah."
Rasulullah berkata lagi: memang seharusnya hadits Tamim itu lebih meyakinkan saya lagi. Ceritanya itu bersesuaian dengan apa yang telah aku sampaikan kepada kamu sebelumnya. Yaitu Makkah dan Madinah yg dikatakan tidak dapat dimasuki Dajjal. Cuma dia ada mengatakan di lautan Syam atau di laut Yaman. Tidak, bahkan ia dari arah timur. Ia dari arah timur,: kata Rasulullah saw sambil menunjuk ke arah timur.
Rasulullah telah menguatkan Dajjal akan datang dari arah timur. Ada yang mengatakan bahwa Dajjal akan datang dari khurasan atau di Isfahan

"Wallahu A'lam Bish Showab"